Efektifitas penggunaan media gambar dalam meningkatkan keaktifan siswa kelas III pada pembelajaran IPS sekolah dasar negeri 176 Duampanua Kabupaten Pinrang

1
PROPOSAL PENELITIAN
A. Judul Penelitian      : Efektifitas penggunaan media gambar dalam meningkatkan
keaktifan siswa kelas III pada pembelajaran IPS sekolah
dasar
negeri 176 Duampanua Kabupaten  Pinrang
B. Bidang kajian  : Pembelajaran IPS di kelas III dengan menggunakan media
gambar denah
C. Pendahuluan
1. Latar Belakang Masalah
Pembelajaran IPS di Sekolah Dasar mempunyai kedudukan yang sangat
penting dalam upaya  mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Tujuan pembelajaran
IPS di sekolah dasar agar peserta didik memiliki Kemampuan yaitu :
1) mewujudkan persatuan bangsa berdasarkan pancasila UUD
1945 2) membiasakan untuk mematuhi norma, menegakkan
hukum  menjalankan   persatuan, 3) berpartisipasi dalam
mewujudkan masyarakat dan pemerintah yang demogratis,
menjunjung tinggi, melaksanakan dan menghargai hak asasi
manusia. (Depdiknas, 2006 )
Untuk dapat melaksanakan pembelajaran IPS dengan baik pada jenjang
pendidikan SD,  diperlukan guru yang terampil merancang dan mengelola proses
pembelajaran seperti tercermin dalam pelaksanaan kurikulum tingkat satuan
pendidikan (KTSP) 2006. Dalam pelaksanaan kurikulum tersebut guru hendaknya
dapat menggunakan strategi yang melibatkan siswa aktif dalam belajar baik secara
fisik, mental, maupun sosial.    2
Dari peryataan di atas dikatakan bahwa guru diharapakan dapat merancang
dan mengelola proses pembelajaran dengan menyajikan sebaik-baiknya dan mengatur
kondisi yang baik pula.
Selain itu  pendidikan mengarahkan siswa menjadi subyek yang memiliki
Kemampuan  dan daya serap yang tinggi, kreatif, mandiri dan  profesional. Dalam
kaitanya dengan pendidikan, Tiller (1997:1 ) mengemukakan bahwa :
Pendidikan nasional dewasa ini sedang dihadapkan pada
empat              krisis pokok, yang berkaitan dengan kuantitas,
relevansi atau efesiensi eksternal, elitisme, dan manajemen.
Lebih lanjut di kemukakan bahwa sedikitnya ada tujuh masalah
pokok  sistem  pendidikan nasional, (1) Menurunya akhlak dan
moral siswa, (2) Pemerataan kesempatan belajar, (3) Masih
rendahnya efesiensi internal  sistem  pendidikan, (5) Status
kelembagaan, (6) Manajemen pendidikan yang tidak sejalan
dengan pembagunan nasional, (7) Sumber daya yang belum
professional.
Menghadapi hal tersebut, perlu dilakukan penataan terhadap  sistem
pendidikan secara menyeluruh, Terutama berkaitan dengan kualitas pendidikan, Serta
relevansinya dengan kebutuhan masyarakat dan dunia kerja. Dalam hal ini,  Perlu
adanya perubahan  sosial  yang memberi arah bahwa pendidikan merupakan
pendekatan dasar dalam proses perubahan itu. Pendidikan adalah (Mulyassa, 2001:7)
kehidupan untuk kegiatan belajar harus dapat membekali siswa kecakapan hidup yang
sesuai dengan lingkungan kehidupan dan kebutuhan siswa.
Dengan demikian, setiap guru hendaknya secara propesional dan sudah
selayaknya menguasai pengololaan kelas, mampu mengatasi masalah belajar yang   3
dihadapi siswa, sehingga proses interaksi belajar-mengajar dapat berlangsung secara
efektif dan efesien serta berdaya guna. Olehnya itu seorang pendidik haruslah
memiliki pengetahuan yang tinggi, kerena pengetahuan akan menjadi landasan utama
segala aspek kehidupan.
Abad pengetahuan sangat berpengaruh terhadap pendidikan, Ilmu
pengetahuan dan teknologi, dan lapangan kerja. Pendidikan adalah salah satu hal yang
sangat penting untuk membekali siswa menghadapi masa depan. Untuk itu proses
pembelajaran yang bermakna sangat menentukan terwujudnya pendidikan yang
berkualitas. Siswa perlu mendapat bimbingan, dorongan, dan peluang yang memadai
untuk belajar dan mempelajari hal-hal yang akan diperlukan dalam kehidupannya.
Tuntutan masyarakat yang semakin besar terhadap pendidikan serta kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi, membuat pendidikan tidak mungkin lagi di kelola hanya
dengan melalui pola tradisional.
Selain tuntutan tersebut, masyarakat menginginkan kebutuhan akan informasi
dan komunikasi, Di mana informasi dan komunikasi sangat berpengaruh pada
kemajuan di bidang pendidikan. Revolusi ilmu pengetahuan dan teknologi, perubahan
masyarakat, pemahaman cara belajar anak, kemajuan media komunikasi dan lain
sebagainya memberi arah tersendiri bagi kegiatan pendidikan dan tuntutan ini pulalah
yang membuat kebijaksanaan untuk memanfaatkan media teknologi dalam
pengelolaan pendidikan.
Sebagai bagian dari kebudayaan, Pendidikan sebenarnya lebih memusatkan diri
pada proses belajar mengajar untuk membantu anak didik menggali, menemukan,   4
mempelajari, mengetahui, dan mengahayati nilai-nilai yang berguna, baik bagi diri
sendiri, masyarakat, dan Negara sebagai keseluruhan Sudarwan. (1995:3).
Selain itu pendidikan mempunyai peranan penting dalam mengembangkan
sumber daya manusia, supaya anak didik menjadi manusia yang berkualitas,
profesional, terampil, kreatif dan inovatif. Pemerintah Republik Indonesia telah
bertekad untuk memberikan kesempatan kepada seluruh warga negara Indonesia
untuk menikmati pendidikan yang bermutu, sebagai langkah utama meningkatkan
taraf hidup warga negara sebagai agen pembaharuan, pendidikan bertanggung jawab
dalam mengembangkan dan mewariskan nilai untuk dinikmati anak didik yang
selanjutnya nilai tersebut akan ditransfer dalam kehidupan sehari-hari.
Berdasarkan hasil observasi pada SDN 176 pada pembelajaran IPS di kelas III
Kec. Duampanua Kabupaten Pinrang, cenderung masih terpusat pada pembelajaran
IPS yang menggunakan metode ceramah dalam penyajian materinya. Karena menurut
guru,  metode ceramah merupakan metode yang paling mudah dilaksanakan oleh
setiap guru. Hal inilah yang menyebabkan banyak siswa menganggap proses
pembelajaran IPS itu adalah sesuatu yang membosankan, mononton, kurang
menyenangkan, terlalu banyak hafalan, kurang variatif dan berbagai keluhan lainnya.
Sebagaimana terdapat dalam Undang  –  Undang  No. 2 tahun 1989 tentang
Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 35 yang menyatakan Bahwa  “Setiap satuan
pendidikan jalur pendidikan sekolah, baik yang di selenggarakan oleh pemerintah
maupun masyarakat harus menyediakan sumber belajar”.
Jadi pendidikan tidak mungkin terselenggara dengan baik bilamana para
tenaga kependidikan maupun para peserta didik tidak didukung oleh sumber belajar   5
yang diperlukan untuk penyelenggaraan kegiatan belajar yang bersangkutan. Terlebih
lagi dalam pembelajaran IPS yang merupakan syntetic science, karena konsep,
generalisasi dan temuan-temuan penelitian ditentukan atau diobservasi setelah fakta
terjadi menuntut adanya suatu media pendidikan dan sumber pembelajaran yang bisa
meningkatkan interaksi dan motivasi belajar siswa.
Mengacu pada fenomena tersebut di atas, maka proses pembelajaran IPS guru
hendaknya menggunakan sebuah media yang dapat menunjang pembelajaran tersebut,
salah satu di antaranya dapat dilakukan guru dengan memanfaatkan media
pembelajaran.
Dimana media pembelajaran tersebut merupakan wahana dalam
menyampaikan informasi/pesan pembelajaran pada siswa.dengan adanya media pada
proses belajar-mengajar diharapkan dapat membantu guru dalam meningkatkan
pemahaman belajar siswa sehingga proses belajar mengajar dapat berlangsung dengan
baik. Olenya itu guru seharusya menghadirkan media dalam setiap proses
pembelajaran demi tercapainya tujuan yang hendak dicapai sesuai dengan pendapat
Hamalik (1994:12) yang menyatakan Bahwa “media pembelajaran adalah alat,
metode dan teknik yang  digunakan dalam rangka lebih mengefektifkan komunikasi
dan interaksi antara guru dan siswa dalam proses pembelajaran dikelasnya”.
Oleh karena itu penulis memilih judul penelitian dalam pembelajaran IPS
dengan menggunakan media gambar agar siswa lebih aktif dalam pembelajaran, yang
tidak merasa bosan dengan pembelajaran tersebut dengan menghadirkan media
gambar dalam pembelajaran IPS khususnya pada siswa kelas III Sekolah Dasar
Negeri 176 Duampanua Kabupaten Pinrang.    6
2.  Rumusan Masalah
Dari latar belakang masalah tersebut, penulis dapat merumuskan masalah
sebagai
berikut :
a. Bagaimana langkah-langkah dalam menggunakan media gambar denah
dalam
pembelajaran IPS pada kelas III  SDN 176 Duampanua Kabupaten Pinrang
b. Apakah dengan menggunakan media gambar denah dalam pembelajaran
IPS dapat
meningkatkan keaktifan siswa pada kelas III SDN 176 Duampanua
Kabupaten
Pinrang

3.  Pemecahan Masalah
Adapun pemecahan masalah pada penelitian ini adalah :
a. Menjelaskan langkah-langkah dalam penggunaan media gambar denah pada
pembelajaran IPS    kepada siswa kelas III SDN 176 Duampanua
Kab.Pinrang.
b.  Meningkatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran IPS dengan
menggunakan
media gambar denah pada kelas III SDN 176 Duampanua Kab.Pinrang.
4. Tujuan Penelitian    7
Adapun tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah :
1.  Untuk mengetahui langkah-langkah dalam menggunakan media gambar
denah
dalam  pembelajaran IPS pada kelas III SDN 176 Duampanua Kabupaten
Pinrang .
2.  Untuk mengetahui penggunaan media gambar denah dalam pembelajaran
IPS
dapat meningkatkan keaktifan siswa pada kelas III SDN 176 Duampanua
Kabupaten Pinrang.
5.  Manfaat penelitian
Dengan adanya hasil penelitian diharapkan memberikan konstribusi bagi
Sekolah, Guru-guru, dan peneliti
Konstribusi hasil penelitian ini dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Manfaat Teoritis
a. Bagi sekolah dan guru, Hasil penelitian ini diharapkan memberi
sumbangan bagi
sekolah dalam rangka perbaikan pembelajaran sehingga hasil belajar
siswa lebih
berkualitas.
b. Bagi  institut, Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi
untuk
meningkatkan kualitas mutu pendidikan.
8
c. Bagi peneliti, Hasil peneliti ini memberikan bekal wawasan dan
pengetahuan
bagi peneliti sebagai calon guru.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi guru dengan dilaksanakanya penelitian ini di harapkan guru dapat
mengetahui peningkatan kualitas siswa dalam pembelajaran IPS dengan
menggunakan media  gambar denah.
b. Sebagai bahan masukan kepada pengemban pendidikan mengenai
pemberdayaan media gambar denah dalam meningkatkan keaktifan siswa
sekolah dasar.
c. Diharapkan dari hasil penelitian ini memberikan andil tersendiri dalam
pengembangan  kasanah keilmuan khususya pada sekolah dasar.
D. Kajian Pustaka, Kerangka Pikir, dan Hipotesis Tindakan
1. Kajian Pustaka
a. Pengertian Media Gambar
Di antara media pembelajaran, media gambar adalah  di antara media
pembelajaran, media gambar adalah media yang paling umum dipakai. Hal ini
dikarenakan siswa lebih menyukai gambar daripada tulisan, apalagi jika gambarnya
dibuat dan disajikan sesuai dengan persyaratan gambar yang baik, sudah barang tentu
akan menambah semangat siswa dalam mengikuti proses pembelajaran. Di bawah ini
beberapa pengertian media gambar, diantaranya:
a. Media gambar adalah segala sesuatu yang diwujudkan secara
visual    9
kedalam  bentuk dua dimensi sebagai curahan ataupun pikiran
yang
bentuknya bermacam-macam seperti lukisan, potret, slide, film,
strip,
opaque projektor (Hamalik, 1994:95).
b. Media gambar adalah media yang paling umum dipakai, yang
merupakan bahasan umum yang dapat dimengerti dan dinikmati
dimana-mana (Sadiman, 1996:29).
c. Media gambar merupakan peniruan dari benda-benda dan
pemandangan
dalam hal bentuk, rupa, serta ukurannya relatif terhadap
lingkungan
(Soelarko, 1980:3).

Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa media gambar adalah
perwujudan lambang dari hasil peniruan-peniruan benda-benda, pemandangan,
curahan pikir atau ide-ide yang di visualisasikan kedalam bentuk dua dimensi.
Pemanfaatan media pembelajaran ada dalam komponen metode mengajar
sebagai salah satu upaya untuk mempertinggi proses interaksi guru-siswa dan
interaksi siswa dengan lingkungan belajarnya. Oleh sebab itu fungsi utama dari media
pembelajaran adalah sebagai alat bantu mengajar, yakni menunjang penggunaan
metode mengajar yang dipergunakan guru. Melalui penggunaan media pembelajaran
diharapkan dapat mempertinggi kualitas proses belajar-mengajar yang pada akhirnya
dapat mempengaruhi kualitas hasil belajar siswa.  Secara garis besar, fungsi
penggunaan media gambar adalah sebagai berikut :
a. Fungsi edukatif, yang artinya mendidik dan memberikan pengaruh
positif
pada pendidikan.
b. Fungsi sosial, memberikan informasi yang autentik dan pengalaman
berbagai bidang kehidupan dan memberikan konsep yang sama
kepada
setiap orang.
c. Fungsi ekonomis, meningkatkan produksi melalui pembinaan
prestasi kerja    10
secara maksimal.
d. Fungsi politis, berpengaruh pada politik pembangunan.
e. Fungsi seni budaya dan telekomunikasi, yang mendorong dan
menimbulkan
ciptaan baru, termasuk pola usaha penciptaan teknologi kemediaan
yang
modern (Hamalik, 1994:12).

Fungsi-fungsi tersebut di atas terkesan masih bersifat konseptual. Fungsi
praktis yang dijalankan oleh media pengajaran adalah  1.Mengatasi perbedaan
pengalaman pribadi peserta didik, misalnya kaset video rekaman kehidupan di laut
sangat diperlukan oleh anak yang tinggal di daerah pegunungan.2.Mengatasi batas
ruang dan kelas. Misalnya gambar tokoh pahlawan yang dipajang diruang kelas.
3.Mengatasi keterbatasan kemampuan indera.  4.Mengatasi peristiwa alam.Misalnya
rekaman peristiwa letusan gunung merapi untuk menerangkan gejala alam.
5.Menyederhanakan kompleksitas materi.  6.Memungkinkan siswa mengadakan
kontak langsung dengan masyarakat atau alam sekitar (Rohani, 1997:6-7).
Karakteristik Media Menurut Rahadi (2003:27-28) ada beberapa karakteristik
media gambar denah, sebagai berikut :
1. Harus autentik, artinya dapat menggambarkan obyek/peristiwa seperti jika
siswa melihat langsung.
2. Sederhana, komposisinya cukup jelas menunjukkan bagian-bagian pokok
dalam gambar tersebut.
3. Ukuran gambar proposional, sehingga siswa mudah membayangkan ukuran
sesungguhnya benda/obyek yang digambar.
4. Memadukan antara keindahan dengan kesesuaiannya untuk mencapai
tujuan
pembelajaran.
5. Gambar harus jelas

Tidak setiap gambar yang bagus merupakan media yang bagus. Sebagai media
yang baik, gambar hendaklah bagus dari sudut seni dan sesuai dengan tujuan   11
pembelajaran yang ingin dicapai. Atas dasar karakteristik tersebut maka media
gambar memiliki kelebihan dan kelemahan sebagai berikut :
Kelebihan media gambar adalah
a. Sifatnya konkrit dan lebih realistis dalam memunculkan pokok
masalah,
jika  dibandingkan dengan bahasa verbal.
b. Dapat mengatasi batasan ruang dan waktu.
c. Dapat mengatasi keterbatasan pengamatan kita.
d. Memperjelas masalah dalam bidang apa saja dan untuk semua orang
tanpa
memandang  umur  sehingga dapat mencegah atau membetulkan
kesalah
pahaman.
e.  Harganya murah dan mudah didapat serta digunakan (Sadiman,
1996:31).

kelemahan media gambar adalah
a. Hanya menampilkan persepsi indera mata, ukurannya terbatas
hanya
dapat terlihat oleh sekelompok siswa
b. Gambar di intepretasikan secara personal dan subyektif.
c. Gambar disajikan dalam ukuran yang sangat kecil, sehingga
kurang
efektif dalam pembelajaran (Rahadi, 2003:27)

Keefektifan media gambar dalam pembelajaran ini pengajaran sebagai upaya
terencana dalam membina pengetahuan sikap dan keterampilan para siswa melalui
interaksi siswa dengan lingkungan belajar yang diatur guru pada hakikatnya
mempelajari lambang-lambang verbal dan visual, agar diperoleh makna yang
terkandung didalamnya. Lambang-lambang tersebut dicerna, disimak oleh para siswa
sebagai penerima pesan yang disampaikan guru. Oleh karena itu pengajaran dikatakan
efektif apabila siswa dapat memahami makna yang dipesankan oleh guru sebagai
lingkungan belajarnya. Pesan visual yang paling sederhana, praktis, mudah dibuat dan   12
banyak diminati siswa pada jenjang pendidikan dasar adalah gambar. Disamping itu
daya tarik gambar sebagai media pengajaran bergantung kepada usia para siswa.
Siswa kelas III lebih menyenangi gambar-gambar yang sederhana dan bersifat
realistis seperti gambar-gambar naturalis dari pada siswa kelas IV.
Menurut Sudjana (200:12) tentang bagaimana siswa belajar melalui gambar
gambar
adalah sebagai berikut :
a)  Ilustrasi gambar merupakan perangkat pengajaran yang dapat
menarik minat belajar siswa secara efektif.  b)  Ilustrasi gambar
merupakan perangkat tingkat abstrak yang dapat ditafsirkan
berdasarkan pengalaman dimasa lalu, melalui penafsiran kata-
kata.  c)  Ilustrasi gambar membantu para siswa membaca buku
pelajaran terutama dalam menafsirkan dan mengingat-ingat isi
materi teks yang menyertainya.  d)  Dalam  booklet, pada
umumnya anak-anak lebih menyukai setengah atau satu halaman
penuh bergambar, disertai beberapa petunjuk yang jelas.  e)
Ilustrasi gambar isinya harus dikaitkan dengan kehidupan nyata,
agar minat para siswa menjadi efektif. f) Ilustrasi gambar isinya
hendaknya ditata sedemikian rupa sehingga tidak bertentangan
dengan gerakan mata pengamat, dan bagian-bagian yang paling
penting dari ilustrasi itu harus dipusatkan dibagian sebelah kiri
atas media gambar.

Dengan demikian media gambar merupakan salah satu teknik media
pembelajaran yang efektif karena mengkombinasikan fakta dan gagasan secara jelas,
kuat dan terpadu melalui pengungkapan kata-kata dan gambar.

b. Langkah-langkah penggunaan media gambar denah
Langkah-langkah pembelajaran IPS di kelas III  dapat dijelaskan sebagai
berikut :
a)  Persiapan    13
Selain menyiapkan media gambar denah yang akan digunakan guru
harus benar-benar memahami pembelajaran dan memiliki berbagai
macam strategi yang mungkin yang akan  ditempuh siswa dalam
menyelesikanya
b)   Pembukaan
Pada bagian ini siswa di perkenalkan dengan strategi pembelajaran
yang dipakai dan diperkenalkan dengan media gambar denah,
kemudian siswa diminta untuk mencermati media gambar tersebut
dengan cara mereka sendiri.
c)   Proses pembelajaran
Siswa mencoba berbagai strategi untuk menyelesaikan masalah sesuai
dengan pengamatanya dapat dilakukan secara peroraangan, dengan
mengerjakan LKS yang di berikan oleh guiru untuk dinilainya.
d)   Penutup
Setelah mencapai kesepakatan tentang srategi dalam mengerjakan LKS
nya di kelas kelas, siswa diajak menarik kesimpulan dari pelajaran saat
itu pada  akhir  pembelajaran siswa harus mengerjakan soal evaluasi
yang lain menuju tingkat kesuksesan dan keaktifan siswa
c. Keaktifan Siswa
Proses belajar mengajar merupakan kegiatan interaksi antara guru dengan
murid untuk mencapai tujuan yang diinginkan dalam pembelajaran tersebut, artinya
bahwa pembelajaran yang di laksanakan dalam pembelajaran tersebut adalah
mengarahkan peserta didik kepada pencapaian suatu kompetensi. Oleh karna itu,   14
setiap pembelajaran dimana dan kapan pun berlangsung, maka tergambar keaktifan
siswa/peserta didik untuk mencapai kompetensi tersebut.
Pentingnya aktivitas belajar murid dalam proses belajar mengajar sehingga
John Dewey dalam (Uzer,  2001:78 ), sebagai tokoh pendidikan,mengemukakan
pentinya prinsip ini melalui metode proyeknya dengan sembonyan learning by doing.
Bahkan jauh sebelumya para tokoh pendidikan lainya seperti Rosseau, Pestalozi,
Frobel dan Montesssory telah mendukung  prinsip aktivitas dalam pembelajaran ini.
Mengajar adalah proses membelajarkan siswa dalam kegiatan belajar siswa
sehingga ada keinginan belajarnya, dengan demikian aktivitas siswa sangat
diperlukan dalam kegiatan belajar mengajar sehingga siswalah yang seharusnya
banyak aktif, sebab siswa sebagai subjek didik adalah merencanakan dan siswa
sendiri yang melaksanakan belajar.
Aktivitas siswa yang dimaksud disini adalah aktivitas jasmaniyah maupun
aktivitas mental. Aktivitas belajar siswa (Copper, 20002:73) dapat digolongkan dalam
beberapa hal yaitu :
  Aktivitas Vesual  (visual activites) seperti membaca, menulis,
melakukan
esperimen  dan demonstarsi .
  Aktivitas lisan  (oral activitas)  seperti bercerita, membaca sajak,
tanya
jawab, diskusi dan menyanyi.
  Aktivitas mendengarkan (istening activites) seperti mendengarkan
penjelasan guru, ceramah dan pengarahan.
  Aktivitas gerak (motor activities) seperti senam, akletik menari dan
melukis.
  Aktivitas menulis ( writing activites) seperti mengarang membuat
makalah dan membuat surat.
15
Setiap jenis aktivitas tersebut di atas memiliki kadar atau bobot yang berbeda
bergantung pada segi mana tujuan mana yang akan dicapai dalam kegiatan belajar.
Siswa hendaknya  memiliki  kadar atau bobot yang lebih tinggi.

G. Stranley Hall sebagaimana dalam Uzer (2001) mengatakan bahwa anak
didik merupakan subjek yang utama dalam pendidikan, dan anak bukanlah menusia
dewasa kecil, Dalam kehidupan disekolah sering terjadi anak didik itu masih di
perlukan sebagai objek didik, yang seolah-olah dapat dibentuk sesuai keinginan
pendidik yang dianggap mempunyai kemampuan yang sama. Oleh karena itu guru
harus pandai menyuapi sekian anak pada waktu yang sama pada makanan
pengetahuan yang telah diolah dan dimasak oleh guru itu sendri, dalam hal ini anak
tinggal menelannya tanpa proses bahwa makananya itu pahit, manis ataupun
sekalipun basi.
Kondisi belajar mengajar yang efektif adalah minat dan perhatian siswa dalam
belajar, Uzer (2001) mengemukakan bahwa “minat ini besar sekali pengarunya
terhadap belajar sebab dengan minat sesorang akan melakukan sesuatu yang
diminatinya, sebaliknya tanpa minat seseorang tidak mungkin melakukan sesuatu”.
Keterlibatan siswa dalam belajar erat kaitanya dengan sifat-sifat murid, baik
yang bersifat kognitif seperti kecerdasan dan bakat. Maupun yang bersifat keaktifan,
rasa percaya diri dan minatnya. Minat dalam arti motif adalah daya dalam diri
seseorang yang mendoronya untuk melakukan sesuatu, atau keadaan seseorang atau
organisme yang menyebabkan kesiapanya untuk memakai serangkaian tingkah laku
atau perbuatan. Sedangkan keaktifan adalah suatu proses untuk mengiatkan motif-  16
motif menjadi perbuatan atau tingkah laku untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai
tujuan atau keadaan atau kesiapan dalam diri individu yang mendorong tingkah
lakunya untuk berbuat sesuatu dalam mencapai tujuan tertentu.
Tugas guru adalah membangkitkan keaktifan anak sehingga ada keinginanya
untuk belajar. Keaktifan dapat  timbul dari dalam diri individu dan dapat pula timbul
akibat pengaruh dari  luar dirinya. (Inrakusuma, 1981:87 )
1. Motivasi intrinstik
Jenis keaktifan ini timbul sebagai akibat dari dalam diri individu sendiri tampa
ada paksaan dorongan dari orang lain, tetapi atas kemauan sendiri. Misalnya anak
ingin belajar karna ingin memperoleh ilmu pengetahuan dan ingin menjadi orang
berguna bagi Nusa Bangsa dan Negara (Uzer, 2001:28) Oleh karna itu siswa rajin
belajar tampa ada paksaan dari orang lain.
2. Keaktifan Ekstrintik
Jenis keaktifan ini timbul sebagai akibat pengaruh dari luar individu, apakah
karna adanya ajakan, suruhan atau paksaan atau orang lain sehingga dengan kondisi
yang demikian akhinya dia punya keinginan belajar, (Uzer, 2001:29). Dengan
demikian dapat dipahami bahwa untuk membangkitkan keaktifan siswa dalam
belajar, guru hendaknya berusaha dengan berbagai cara membangkitkan keaktifan
ekstrinrik dalam menumbuhkan keaktifan intrinstrik seperti persaingan, dan
mengadakan penilaian atau tes.
Dengan demikian proses belajar mengajar yang menyenangkan apabila siswa
sendiri yang aktif dalam pembelajaran dalam hal keterlibatan intelektual emosional
siswa dalam kegiatan belajar mengajar yang bersangkuatan, asimilasi dan akomodasi   17
kognitif dalam pencapaian pengetahuan perbuatan serta pengalaman langsung
terhadap baliknya (feedback) dalam pembentukan keterampilan dan penghayatan
serta internalisasi nilai-nilai dalam pembentukan sikap.
Lebih jauh penulis menguraikan faktor yang mempengaruhi keaktifan siswa,
sebagimana diketahui bahwa tingkah laku sebagai hasil belajar dipengaruhi banyak
faktor, baik bagi diri individu (internal) maupun  faktor dari luar individu (eksternal),

a. Faktor  eksteren
-  Faktor keluarga
Dalam proses belajar siswa, peranan keluarga teramat dominan terhadap
perkembangan belajar sebab seseorang anak akan seseorang anak akan senantiasa
berkomunikasi dengan keluarganya dan segala kebutuhan yang bersangkutan dengan
kemajuan pendidikan anak terkait erat dengan kondisi anak tersebut, baik berupa
kondisi pendidikan orang tua, metode atau cara mendidiknya, hubungan inter dan
antar keluarga maupun kondisi ekonomi keluarga tersebut juga sangat berpengaruh.
Seperti yang dikemukakan oleh Slameto (1983:31), tentang pengertian
keluarga sebagai berikut : Keluaraga adalah lembaga pendidikan pertama dan utama,
keluarga yang sehat besar artinya untuk pendidikan dalam keluarga, tetepi bersifat
menentukan untuk pendidikan dalam ukuran besar yaitu pendidikan Bangsa, Negara
dan Dunia.
Sehingga dapat di pahami bahwa keluarga punya peranan penting
dalam hal mencapai keaktifan siswa.   18
-  Faktor sekolah
Sekolah dan perkembangan keaktifan belajar anak menyangkut metode
belajar, hubungan antara guru  dan siswa, kedisiplinan, kondisi pelajaran maupun
antara siswa dengan siswa begitu pula halnya dengan gedung juga teramat
berpengaruh terhadap adanya keaktifan belajar siswa,serta situasi lingkungan sekolah
dimana terhindar dari kebisingan seperti pasar, terminal dan lainya.
Suryabrata (1990:250) mengemukakan syarat-syarat keyamanan letak sekolah,
yakni haruslah tempat yang tidak terlalu dekat dengan kebisingan atau jalan ramai,
lalu bengunan itu harus memenuhi syarat yang telah ditentukan dalam ilmu kesehatan
sekolah.
Dari peryataan tersebut, maka penulis dapat mengambil suatu kesimpulan
bahwa untuk menciptakan sesuatu tempat belajar, harus bebas dari kebisingan atau
gangauan pendengaran berupa suara atau bunyi yang terlalu nyaring, disamping
tempat keadaan tempat belajar yang dialami oleh siswa di sekolah tersebut jadi tidak
terlepas dari pengaruh cahaya dan lain sebagainya.
- Faktor Masyarakat
Pengaruh masyarakat terhadap keaktifan belajar siswa dapat kita lihat pada
kenyataanya sehari-hari dimana seorang anak banyak dipengaruhi oleh sejumlah
kegiatan  yang dilakukan dalam hudup bermasyarakat baik berupa kegiatan sosial,
keagamaan, dan lain-lainya.jadi sudah jelas bahwa pergaulan dengan teman-temanya
mempunyai pengaruh yang banyak terhadap perkembangan keaktifan seorang siswa.
b. Faktor intern   19
Faktor ini jauh lebih penting dan lebih berpengaruh terhadap perkembangan
anak di banding dengan faktor-faktor lainya. Suryabrata (1990:249) Mengemukakan
bahwa faktor interen ini yang dapat mempengaruhi keaktifan siswa terdiri dari :
- Faktor Fsiologis
Seorang anak kadang kala keaktifan belajarnya terlambat kerna keadaan
jasmani yang kurang sempurna misalnya seorang anak yang mengalami cacat tubuh
merasa bahwa tidak ada lagi gunanya ia belajar karna nantinya sulit untuk bersaing
medapatkan pekerjaan dengan orang yang mempunyai jasmani yang sehat ataupun
sempurna, di tambah lagi adanya perasaan rendah diri yang senantiasa mengusik
kehidupanya, belum lagi adanya ejekan dari orang-orang yang ada disekitarnya.
Disamping itu cacat tubuh sebagai salah satu faktor yang dapat menghambat
proses pengembangan keaktifan belajar, juga termasuk kondisi kesehatan siswa
seorang anak yang tergangu kesehatanya hal itu dapat menggangu keaktifan
belajarnya itu.
Keadaan jasmani yang segar akan lain pengaruhnya dengan dengan keadaan
jasmani yang kurang segar, keadaan jasmani yang lain pengaruhnya terhadap
keaktifan belajar, dalam hubungan ini, Suryabrata (1990:251), mengemukakan dua
hal yang perlu di kemukakan yakni :
Nutrisi harus cukup kerena kekeurangan kadar makanan ini akan
mengakibatkan kurangya tonus jasmani, yang pengaruhnya dapat
berupa kelesuan, lekas mengantuk, lekas lelah dan lain sebagainya.
Beberapa penyakit-penyakit seperti pilek, sakit gigi, batuk dan
yang sejenis dengan itu biasanya diabaikan karena dipandang tidak
cukup serius untuk mendapatkan perhatian dan pengobatan akan
tetapi semacam itu sangat menggangu aktivitas belajar itu.
20
Jadi pada dasarnya faktor jasmani harus dalam keadaan yang sehat, agar
keaktifan belajar dapat senantiasa dapat terus terbina, Oleh sebab itu kesehatan dan
kesegaran jasmani anak secara umum perlu diperhatikan secara dini karena kesehatan
yang tergangu menyebabkan keaktifan belajar akan tergangu pula.
-   Faktor psikologis
Secara psikologis ada beberapa hal yang menyebabkan terjadinya  hambatan
terhadap keaktifan belajar yaitu intelegensi, keaktifan, kesiapan, untuk lebih jelasnya
perhatikan uraian berikut.
Faktor intelegensi merupakan faktor yang sangat menentukan laju
perkembangan keaktifan belajar karena meskipun akan dipaksakan untuk  belajar
sesuai tetapi sudah barang tentu jika anak itu tergolong idiot maka harapan untuk
menimbulkan keaktifan belajar boleh dikatakan hampir sia-sia saja, mengenai faktor
keaktifan dan kesiapan itu masih dapat diarahkan.
Untuk mencegah terjadinya ganguan dalam proses pengembangan keaktifan
belajar siswa, maka dibutuhkan adanya kesiapan baik siswa itu sendiri maupun untuk
pendidik selaku pengaruh keaktifan belajar siswa.
Jadi keaktifan belajr siswaa dalah hasrat atau keinginan untuk berusaha
mengetahui sesuatu yang tidak atau belum diketahui.
d. Manfaat Media Gambar denah
Media pembelajaran IPS di kelas III SD khususya pada media gambar denah
adalah merupakan alat bantu yang dapat digunakan untuk menghantarkan ataupun
menyampaikan pesan, berupa segala  pengetahuan serta memiliki pesan-pesan dan
makna yang disampaikan.   21
Secara umum manfaat media gambar denah di SD pada pembelajaran IPS
yaitu :
1. Sebagai alat bantu untuk mewujudkan situasi kemajuan yang
efektif.
2. Bagian integral dari keseluruhan mengajar .
3. Meletakkan dasar-dasar yang kuat dan konsep yang abstrak
sehingga dapat
mempunyai pemahaman yang bersifat verbalisme.
4. Membangkitkan motivasi belajar siswa.
5. Mempertinggi hasil dan mutu belajar mengajar
e. Efektifitas  pembelajaran IPS dengan pengunaan media gambar denah
Berdasarkan hasil pembelajaran IPS dengan menggunakan media gambar
denah khususnya pada kelas III SD. Dapat diketahui bahwa motivasi belajar siswa
lebih aktif dalam proses pembelajaran ini, hal ini disebabkan dengan adanya
penggunaan media gambar denah yang membuat siswa lebih bersemangat dalam
belajar. Keaktifan siswa lebih meningkat dimana siswa merasa lebih di aktifkan
dalam belajar, bukan guru saja yang aktif dalam pembelajaran ini. Akan tetapi siswa
yang  sedang belajar menyadari bahwa tujuan yang hendak dicapai dan bermanfaat
bagi dirinya sendiri.
Motivasi siswa dengan sendirinya muncul kuat dalam dirinya, yang ingin
menguasai kemampuan yang terkandung dalam tujuan pembelajaran yang bermanfaat
untuk dirinya, sehingga menghasilkan pemahaman pembelajaran IPS lebih
mendalam, kritis dan kreatif sehingga nilai yang dicapai siswa dari yang rendah   22
menjadi lebih meningkat dalam pembelajaran IPS dengan penggunaan media gambar
denah ini.
2. Kerangka Pikir
Berdasarkan kajian pustaka yang mendasari penelitian ini maka di susunlah
kerangka pikir ini yaitu pembelajaran IPS  yang mutlak di lakukan secara berproses
yaitu menyiapkan media gambar di lakukan secara bertahap dan berproses, pada
proses pembelajaranya  yaitu strategi pembelajaran yang di pakai dan di perlukan
media gambar yang menyenangkan untuk disajikan ke peserta didik.
Tingkat pemahaman yang harus di lewati siswa mulai dari tingkat yang paling
rendah ke tingkat yang lebih tinggi, yaitu  pemahaman leteral,  pemahaman
interpretative, pemahaman kritis dan pemahaman kreatif.
Agar seorang guru menguasai tujuan tersebut diperlukan bahan pembelajaran
dan metode-metode yang efektif, bahan pembelajaran yang paling memudahkan bagi
siswa dalam pembelajaran IPS  yaitu dapat memperkenalkan media gambar  denah
yang nyata di selingi petunjuk-petunjuk. Yang dapat menghubungkan kemampuan
siswa dalam memahami konsep pembelajaran IPS yang baik dan optimal sehingga
menghasilkan siswa yang mempunyai minat belajar  yang tinggi dalam pembelajaran
IPS di SD pada kelas III.

Kerangka Pikir ini dapat di gambarkan melalui bagan di bawah:   23

3. Hipotesis Tindakan
Hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah Dengan menggunakan media
gambar pada pembelajaran IPS di kelas III  SDN 176 Duampanua Kab.Pinrang dapat
meningkatkan keaktifan siswa.

Keaktifan siswa
dalam mengikuti
pembelajaran IPS
Media gambar yaitu
- Gambar-gambar
- Benda-benda
- Ide-ide dalam
bentuk dua
dimensi
Memperkenalkan langkah-
langkah penggunaan media
gambar
 Kemampuan siswa
dalam memahami
pembelajaran IPS
 Hasil belajar
pemahaman siswa
pada tingkat literal,
interpretatif, kritis,
dan kreatif.   24

E. Metodologi Penelitian
1. Pendekatan dan Jenis Penelitian
Dalam penelitian ini digunakan pendekatan kualitatif, jenis penelitian adalah
tindakan kelas yaitu penelitian yang dilakukan terhadap peningkatan keaktifan siswa
dalam pembelajaran IPS dengan menggunakan media gambar denah pada siswa kelas
III SDN 176 Duampanua Pinrang. Dalam hal ini akan ditelaah (a) gambaran keaktifan
siswa dalam pembelajaran IPS pada siswa kelas III SDN 176 Duampanua Pinrang,
(b) meningkatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran IPS dengan menggunakan
media gambar denah pada siswa kelas III SDN 176 Duampanua Pinrang
2. Setting dan Subyek Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan di kelas III SDN 176 Duampanua sebagai
sekolah mitra, dengan jumlah  siswa sebanyak 20 orang yang terdiri dari 10 orang
laki-laki dan 15 orang perempuan. Pelaksanaan penelitian direncanakan pada
semester genap tahun ajaran 2009 selama 3 bulan. Peneliti memilih SDN 176
Duampanua Kab. Pinrang berdasarkan pertimbangan (1) Masih ditemukan siswa yang
mengalami kesulitan belajar IPS tampa menggunakan media gambar.  (2) Di sekolah
ini belum pernah dilakukan penelitian dengan menggunakan media gambar  (3)
Adanya dukungan dari kepala sekolah dan guru terhadap pelaksanaan penelitian ini.
3. Fokus penelitian
Adapun fokus penelitian dalam proposal penelitian ini adalah :   25
a.  Pengamatan siswa terhadap Pembelajaran IPS dengan menggunakan media
gambar denah di SDN 176 Duampanua Kab.Pinrang.
b.  Keaktifan siswa pada pembelajaran IPS dengan mengunakan media
gambar denah di SDN 176 Duampanua .
4. Prosedur dan Pelaksanaan Penelitian
Secara garis besar ada empat  tahap perancangan dalam pengembangan tindakan
penelitian ini, yaitu melalui tahap perencanaan, tahap tindakan, tahap observasi, dan
refleksi  (kasboh,  1998) di dalam penelitian tindakn kelas ini orientasi pada awal
kegiatan, sedangkan pelaksanaanya dilakukan dalam 3 siklus, dimana setiap siklus
menggunakan 2x pembelajaran
Ketiga tahap dari setiap siklus dapat di gambarkan sebagai berikut :   26

Penelitian tindakan kelas ini diadakan tiga siklus dengan perincian sebagai
berikut :
a.  Pratindakan
1)  Berkonsultasi dengan kepala sekolah dalam pelaksanaan tindakan kelas.

Pra
Penelitian
Pelaksanaan
Tindakan
I

observasi
Refleksi
Siklus I
Pelaksanaan
Penelitian
II
Observasi
Refleksi  Siklus II
Pelaksanan
penelitian
III
Observasi
Refleksi
Siklus III
Media Gambar   27
2)  Berdiskusi dengan  guru kelas III untuk mendapatkan gembaran tentang
penggunaan media gambar denah pada pembelajaran IPS di SD .
3)  Mengadakan observasi awal terhadap pelaksanaan pembelajaran IPS dengan
menggunakan media gambar denah
b.  Rencana Tindakan
1)  Membuat sesuai pelaksanaan tindakan untuk meningkatkan kemampuan.
c. Pelaksanan  Tindakan
Tahap ini merupakan tahap pelaksanan tindakan yang telah di susun secara
kolaboratif  antara peneliti dan guru,
Kegiatan yang di lakukan pada setiap siklus ini yaitu :
1)  Siklus Pertama
a)  Guru melakukan tindakan untuk memahami penggunaan media
gambar denah pada pembelajaran IPS.
b)  Mengadakan observasi/pengamatan terhadap pelaksanaan tindakan
dalam setiap siklus dengan menggunakan instrumental penelitian.
c)  Melakukan pemilihan terhadap guru dan siswa, peneliti mengorservasi
cara-cara guru dalam proses pembelajaran dengan menggunakan
media gambar denah tersebut.
d)  Mengadakan refleksi untuk menuju ke siklus selanjutnya, agar berjalan
dengan baik, dalam hal ini berupa kelemahan dan kelebihan yang
muncul pada siklus pertama dan hal-hal yang berupa sebuah tindakan
pertama pada siklus ke dua.
2)  Siklus kedua   28
a)  Guru dan peneliti menyusun rencana yang hendak di gunakan pada
pembelajaran IPS dengan menggunakan media gambar denah.
b)  Menyusun langkah-langkahdalam pemahaman konsep tersebut
berdasarkan hasil refleksi dan sesuai pembelajaran yang ke siklus ke
dua.
c)  Melakukan pengajaran yang telah di rancang.
d)  Melakukan observasi.
e)  Melakukan diskusi balik untuk mencari kelemahan yang di lakukan
pada pembelajan tersebut.
3)  Siklus III
a)  Menyusun rancana untuk menguji siswa terhadap penggunaan media
gambar denah pada pembelajaran IPS
b)   Menganalisis tentang pemahaman refleksi siklus ke dua yang sesuai
dengan pembelajaran pada siklus ke tiga.
c)   Mengumpulkan hasil pengamatan dari berbagai kegiatan pada tahap
refleksi, apakah perlu di lakukan pemberian tindakan ulang atau tidak
lanjut, untuk menuju ke siklus berikutnya selanjutnya siswa
memperoleh nilai.

29
5. Teknik Dan Prosedur Pengumpulan Data
a. Sumber Data
Sumber data penelitian ini adalah seluruh siswa kelas III SDN 176
Duampanua Pinrang berdasarkan hasil tes awal yang telah diberikan, serta guru di SD
tersebut.
b. Jenis Data
Adapun jenis data yang diperlukan dalam penelitian ini sebagai berikut :
1. Data Primer
Yaitu data yang diperoleh secara langsung melalui  pengamatan
terhadap objek di lokasi penelitian melalui wawancara beberapa
informasi, yaitu guru dan orang tua.
2. Data Sekunder
Yaitu  data yang diperoleh dari hasil penelitian kepustakaan  dan erat
relevansinya dengan pembahasan penelitian ini.
c. Prosedur Pengumpulan Data
Untuk pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan tes,
wawancara,                                                                        pengamatan, dan catatan
lapangan. Empat teknik tersebut di uraikan sebagai berikut
a.  Tes
Tes dilakukan untuk pengumpulan imformasi tentang pemahaman
siswa terhadap penggunaan media gambar denah pada pembelajaran
IPS. Tes di laksanakan pada awal penelitian, pada akhir setiap
tindakan, dan pada akhir setelah diberikan serangkaian tindakan.   30

b.Wawancara
Wawancara di maksudkan untuk menggali kesulitan siswa dalam
memahami
pembeljaran IPS dengan menggunakan media gambar denah, yang
mungkin
sulit di peroleh dari hasil pekerjaan siswa maupun melalui pengamatan.
c.  Pengamatan.
Pengamatan dilakukan oleh orang yang terlibat aktif dalam
pelaksanaan tindakan yaitu guru yang mengajar di kelas III Pada
pengamatan ini digunakan pedoman pengamatan untuk mencatat hal-
hal yang dianggap penting.
d. Catatan Lapangan
Catatan lapangan memuat hal-hal yang penting yang terjadi selama
pembelajaran berlangsung, yang dapat digunakan untuk melengkapi
data yang tidak terdapat  dalam lembar observasi.
6.  Teknik Analisis Data
Analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah dimulai dari tahap
aktivitas siswa dan proses pembelajaran sampai hasil belajar tentang  penggunaan
media gambar denah  pada pembelajaran IPS dalam meningkatkan keaktifan siswa.   31
Analisis data ini akan menggunakan secara akurat dengan benar anggaran data yang
digunakan sesuai proses pembelajaran sampai hasil pembelajaran ini yaitu :

jumlah yang muncul
jumlah yang seharusnya   X 100 %
Tabel tingkat keberhasilan

Taraf Keberhasilan

Kualifikasi

80 % – 100 %

75 % – 80 %

55 % – 60 %

40 % – 50 %

50 % – 40 %

Sangat baik

Baik

Cukup

Kurang

Sangat baik   32

7.  Instrumen Penelitian
Instrumen Penelitian yang digunakan terdiri dari pedoman wawancara dengan
mengajukan beberapa pertanyaan kepada informan baik tertulis maupun tidak tertulis,
Kemudian jawaban direkam sesuai dengan kebutuhan dalam penelitian ini.

8.  Indikator Keberhasilan
1. Indikator Proses
Tindakan dikatakan berhasil bila minimal 80 % lebih terlaksana dengan baik
apabila pembelajaran telah tuntas   33
2. Indikator Hasil
Tindakan dikatakan berhasil bila minimal 75 % telah memahami penggunaan
media gambar denah pada pembelajaran IPS kelas III SDN 176 Duampanua
Kabupaten Pinrang apabila sisawa mencapai atau memperoleh nilai 70

F. Jadwal Penelitian
Proses penelitian di harapkan dapat selesai dalam tiga bulan, mulai dari
menyusun penelitian sampai menyelesaikan laporan    34
Jadwal penelitian dapat di kemukakan  pada tabel  sebagai berikut :
No  Kegiatan Tahun  2008/2009  Juli  Agustus  September
1.  Penelitian / Pelaksanaan Penelitian
a.  Penyusunan instrumen  X
b.  Menyebarkan Instrumen  X
c.  Pengololaan dan analisis data    X
d. Penulisan laporan    X
e. Konsultasi    X
2.  Pelaporan Akhir
a.  Konsulatsi terahir      X
b.  Perbaikan laporan      X
c.  Penyerahan laporan      X

G. Daftar Pustaka
Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta:
Rineka Cipta.
Depdikbud, 2006. Kurikulum Pendidikan Dasar . Jakarta : Proyek peningkatan Mutu     35
SD, TK, dan SLB.
Hamalik, 1994. Media Pendidikan . Bandung : Citra Aditya Bakti.
Indarakusuma, Amir Dien.1981. Ilmu Pendidikan. Surabaya : Usaha Nasional
Mulyasa, 2001. Kurikulum Berbasis Kompetensi, Jakarta : Remaja Karya.
Rahadi, Aristo. 2003. Media Pembelajaran. Jakarta : Dikjen Dikti Depdikbud
Rohani, Ahmad. 1997. Media Instruksional Edukatif. Jakarta : Rinreka Cipta
Sadiman, Arif. 1996. Media Pendidikan.Jakarta : Raja Grafindo Persada
Sardamin, A. M. 1992. Interaksi Dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta :
CV.Rajawali
Soelarko. 1980. Psikologi pendidikan,  Jakarta : Depdikbud
Sudjana. 2001. Media Pengajaran. Jakarta : Sinar Baru  Algensindo
Suryabrata, Sumadi.1990. Psikologi Pendidikan, Cet.V, Jakarta : Rajawali
Tilaar, HAR.1997.  Pengembangan Sumber Daya Manusia Dalam Era Globalisasi.
Jakarta : Grasindo
Uzer, Usman.2001. 2001. Menjadi Guru Propesional. Bandung : Remaja Rosda
Karya
Zainuddin dkk, 1991. Seluk Beluk Pendidikan.  Al Gazali, Cet, Jakarta : Bumi Aksara

36

LAMPIRAN-LAMPIRAN

LEMBAR OBSERVASI  GURU

Tahapan

Pengam
atan

Kualifikasi

37
No  pembelajaran  Indikator  Ya  Td
k
S
B
B  C  K  S
K
Skor
1.  Pendahuluan
Skor 20
1. Membantu siswa memahami
Pembelajaran
a. Guru membimbing siswa
b. Guru membimbing siswa
memetakan pembelajaran

2.   Inti
Skor 40
2. Melatih berfikir, bekerja dan
menyelesikan pekerjaan
a.Guru membimbing siswa
mengamati pelajaran
b.Guru membimbing siswa
menemukan maksud
pembelajaran
c. Guru membimbing siswa
memahami pelajaran dengan
bantuan media gambar
c. Guru membimbing siswa
mempersiapkan kelompok
mensimulasikan kelompok
dialog di depan kelas

3.  Penutup  3. Mereflesikan hasil kegiatan                    38
Skor 40       pembelajaran
a. Guru menunjuk salah satu
siswa mereflesikan
pemahaman
b. Guru bersama siswa
memberi komentar
c. Guru memberi pertanyaan

LEMBAR OBSERVASI  SISWA

No

Tahapan
pembelajaran

Indikator
Pengam
atan

Kualifikasi

skor  Ya  Td
k
S
B
B  C  K  S
K   39
1.  Pendahuluan
15 menit
1. Memotivasi siswa
memahami materi pelajaran.
a. Siswa terlibat dan aktif
meletakkan gambar.
b. Siswa terlibat dan aktif
memetakan media gambar
denah

2.  Inti
35 menit
2. Aktivitas siswa dalam
kegiatan pembelajaran.
a. Siswa mengamati pelajaran.
b. Siswa menemukan maksud
pembelajaran.
c. Siswa memahami pelajaran
dengan bantuan media
gambar denah
d. Siswa mempersiapkan
kelompok mensimulasikan
dialog didepan kelas.

3.  Penutup
50 menit
3. Merefleksikan kegiatan
pembelajaran
a. Secara kelompok.
40
b. Memberi tanggapan.
c. Menjawab pertanyaan.

DAFTAR NILAI PER SISWA MATA PELAJARAN  IPS KELAS III
( Hasil Observasi Prapenelitian )
41

No

Nama

Kelas
Aspek yang dinilai
Ket  Keterampilan
sosial
Penguasaan konsep

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
Arman
Risman
Rusdi
Riswan
Muliadi
Henro
Herman
Riswan
Ancu
Aris
Fatimah
Fatma
Indar
Risma
Riska
Risda
Esse harianti
A.Safira
Surianti
Sutriani
III

6
6
6
6
5
5
5
6
6
6
6
6
6
6
5
5
6
6
6
6
6
6
6
6
7
7
6
7
7
6
6
5
5
5
6
6
5
6
6
5

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN   42
SATUAN PENDIDIKAN              : SEKOLAH DASAR
MATA PELAJARAN                : IPS
KELAS / SEMESTER              : III / 1I
POKOK BAHASAN                : DENAH
SUB POKOK BAHASAN               : DENAH SEKOLAH
ALOKASI WAKTU                : 4 x 35 Menit

I. Standar kompetensi
  Memahami lingkungan dan melaksanakan kerjasama di lingkungan
rumah dan sekolah
II. Kompetensi dasar
  Membuat denah dan peta lingkungan rumah dan sekolah.
III. Indikator
  Membuat denah sekolah dengan menggunakan arah mata angin
dengan  tepat
  Menyebutkan manfaat denah dalam kehidupan sehari-hari dengan
tepat
IV. Tujuan pembelajaran
  Setelah pembelajaran selesai siswa dapat
1.   Membuat denah sekolah sendiri
2.  Mengetahui manfaat denah sekolah dengan tepat
V. Materi pembelajaran
Denah sekolah
VI. Metode pembelajaran    43
Ceramah
Tanya jawab
Pemberian tugas dan demonstarasi.
VII. Langkah-Langkah Pembelajaran
A. Kegiatan awal
  Mengatur tempat duduk siswa
  Berdoa bersama
  Mengabsen siswa
  Mengucapkan salam
  Berdoa bersama
  Mengecek kehadiran siswa
  Mengadakan apersepsi
  Mengimpormasikan tentang sasaran yang diharapkan yaitu
menyampaikan kepada siswa pokok bahasan dan tujuan
pembelajaran
khusus yang akan dicapai.
B. Kegiatan Inti
  Menjelaskan pengertian denah
  Memperhatikan contoh gambar denah sekolah
  Menjelaskan gambar tersebut
  Menggambar arah mata angin
  Menjelaskan arah mata angin
  Menyebutkan manfaat denah sekolah    44
  Memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya
  Memberikan tugas kepada siswa membuat denah sekolah sendiri
dengan
menggunakan arah mata angin
 Mengerjakan LKS yang di berikan guru untuk nilai
 Membimbing siswa yang mengalami kesulitan
C. Kegiatan akhir
  Menyimpulkan materi pelajaran antara guru dan siswa
  Memberikan latihan
  Memotivasi siswa agar lebih giat belajar di rumah
VIII. Sumber dan alat media pembelajaran
Sumber pelajaran
  Kurikulum tingkat satuan pendidikan ( KTPS)
  Buku IPS  Kls III
Media pembelajaran
   Lembar kerja siswa
   Gambar  peta sekolah
IX. Penilaian
  Jenis penlaian
  Tes tertulis
  Tes Perbuatan
Bentuk Penilaian
 Lembar penilaian proses dan uraian       45
Paria,                           2009
Mengetahui
Kepala SDN 176 DUAMPANUA                                            Guru kelas II.A

HJ.SITTI SUHAYA A.Ma,Pd                    HAISAH.N.A.Ma
NIP : 130 349 276

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s