Amr dalam Alquran

AMR DALAM ALQURAN

 

 

 

Makalah

Disampaikan dalam forum seminar kelas

Mata Kuliah PDPI I

 

Oleh :

Muh. Syahrir

NIM :

 

Dosen Pembimbing :

 

 

 

 

PROGRAM PASCASARJANA

UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

UMI-MAKASSAR

2008

AMR DALAM ALQURAN

Oleh: Muh. Syahrir

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Alquran adalah kalam Allah swt, yang merupakan mukjizat yang diturunkan (diwahyukan) kepada nabi Muhammad saw. dan ditulis di mushaf dan diriwayatkan dengan mutawatir serta membacanya adalah ibadah.[1]

Salah satu aspek kemu’jizatan Alquran adalah aspek bahasa yang khas tidak dapat ditiru, meskipun oleh ahli bahasa.[2] Dalam kaitannya dengan aspek bahasa Alquran, suatu kenyataan ketika seseorang yang beriman membaca Alquran atau mendengarkannya, tiba-tiba merasa tertarik tanpa mampu menjelaskan alasan ketertarikannya atau bertambah imannya, dan kepada Allah saja ia bertawakkal.[3]

Menurut W. Montgommary Watt, di antara krakteristik gaya bahasa Alquran mencakup; 1) irama dan bait, 2) bentuk didaktik, di antara bentuk didaktik gaya bahasa Alquran adalah tamsil.[4] Jika dikaitkan misi utama Alquran untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju kecemerlangan, maka Alquran telah memberi dan menunjukkan jalan untuk memperoleh kecemerlangan melalui perintah dengan menggunakan kalimat Amr. Oleh karena itu, penulis akan membahas dalam makalah ini tentang “Amr dalam Alquran”

B. Rumusan Masalah

Bertitik tolak dari latar belakang tersebut, penulis akan membahas dalam makalah ini tentang “Bagaimana bentuk kalimat amr dalam Alquran?”

 

II. PEMBAHASAN

A. Pengertian

Secara etimologi Amr berarti tuntutan perbuatan dari orang yang lebih tinggi tingkatannya kepada orang yang lebih rendah tingkatannya. Jadi, kalimat amr dalam Alquran menunjukkan tuntutan perbuatan oleh Allah swt., sebagai khalik kepada manusia sebagai makhluk-Nya. Allah swt., berfirman dalam QS Al A’raf (7) : 12:

مَا مَنَعَكَ أَلاَّ تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ
Terjemahnya:
…"Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?" ….[5]

Ayat tersebut bukan dimaksudkan bertanya (minta penjelasan tetapi menyatakan pencelaan terhadap Iblis, karena tidak mau sujud tanpa ha;angan, sesudah Iblis diperintahkan sujud sebagaimana yang diterangkan dalam QS Al Baqarah (2) ; 34 :
اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلاَّ إِبْلِيسَ
Terjemahnya:
…"Sujudlah kamu kepada Adam," maka sujudlah mereka kecuali Iblis; …

Bentuk amr dalam ayat tersebut yaitu perkataan usjudu (bersujudlah) dengan tidak disertai qarinah, menunjukkan kemestian (keharusan).

B.                                                                                                                                                                                Hal-hal  yang  merupakan  urusan Allah semata sehingga manusia tidak diperkenankan untuk mencampurinya 

Kata amr[6] dalam Al-Quran ada yang dinisbahkan kepada Tuhan  dan sekaligus menjadi urusan-Nya semata, sehingga tidak ada campur tangan manusia pada urusan tersebut, seperti misalnya:
 وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلاَّ قَلِيلاً
Terjemahnya:
Mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah "Ruh adalah urusan Tuhan-Ku" (QS Al-Isra' [17]: 85).

Ada juga amr yang dinisbahkan kepada manusia, misalnya  bentuk yang  ditujukan  kepada  orang  kedua seperti dalam QS Al-Kahf [18]: 16.
 وَإِذِ اعْتَزَلْتُمُوهُمْ وَمَا يَعْبُدُونَ إِلاَ اللَّهَ فَأْوُوا إِلَى الْكَهْفِ يَنْشُرْ لَكُمْ رَبُّكُمْ مِنْ رَحْمَتِهِ وَيُهَيِّئْ لَكُمْ مِنْ أَمْرِكُمْ مِرفَقًا
Terjemahnya:
Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu, dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusan kamu.

Atau ada juga yang dinisbahkan  kepada  orang  ketiga  seperti dalam  surat  Al-Syura  tentang musyawarah. 
 وَالَّذِينَ اسْتَجَابُوا لِرَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلاَةَ وَأَمْرُهُمْ شُورَى بَيْنَهُمْ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ
Terjemahnya:
Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka.

Sebagaimana ada juga kata "amr"  yang  tidak  dinisbahkan  itu yang   berbentuk   indefinitif,  sehingga  secara  umum  dapat dikatakan mencakup segala sesuatu, seperti dalam QS Al-Baqarah (2): 117.
 بَدِيعُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَإِذَا قَضَى أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ
Terjemahnya :
Apabila Dia (Allah) menetapkan sesuatu, Dia hanya berkata: "Jadilah", maka jadilah ia.

Sedangkan yang berbentuk definitif, maka  pengertiannya  dapat mencakup  semua hal ataupun hal-hal tertentu saja. Sebagaimana surat Al-Isra' ayat 85  yang  mengkhususkan  hal-hal  tertentu sebagai  urusan  Allah.[7]  Bahkan Al-Quran surat Ali 'Imran ayat 128 secara tegas menafikan pula  urusan-urusan  tertentu  dari wewenang Nabi Saw.,
لَيْسَ لَكَ مِنَ الْأَمْرِ شَيْءٌ أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ أَوْ يُعَذِّبَهُمْ فَإِنَّهُمْ ظَالِمُونَ 
Terjemahnya:
Tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka (itu), apakah Allah memaafkan mereka atau menyiksa mereka, karena sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berlaku aniaya.

Ayat ini turun berkaitan dengan ucapan Nabi Saw. ketika beliau dilukai oleh kaum musyrikin pada perang Uhud. "Bagaimana Allah akan mengampuni mereka, sedangkan mereka telah mengotori wajah Nabi  Saw. dengan darah"? Dari riwayat lain dikemukakan, bahwa ayat ini turun untuk menegur Nabi Saw. yang mengharapkan  agar Tuhan  menyiksa orang-orang tertentu dan memaafkan orang-orang 1ain.[8]
 Betapapun,  dari  ayat-ayat  Al-Quran,  tampak  jelas   adanya hal-hal  yang  merupakan  urusan Allah semata sehingga manusia tidak diperkenankan untuk mencampurinya, dan ada  juga  urusan yang dilimpahkan sepenuhnya kepada manusia.
Dalam   konteks  ketetapan  Allah  dan  ketetapan  Rasul  yang bersumber dari wahyu, Al-Quran menyatakan secara tegas:
 وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلاَ مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ 
Terjemahnya:
Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu'min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu'min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. 

As-Sunnah juga  menginformasikan  bahwa  sahabat-sahabat  Nabi Saw.  menyadari  benar  hal  tersebut,  sehingga  mereka tidak mengajukan saran terhadap hal-hal yang  telah  mereka  ketahui bersumber  dari  petunjuk  wahyu.  Umpamanya, ketika Nabi Saw. memilih   suatu   lokasi   untuk   pasukan   Islam   menjelang berkecamuknya  perang  Badar,  sahabat  beliau  Al-Khubbab bin Al-Munzir yang memiliki  pandangan  berbeda  tidak  mengajukan usulnya kecuali setelah bertanya:
 + "Apakah ini tempat yang ditujukan untuk engkau pilih, ataukah ini berdasarkan nalarmu, strategi perang, dan tipu muslihat?" tanya Al-Khubbab.
- "Tempat ini adalah pilihan berdasar nalar, strategi perang, dan tipu muslihat," jawab Nabi Saw.[9]
Mendengar jawaban  itu,  barulah  Al-Khubbab  mengajukan  usul untuk  memilih  lokasi  lain di dekat sumber air, dan kemudian disetujui oleh Nabi Saw. Demikian diriwayatkan oleh Al-Hakim.
Ketika terjadi perundingan Hudaibiyah, sebagian besar  sahabat Nabi  Saw.  terutama  Umar  bin  Khaththab,  amat  berat  hati menerima  rinciannya,  namun  semuanya  terdiam  ketika   Nabi bersabda. "Aku adalah Rasulullah Saw."[10]

C. Musyawarah sebagai Urusan yang dilimpahkan sepenuhnya kepada manusia
Dalam kaitannya dengan urusan yang dilimpahkan sepenuhnya kepada manusia. Sebagian  pakar tafsir membatasi masalah permusyawarahan hanya untuk yang berkaitan  dengan  urusan  dunia,  bukan  persoalan agama.  Pakar  yang  lain memperluas hingga membenarkan adanya musyawarah di samping untuk urusan dunia, juga untuk  sebagian masalah  keagamaan.  Alasannya, karena dengan adanya perubahan sosial, sebagian masalah keagamaan belum ditentukan penyelesaiannya di dalam Al-Quran maupun sunnah Nabi Saw.
Dari sini disimpulkan bahwa persoalan-persoalan yang telah ada petunjuknya dari Tuhan secara tegas dan jelas,  baik  langsung maupun  melalui Nabi-Nya, tidak dapat dimusyawarahkan, seperti misalnya tata cara beribadah. Musyawarah hanya dilakukan  pada hal-hal    yang    belum    ditentukan    petunjuknya,   serta persoalan-persoalan kehidupan duniawi, baik  yang  petunjuknya bersifat  global  maupun  tanpa  petunjuk  dan  yang mengalami perkembangan dan perubahan. 
Nabi bermusyawarah dalam hal-hal yang berkaitan dengan  urusan masyarakat  dan negara, seperti persoalan perang, ekonomi, dan sosial. Bahkan dari sejarah diperoleh informasi  bahwa  beliau pun  bermusyawarah  (meminta  saran  dan  pendapat)  di  dalam beberapa persoalan pribadi atau  keluarga.  Salah  satu  kasus keluarga   yang   beliau  musyawarahkan  adalah  kasus  fitnah terhadap  istri  beliau  Aisyah  r.a.  yang  digosipkan  telah menodai   kehormatan   rumah  tangga.  Ketika  gosip  tersebut menyebar, Rasulullah Saw. bertanya kepada sekian orang sahabat/keluarganya.[11]
Walhasil,  kita  dapat  menyimpulkan  bahwa  musyawarah  dapat dilakukan untuk segala masalah yang  belum  terdapat  petunjuk agama  secara jelas dan pasti, sekaligus yang berkaitan dengan kehidupan duniawi.
Hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan ukhrawi atau persoalan ibadah,   tidak   dapat   dimusyawarahkan.   Bagaimana   dapat dimusyawarahkan, sedangkan nalar dan pengalaman manusia  tidak dan belum sampai ke sana?

1. Bermusyawarah dengan siapa?
Persoalan  yang  dimusyawarahkan  barangkali  merupakan urusan pribadi, namun boleh jadi urusan masyarakat umum.  Dalam  ayat pertama  tentang  musyawarah  di atas, Nabi Saw. Diperintahkan bermusyawarah dengan "mereka". Mereka siapa? Tentu saja mereka yang  dipimpin  oleh  Nabi  Saw., yakni yang disebut umat atau anggota masyarakat.[12]
Sedangkan ayat yang lain menyatakan, Persoalan mereka dimusyawarahkan antar mereka (QS Syura [42]: 38).
 وَالَّذِينَ اسْتَجَابُوا لِرَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَمْرُهُمْ
Terjemahnya:
Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat antara mereka; 

Ini berarti yang dimusyawarahkan adalah persoalan yang  khusus berkaitan   dengan   masyarakat  sebagai  satu  unit.  Tetapi, sebagaimana  yang  dipraktekkan  oleh  Nabi  Saw.   dan   para sahabatnya,  tidak  tertutup  kemungkinan memperluas jangkauan pengertiannya sehingga  mencakup  persoalan  individu  sebagai anggota masyarakat.
Ayat-ayat  musyawarah  yang  dikutip  di atas tidak menetapkan sifat-sifat  mereka  yang  diajak  bermusyawarah,  tidak  juga jumlahnya. Namun demikian, dari As-Sunnah dan pandangan ulama, diperoleh informasi tentang sifat-sifat  umum  yang  hendaknya dimiliki  oleh  yang  diajak  bermusyawarah.  Satu dari sekian riwayat menyatakan bahwa Rasul  Saw.  pernah  berpesan  kepada Imam Ali bin Abi Thalib sebagai berikut: 
“Wahai Ali, jangan bermusyawarah dengan penakut, karena dia mempersempit jalan keluar. Jangan juga dengan yang kikir, karena dia menghambat engkau dari tujuanmu. Juga tidak dengan yang berambisi, karena dia akan memperindah untukmu keburukan sesuatu. Ketahuilah wahai Ali, bahwa takut, kikir, dan ambisi, merupakan bawaan yang sama, kesemuanya bermuara pada prasangka buruk terhadap Allah”.[13]
Imam Ja'far Ash-Shadiq pun berpesan, Bermuyawarahlah dalam persoalan-persoalanmu dengan seseorang yang memiliki lima hal: akal, lapang dada,      pengalaman, perhatian, dan takwa. [14]
Dalam konteks memusyawarahkan persoalan-persoalan  masyarakat, praktek  yang  dilakukan  Nabi  Saw.  cukup beragam. Terkadang beliau memilih orang tertentu yang dianggap cakap untuk bidang yang  dimusyawarahkan, terkadang juga melibatkan pemuka-pemuka masyarakat, bahkan menanyakan kepada semua  yang  terlibat  di dalam masalah yang dihadapi.
Sebagian  pakar tafsir membicarakan musyawarah dan orang-orang yang terlibat di dalamnya  ketika  mereka  menafsirkan  firman Allah dalam Al-Quran surat Al-Nisa'(4): 59: 

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ 
Terjemahnya:
Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-(Nya), dan ulil amr di antara kamu. 

Kemudian jika kamu berbeda pendapat mengenai suatu hal, kembalikanlah kepada (jiwa ajaran) Allah (Al-Quran) dan (jiwa ajaran) Rasul (sunnahnya). Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. 
Dalam ayat itu terdapat kalimat ulul amr,  yang  diperintahkan untuk ditaati. Kata amr di sini berkaitan dengan kata amr yang disebutkan dalam Al-Quran surat Al-Syura  ayat  38  (persoalan atau  urusan mereka, merekalah yang memusyawarahkan). Tentunya tidak  mudah  melibatkan  seluruh  anggota  masyarakat   dalam musyawarah  itu,  tetapi  keterlibatan mereka dapat diwujudkan melalui orang-orang tertentu yang mewakili mereka,  yang  oleh para  pakar  diberi  nama  berbeda-beda  sekali  Ahl Al-Hal wa Al-'Aqd, dikali lain  Ahl  Al-Ijtihad,  dan  kali  ketiga  Ahl Al-Syura.[15]
Dapat  disimpulkan  bahwa Ahl Al-Syura merupakan istilah umum, yang kepada mereka para penguasa  dapat  meminta  pertimbangan dan  saran. Jika demikian, tidak perlu ditetapkan secara rinci dan ketat sifat-sifat mereka, tergantung  pada  persoalan  apa yang sedang dimusyawarahkan.
Sebagian  pakar  kontemporer  memahami  istilah  Ahl Al-Hal wa Al-'Aqd sebagai orang-orang yang mempunyai pengaruh di tengah masyarakat, sehingga kecenderungan mereka kepada satu pendapat atau keputusan mereka dapat mengantarkan masyarakat  pada  hal yang sama.[16]
Muhammad  Abduh  memahami  Ahl Al-Hal wa Al-'Aqd sebagai orang yang  menjadi   rujukan   masyarakat   untuk   kebutuhan   dan kepentingan  umum mereka, yang mencakup pemimpin formal maupun non-formal, sipil maupun militer.[17]
Adapun Ahl Al-Ijtihad adalah kelompok ahli dan para  teknokrat dalam berbagai bidang dan disiplin ilmu. 

2. Syura dan Demokrasi
 Al-Quran   dan   Sunnah   menetapkan  beberapa  prinsip  pokok berkaitan  dengan   kehidupan   politik,   seperti   al-syura, keadilan,   tanggung   jawab,  kepastian  hukum,  jaminan  haq al-'ibad (hak-hak manusia),  dan  lain-lain,  yang  kesemuanya memiliki kaitan dengan syura atau demokrasi.  
Apabila  kita  bermaksud membandingkan syura dengan demokrasi, tentunya perlu juga dijelaskan  apa  yang  disebut  demokrasi.
Namun,  untuk tidak memasuki perincian tentang makna demokrasi yang beraneka ragam, dapat dikatakan  bahwa  manusia  mengenal tiga cara menetapkan keputusan yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat, yaitu: 
1. Keputusan yang ditetapkan oleh penguasa.
2. Keputusan yang ditetapkan berdasarkan pandangan minoritas.
3. Keputusan yang ditetapkan berdasarkan pandangan mayoritas, dan ini biasanya menjadi ciri umum demokrasi.[18]
Syura yang  diwajibkan  oleh  Islam  tidak  dapat  dibayangkan berwujud   seperti  bentuk  pertama,  karena  hal  itu  justru menjadikan syura lumpuh. Bentuk kedua pun tidak sesuai  dengan makna syura, sebab apakah keistimewaan pendapat minoritas yang mengalahkan pandangan mayoritas?[19]
Memang ada  sebagian  pakar  Islam  kontemporer  yang  menolak kewenangan mayoritas berdasar firman Allah: 
 قُلْ لَا يَسْتَوِي الْخَبِيثُ وَالطَّيِّبُ وَلَوْ أَعْجَبَكَ كَثْرَةُ الْخَبِيثِ فَاتَّقُوا اللَّهَ يَاأُولِي الْأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Terjemahnya:
Katakanlah: "Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan." (QS Al-Ma-idah [5]: 100).

Dan firman Allah:
 لَقَدْ جِئْنَاكُمْ بِالْحَقِّ وَلَكِنَّ أَكْثَرَكُمْ لِلْحَقِّ كَارِهُونَ
Terjemahnya:
Kebanyakan kamu tidak menyenangi kebenaran (QS Al-Zukhruf [43]: 78).
 Tetapi pandangan mereka sulit diterima, karena  ayat-ayat  itu bukan  berbicara  dalam  konteks  musyawarah  melainkan  dalam konteks petunjuk Ilahi yang diberikan  kepada  para  Nabi  dan ditolak  oleh sebagian besar anggota masyarakatnya ketika itu.[20] 
Ayat-ayat tersebut berbicara tentang sikap  masyarakat  Makkah ketika itu, serta umat manusia dalam kenyataannya dewasa ini.
Namun  demikian,  walaupun  syura  di  dalam Islam membenarkan keputusan pendapat mayoritas, tetapi menurut  sementara  pakar ia  tidaklah  mutlak.  Demikian  Dr. Ahmad Kamal Abu Al-Majad, seorang pakar Muslim Mesir kontemporer dalam bukunya Hiwar  la Muwayahah (Dialog Bukanlah Konfrontasi). Sebagaimana dikutip Quraisy Shihab, agaknya yang dimaksud adalah bahwa keputusan  janganlah  langsung  diambil  berdasar pandangan   mayoritas   setelah   melakukan  sekali  dua  kali musyawarah, tetapi  hendaknya  berulang-ulang  hingga  dicapai kesepakatan.[21]
Ini  karena  syura  dilaksanakan oleh orang-orang pilihan yang memiliki sifat-sifat terpuji serta tidak memiliki  kepentingan pribadi   atau  golongan,  dan  dilaksanakan  sewajarnya  agar disepakati bersama. Sekalipun ada di antara mereka yang  tidak menerima   keputusan,   itu   dapat  menjadi  indikasi  adanya sisi-sisi yang kurang berkenan di hati dan pikiran orang-orang pilihan   walaupun  mereka  minoritas,  sehingga  masih  perlu dibicarakan  lebih  lanjut  agar   mencapai   mufakat   (untuk menemukan "madu" atau yang terbaik).[22]
Ini merupakan salah satu perbedaan antara syura di dalam Islam dengan demokrasi secara umum.  
Memang, apabila pembicaraan berlarut tanpa menemukan  mufakat, dan  tidak ada jalan lain kecuali memilih pandangan mayoritas, saat itu dapat dikatakan bahwa kedua  pandangan  masing-masing baik,  tetapi yang satu jauh lebih baik. Di dalam kaidah agama diajarkan apabila terdapat dua pilihan  yang  sama-sama  baik, pilihlah  yang  lebih  banyak  sisi baiknya, dan jika keduanya buruk, pilihlah yang paling sedikit keburukannya.

III. KESIMPULAN
 
Kata amr dalam Al-Quran ada yang dinisbahkan kepada Tuhan  dan sekaligus menjadi urusan-Nya semata, sehingga tidak ada campur tangan manusia pada urusan tersebut, seperti masalah roh sepenuhnya urusan Allah swt. Ada juga amr yang dinisbahkan kepada manusia, misalnya  bentuk yang  ditujukan  kepada  orang  kedua seperti rahmat Allah diberikan kepada seluruh manusia. Atau ada juga yang dinisbahkan  kepada  orang  ketiga  seperti dalam  surat  Al-Syura  tentang musyawarah. Sebagaimana ada juga kata "amr"  yang  tidak  dinisbahkan  itu yang   berbentuk   indefinitif,  sehingga  secara  umum  dapat dikatakan mencakup segala sesuatu. Sedangkan yang berbentuk definitif, maka  pengertiannya  dapat mencakup  semua hal ataupun hal-hal tertentu saja. Sebagaimana surat Al-Isra' ayat 85  yang  mengkhususkan  hal-hal  tertentu sebagai  urusan  Allah.  Bahkan Al-Quran surat Ali 'Imran ayat 128 secara tegas menafikan pula  urusan-urusan  tertentu  dari wewenang Nabi Saw.,

DAFTAR PUSTAKA
 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s