Keberagaman Manusia Menurut Pandangan Filsafat Ilmu Pengetahuan

KEBERAGAMAN MANUSIA MENURUT PANDANGAN

FILSAFAT ILMU PENGETAHUAN

Makalah

Tugas Individu dalam Mata Kuliah Filsafat Ilmu Pengetahuan

Oleh :

Muh. Syahrir

NIM :

Dosen Pembimbing :

Prof. Dr. SUPARLAN SUHARTONO M.Ed. P.hd

PROGRAM PASCASARJANA

UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

UMI-MAKASSAR

2009

Keberagaman Manusia Menurut Pandangan

Filsafat Ilmu Pengetahuan

Oleh: Muh.  Syahrir

I. PENDAHULUAN

Secara umum perkembangan pemikiran manusia melalui tiga fase/tahap yang oleh Comte disebut dengan hukum tiga tahap yakni jenjang theology, jenjang fisika, dan jenjang posotif. Pada tahap awal, masyarakat manusia masih terikat pada hal-hal yang bersifat adikodrati yang mengacu pada kekuatan-kekuatan roh atau dewa. Penelitian terhadap gejala-gejala alam belum diperkenankan. Tahap berikutnya mulai mengarah kepada hal-hal yang bersifat metafisir dan menggeser kekuatan dewa atau roh kepada kekuatan alam. Pada tahap ini kekuatan  imajinatif masih mewarnai, namun sudah mengarah  kepada memperhatikan gejala-gejala alam. Pada jenjang tertinggi manusia sebagai masyarakat mulai mengacu pada gejala alam yang bersifat ilmiah yang didasarkan pada hukum-hukum ilmiah. Pada tahap ini, imaginasi sudah digeser oleh kekuatan ilmu pengetahuan dan konsep-konsep teoritis.

II. PEMBAHASAN

1. Keberagaman Manusia

Kemampuan manusia untuk menggunakan akal dalam memahami lingkungannya merupakan potensi dasar yang memungkinkan manusia Berfikir, dengan Berfikir manusia menjadi mampu melakukan perubahan dalam dirinya, dan memang sebagian besar perubahan dalam diri manusia merupakan akibat dari aktivitas Berfikir, oleh karena itu sangat wajar apabila Berfikir merupakan konsep kunci dalam setiap diskursus mengenai kedudukan manusia di muka bumi, ini berarti bahwa tanpa Berfikir, kemanusiaan manusia pun tidak punya makna bahkan mungkin tak akan pernah ada.

Berfikir juga memberi kemungkinan manusia untuk memperoleh pengetahuan, dalam tahapan selanjutnya pengetahuan itu dapat menjadi fondasi penting bagi kegiatan berfikir yang lebih mendalam. Semua ini dimaksudkan agar manusia dapat berubah dari tidak tahu menjadi tahu, dengan tahu dia berbuat, dengan berbuat dia beramal bagi kehidupan. semua ini pendasarannya adalah penggunaan akal melalui kegiatan berfikir. Dengan berfikir manusia mampu mengolah pengetahuan, dengan pengolahan tersebut, pemikiran manusia menjadi makin mendalam dan makin bermakna, dengan pengetahuan manusia mengajarkan, dengan berpikir manusia mengembangkan, dan dengan mengamalkan serta mengaplikasikannya manusia mampu melakukan perubahan dan peningkatan ke arah kehidupan yang lebih baik, semua itu telah membawa kemajuan yang besar dalam berbagai bidang kehidupan manusia (sudut pandang positif/normatif).

Dengan demikian kemampuan untuk berubah dan perubahan yang terjadi pada manusia merupakan makna pokok yang terkandung dalam kegiatan Berfikir dan berpengetahuan. Disebabkan kemampuan Berfikirlah, maka manusia dapat berkembang lebih jauh dibanding makhluk lainnya, sehingga dapat terbebas dari kemandegan fungsi kekhalifahan di muka bumi, bahkan dengan Berfikir manusia mampu mengeksplorasi, memilih dan menetapkan keputusan-keputusan penting untuk kehidupannya.

Pernyataan di atas pada dasarnya menggambarkan keagungan manusia berkaitan dengan karakteristik eksistensial manusia sebagai upaya memaknai kehidupannya dan sebagai bagian dari Alam ini. Dalam konteks perbandingan dengan bagian-bagian alam lainnya, para akhli telah banyak mengkaji perbedaan antara manusia dengan makhluk-makhluk lainnya terutama dengan makhluk yang agak dekat dengan manusia yaitu hewan. Secara umum komparasi manusia dengan hewan dapat dilihat dari sudut pandang Naturalis/biologis dan sudut pandang sosiopsikologis. Secara biologis pada dasarnya manusia tidak banyak berbeda dengan hewan, bahkan Ernst Haeckel (1834 – 1919) mengemukakan bahwa manusia dalam segala hal sungguh-sungguh adalah binatang beruas tulang belakang, yakni binatang menyusui, demimikian juga Lamettrie (1709 – 1751) menyatakan bahwa tidaklah terdapat perbedaan antara binatang dan manusia dan karenanya bahwa manusia itu adalah suatu mesin.

Kalau manusia itu sama dengan hewan, tapi kenapa manusia bisa bermasyarakat dan berperadaban yang tidak bisa dilakukan oleh hewan ?, pertanyaan ini telah melahirkan berbagai pemaknaan tentang manusia, seperti manusia adalah makhluk yang bermasyarakat (Sosiologis), manusia adalah makhluk yang berbudaya (Antropologis), manusia adalah hewan yang ketawa, sadar diri, dan merasa malu (Psikologis), semua itu kalau dicermati tidak lain karena manusia adalah hewan yang berfikir/bernalar (the animal that reason) atau Homo Sapien.

Dengan memahami uraian di atas, nampak bahwa ada sudut pandang yang cenderung merendahkan manusia, dan ada yang mengagungkannya, semua sudut pandang tersebut memang diperlukan untuk menjaga keseimbangan memaknai manusia. Blaise Pascal (1623 – 1662) menyatakan bahwa adalah berbahaya bila kita menunjukan manusia sebagai makhluk yang mempunyai sifat-sifat binatang dengan tidak menunjukan kebesaran manusia sebagai manusia. Sebaliknya adalah bahaya untuk menunjukan manusia sebagai makhluk yang besar dengan tidak menunjukan kerendahan, dan lebih berbahaya lagi bila kita tidak menunjukan sudut kebesaran dan kelemahannya sama sekali (Rasjidi. 1970 : 8). Guna memahami lebih jauh siapa itu manusia, berikut ini akan dikemukakan beberapa definisi yang dikemukakan oleh para akhli :

• Plato (427 – 348). Dalam pandangan Plato manusia dilihat secara dualistik yaitu unsur jasad dan unsur jiwa, jasad akan musnah sedangkan jiwa tidak, jiwa mempunyai tiga fungsi (kekuatan) yaitu logystikon (berfikir/rasional, thymoeides (Keberanian), dan epithymetikon (Keinginan)

• Aristoteles (384 – 322 SM). Manusia itu adalah hewan yang berakal sehat, yang mengeluarkan pendapatnya, yang berbicara berdasarkan akal fikirannya. Manusia itu adalah hewan yang berpolitik (Zoon Politicon/Political Animal), hewan yang membangun masyarakat di atas famili-famili menjadi pengelompokan impersonal dari pada kampung dan negara.

• Ibnu Sina (980 -1037 M). manusia adalah makhluk yang mempunyai kesanggupan : 1) makan, 2) tumbuh, 3) ber-kembang biak, 4) pengamatan hal-hal yang istimewa, 5) pergerakan di bawah kekuasaan, 6) ketahuan (pengetahuan tentang) hal-hal yang umum, dan 7) kehendak bebas. Menurut dia, tumbuhan hanya mempunyai kesanggupan 1, 2, dan 3, serta hewan mempunyai kesanggupan 1, 2, 3, 4, dan 5.

• Ibnu Khaldun (1332 – 1406). Manusia adalah hewan dengan kesanggupan berpikir, kesanggupan ini merupakan sumber dari kesempurnaan dan puncak dari segala kemulyaan dan ketinggian di atas makhluk-makhluk lain.

• Ibnu Miskawaih. Menyatakan bahwa manusia adalah makhluk yang mempunyai kekuatan-kekuatan yaitu : 1) Al Quwwatul Aqliyah (kekuatan berfikir/akal), 2) Al Quwwatul Godhbiyyah (Marah, 3) Al Quwwatu Syahwiyah (sahwat).
• Harold H. Titus menyatakan : Man is an animal organism, it is true but he is able to study himself as organism and to compare and interpret living forms and to inquire about the meaning of human existence. Selanjutnya Dia menyebutkan beberapa faktor yang berkaitan (menjadi karakteristik ) dengan manusia sebagai pribadi yaitu :

1. Self conscioueness

2. Reflective thinking, abstract thought, or the power of generalization

3. Ethical discrimination and the power of choice

4. Aesthetic appreciation

5. Worship and faith in a higher power

6. Creativity of a new order

• William E. Hocking menyatakan : Man can be defined as the animal who thinks in term of totalities.

• C.E.M. Joad. Menyatakan : every thing and every creature in the world except man acts as it must, or act as it pleased, man alone act on occasion as he ought

• R.F. Beerling. Menyatakan bahwa manusia itu tukang bertanya.

Dari uraian dan berbagai definisi tersebut di atas dapatlah ditarik beberapa kesimpulan tentang siapa itu manusia yaitu :

1. Secara fisikal, manusia sejenis hewan juga

2. Manusia punya kemampuan untuk bertanya

3. Manusia punya kemampuan untuk berpengetahuan

4. Manusia punya kemauan bebas

5. Manusia bisa berprilaku sesuai norma (bermoral)

6. Manusia adalah makhluk yang bermasyarakat dan berbudaya

7. Manusia punya kemampuan berfikir reflektif dalam totalitas dengan sadar diri

8. Manusia adalah makhluk yang punya kemampuan untuk percaya pada Tuhan

Dengan demikian nampaknya terdapat perbedaan sekaligus persamaan antara manusia dengan makhluk lain khususnya hewan, secara fisikal/biologis perbedaan manusia dengan hewan lebih bersifat gradual dan tidak prinsipil, sedangkan dalam aspek kemampuan berfikir, bermasyarakat dan berbudaya, serta bertuhan perbedaannya sangat asasi/prinsipil, ini berarti jika manusia dalam kehidupannya hanya bekutat dalam urusan-urusan fisik biologis seperti makan, minum, beristirahat, maka kedudukannya tidaklah jauh berbeda dengan hewan, satu-satunya yang bisa mengangkat manusia lebih tinggi adalah penggunaan akal untuk berfikir dan berpengetahuan serta mengaplikasikan pengetahuannya bagi kepentingan kehidupan sehingga berkembanglah masyarakat beradab dan berbudaya, disamping itu kemampuan tersebut telah mendorong manusia untuk berfikir tentang sesuatu yang melebihi pengalamannya seperti keyakinan pada Tuhan yang merupakan inti dari seluruh ajaran Agama. Oleh karena itu carilah ilmu dan berfikirlah terus agar posisi kita sebagai manusia menjadi semakin jauh dari posisi hewan dalam konstelasi kehidupan di alam ini. Meskipun demikian penggambaran di atas harus dipandang sebagai suatu pendekatan saja dalam memberi makna manusia, sebab manusia itu sendiri merupakan makhluk yang sangat multi dimensi, sehingga gambaran yang seutuhnya akan terus menjadi perhatian dan kajian yang menarik, untuk itu tidak berlebihan apabila Louis Leahy berpendapat bahwa manusia itu sebagai makhluk paradoksal dan sebuah misteri, hal ini menunjukan betapa kompleks nya memaknai manusia dengan seluruh dimensinya.

2. Hakikat Filsafat

Hakikat filsafat itu berpangkal pada pemikiran keseluruhan sarwa sekalian secara radikal dan menurut sistem.

a. Maka keseluruhan sarwa sekalian itu ada. Ia adalah pokok dari yang dipikirkan orang dalam filsafat.

b. Ada pula pemikiran itu sendiri yang terdapat dalam filsafat sebagai alat untuk memikirkan pokoknya.

c. Pemikiran semacam itu pun adalah bagian daripada Keseluruhan, jadi dua kali dia terdapat dalam filsafat, sebagai alat dan sebagai bahagian keseluruhan sarwa sekalian.

Dalam sejarah umat manusia kita melihat bahwa tiga pertanyaan tadi itu sering dijawab dalam agama atau keyakinan agama yang dianut oleh manusa itu. Tetapi di lain pihak tidaklah jarang (ilmu) filsafat berusaha unuk menjawab persoalan-persoalan pokok itu.

Oleh karena manusia mempunyai fikiran atau akal yang aktif, maka ia mempunyai kecenderungan hendak berfikir tentang segala sesuatu dalam alam semesta, terhadap segala yang ada, dan yang mungkin ada. Obyek sebagai tersebut di atas itu adalah menjadi obyek materia filsafat. Jadi jelas bagi kita bahwa :

1. Obyek materia filsafat ialah sarwa yang ada, yang pada garis besarnya dapat kita bagi atas tiga persoalan pokok :

a. hakikat Tuhan; b. hakikat alam; dan c. hakikat manusia.

2. Obyek forma filsafat ialah usaha mencari keterangan secara radikal (sedalam-dalamnya, sampai ke akarnya) tentang obyek materia filsafata (sarwa yang ada).

Jadi dapatlah dipahami bahwa apa yang dimaksud dengan obyek adalah sasaran pokok atau tujuan penyelidikan keilmuan. Pembicaraan megenai obyek, dikenal ada dua jenis yaitu obyek materi (material object) dan obyek forma (formal object).

Obyek materi adalah sasaran pokok penyelidikan atau berupa materi atau materi yang dihadirkan dalam suatu pemikitan atau penelitian. Sedangkan yang terkandung di dalamnya bisa saja berupa benda-benda material dan ataupun benda-benda yang non-material. Bisa juga berupa hal-hal, masalah-masalah, ide-ide, konsep-konsep, dan sebagainya. Jadi tidak terbatas pada apakah ada di dalam realitas konkret ataukah di dalam realitas abstrak.

Suatu obyek materi, baik yang material dan lebih-lebih yang non-material sebenarnya merupakan suatu substansi yang tidak begitu mudah untuk diketahui. karena di dalamnya terkandung segi-segi yang secara kuantitatif berganda (plural), berjenis-jenis, dan secara kualitatif bertingkat-tingkat dari yang konkret sampai ke tingkat abstrak. Lihatlah pada contoh ‘manusia’, sebagai obyek materi, secara kuantitatif meliputi banyak jenis menurut ras, suku, bangsa, kelamin dan sebagainya. Secara kualitatif, meliputi, kepribadian, dan individualitasnya yang selanjutnya menjadi kompleks dalam sikap dan perilaku hidupnya.

Dengan demikian, obyek materi memiliki segi yang jumlahnya tak terhitung. Oleh sebab itu, dalam rangka memperoleh pengetahuan yang benar dan pasti mengenai suatu obyek, dengan mempertimbangkan keterbatasan kemampuan akal pikiran manusa, maka perlu dilakukan pembatasan-pembatasan. Pembatasan ini dilakukan dengan menentukan pertama kali jenis obyek (manusia, benda-benda, dsb.), dan selanjutnya titik pandang (menurut segi mana obyek materi itu diselidiki). Penentuan akan jenis obyek itulah yang lalu menjadi obyek materi tertentu dan penentuan titik pandang itu kemudian menajadi obyek forma menurut sudut tertentu dari obyek materi.

Selanjutnya deskripsi tentang obyek forma inilah yang kemudian akan menjelaskan pentingnya arti, posisi dan fungsi obyek di dalam ilmu pengetahuan. Dengan penentuan suatu obyek forma, maka kajian ilmu pengetahuan mengenai obyek materinya menjadi berjenis, bersifat dan berbentuk khusus, jelas dan konkret (real). Lalu muncul berbagai macam ilmu pengetahuan khusus manusia, seperti psikologi, biologi, antropologi, sosiologi, theology dan sebagainya. Akibatnya, pengetahuan tentang manusia yang tadinya umum universal (filosofis) lalu menjadi khusus, rinci, jelas, pasti, real dan konkret.

Hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa karena obyek materi bagi beberapa ilmu pengetahuan boleh jadi sama, dan dengan demikian pasti terjadi titik persinggungan (overlapping) antara sati dengan lainnya. Jika persinggungan antara ilmu pengetahuan yang satui dengan yang lain terlalu rapat, maka pasti akan terjadi kesimpangsiuran yang menjadi tidak jelas pengkategorian bidang studi. Tetapi, jika titik persinggungannya terlalu longgar, maka pasti terjadi pemisahan. Dalam obyek materi yang sama, persinggungan ini mutlak perlu untuk menentukan batas-batas hubungan. Karena dengan penentuan batas-batasnya, maka terbentuk sistem interdipliner, sehingga tujuan final penyelidikan berupa kebenaran obyektif dapat dimungkinkan pencapaiannya. Ingatlah bahwa terhadap suatu obyek materi yang sama, setiap ilmu pengetahuan terkandung di dalamnya memiliki tanggungjawab etis yang konsekuensi dan konsistensi terhadap tujuan pokok. Tetapi jika titik persinggungan bersifat loggar, dan memisahkan, maka tidak terbentuk sistem interdisipliner, sehingga akibatnya hanya dapat mencapai kebenaran relatif yang terbatas menurut lingkupan obyek forma tertentu.

Oleh sebab itu, dapat dipahami bahwa menurut obyek formanya ilmu pengetahuan itu justru cenderung berbeda-beda dan berjenis-jenis, bentuk dan sifatnya. Ada yang karena kajian materinya berupa hal-hal yang fisis kebendaan dan ditinjau dari segi-segi pandang (view point) yang kuantitatif, maka lalu tergolong ke dalam Ilmu Pengetahuan Fisika atau yang sering dikenal sebagai Ilmu Pengetahuan Alam. Ada pula yang kajian materinya berupa hal-hal yang non-fisis, seperti manusia dan masyarakatnya yanhg tinjauannya dari segi-segi yang lebih kuantitatif, maka ada yang tergolong ke dalam Ilmu Pengetahuan Manusia dan Kebudayaan dan ada yang tergolong ke dalam Ilmu Pengetahuan Sosial. Bahkan ada yang secara khusus mengangkat obyek materi Agama (hal ikhwal tentang ketuhanan), maka bidang ini tergolong ke dalam Ilmu Pengetahuan Keagamaan atau Theologia.

Akhirnya dapatlah disimpulkan dan dinilai bahwa obyek forma (point of view) mempunyai kedudukan dan peranan yang mutlak menentukan suatu pengetahuan menjadi ilmu pengetahuan. Selanjutnya, menentukan jenis ilmu pengetahuan yang tergolong bidang studi apa, dan sifat ilmu pengetahuan yang tergolong kuantitatif ataukah kualitatif. Hal ini berarti bahwa dengan obyek forma, maka kecuali tujuan, ruang lingkup atau sering disebut ‘scope’ ilmu pengetahuan secara otomatis ditentukan pula.

3. Ilmu Pengetahuan

Berfikir mensyaratkan adanya pengetahuan (Knowledge) atau sesuatu yang diketahui agar pencapaian pengetahuan baru lainnya dapat berproses dengan benar, sekarang apa yang dimaksud dengan pengetahuan ?, menurut Langeveld pengetahuan ialah kesatuan subjek yang mengetahui dan objek yang diketahui, di tempat lain dia mengemukakan bahwa pengetahuan merupakan kesatuan subjek yang mengetahui dengan objek yang diketahui, suatu kesatuan dalam mana objek itu dipandang oleh subjek sebagai dikenalinya. Dengan demikian pengetahuan selalu berkaitan dengan objek yang diketahui, sedangkan Feibleman menyebutnya hubungan subjek dan objek (Knowledge : relation between object and subject). Subjek adalah individu yang punya kemampuan mengetahui (berakal) dan objek adalah benda-benda atau hal-hal yang ingin diketahui. Individu (manusia) merupakan suatu realitas dan benda-benda merupakan realitas yang lain, hubungan keduanya merupakan proses untuk mengetahui dan bila bersatu jadilah pengetahuan bagi manusia. Di sini terlihat bahwa subjek mesti berpartisipasi aktif dalam proses penyatuan sedang objek pun harus berpartisipasi dalam keadaannya, subjek merupakan suatu realitas demikian juga objek, ke dua realitas ini berproses dalam suatu interaksi partisipatif, tanpa semua ini mustahil pengetahuan terjadi, hal ini sejalan dengan pendapat Max Scheler yang menyatakan bahwa pengetahuan sebagai partisipasi oleh suatu realita dalam suatu realita yang lain, tetapi tanpa modifikasi-modifikasi dalam kualitas yang lain itu. Sebaliknya subjek yang mengetahui itu dipengaruhi oleh objek yang diketahuinya.
Pengetahuan pada hakikatnya merupakan segenap apa yang diketahui tentang objek tertentu, termasuk ke dalamnya ilmu (Jujun S Suriasumantri,), Pengetahuan tentang objek selalu melibatkan dua unsur yakni unsur representasi tetap dan tak terlukiskan serta unsur penapsiran konsep yang menunjukan respon pemikiran. Unsur konsep disebut unsur formal sedang unsur tetap adalah unsur material atau isi (Maurice Mandelbaum). Interaksi antara objek dengan subjek yang menafsirkan, menjadikan pemahaman subjek (manusia) atas objek menjadi jelas, terarah dan sistimatis sehingga dapat membantu memecahkan berbagai masalah yang dihadapi. Pengetahuan tumbuh sejalan dengan bertambahnya pengalaman, untuk itu diperlukan informasi yang bermakna guna menggali pemikiran untuk menghadapi realitas dunia dimana seorang itu hidup (Harold H Titus).

III. KESIMPULAN

Keberagaman manusia menurut pandangan filsafat ilmu pengetahuan, bahwa  kemampuan berfikir, bermasyarakat dan berbudaya, serta bertuhan, ini berarti satu-satunya yang bisa mengangkat manusia lebih tinggi adalah penggunaan akal untuk berfikir dan berpengetahuan serta mengaplikasikan pengetahuannya bagi kepentingan kehidupan sehingga berkembanglah masyarakat beradab dan berbudaya, disamping itu kemampuan tersebut telah mendorong manusia untuk berfikir tentang sesuatu yang melebihi pengalamannya seperti keyakinan pada Tuhan yang merupakan inti dari seluruh ajaran Agama.

DAFTAR PUSTAKA

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s