Darmawati Kerajaan Mughal (pembentukannya)

KERAJAAN MUGHAL

(Pembentukannya)

Makalah

Disampaikan dalam forum seminar kelas

Mata Kuliah SPI 2

Oleh :

DARMAWATI

NIM. 00….03.24.2009

Dosen Pembimbing :

PROGRAM PASCASARJANA

UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

UMI-MAKASSAR

2010

PEMBENTUKAN KERAJAAN MUGHAL

Oleh Darmawati

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Agama Islam masuk ke India diperkirakan abad ke-7 M. melalui perdagangan. Dalam keterangan sejarah tahun 871 telah ada oran Arab yang menetap disana (India). Hal ini menunjukkan suatu indikasi bahwa sebelum kerajaan Mugal berdiri, masyarakat India sudah mengenal Islam. Realita ini dapat dilihat dikota Delhi adanya sebuah bangunan masjid yang dibangun oleh Qutubuddin Aybak pada tahun 1193 M). Sedangkan kerajaan Mugal berdirinya pada tahun 1526. Jadi kerajaan Mugal ini sebagai penerus Islam sebelumnya di India. [1]

Pada masa khullafaurrasyidin, memang sudah ada niat penyebaran Islam ke India, hal ini diketahui pada masa khalifah Umar bin Khatab dan Usman sudah pernah mengirim ekspedisi kesana, tetapi rencana ini gagal karena mendengar rawannyan daerah India. Kemudian pada masa Ali bin Abi Thalib juga pernah mengirim suatu ekspedisi di bawah pimpinan Al-Harits bin Murah Al-Abdi untuk menyerbu India dan berhasil menaklukkanya, malangnya sang pemimpin terbunuh pada tahun 42 H disuatu daerah Al-Daidin yang terletak antara Sind dan Khurasan. Pada masa Umawiyah baru dapat terlaksana secara efektif. Muawiyah juga mengirim ekspedisi yang dipimpin oleh seorang jendral parang yang masih muda berusia sekitar delapan belas tahun yang bernama Muhammad bin Qasim. Pada saat itu tahun 713 wilayah Multan dapat dikuasai.[2] Setelah itu juga berhasil menaklukkan daerah Sind dan Punjab bagian bawah, maka satu persatu daerah sekitarnya dengan mudah dapat dikuasai. Hal inilah yangmenjadikan wilayah kekuasaan Islam pada masa pemerintahan Bany Umaiyyah semakin luas.

Tercatat dalam sejarah Islam, kerajaan Mugal ini berdiri pada pereode pertengahan. Setelah masa pertengahan usai, maka muncullah tiga kerajaan besar yang dapat membangun kembali kemajuan umat Islam. Diantara kerajaan besar tersebut termasuk juga kerajaan Mugal. Harun Nasution mengatakan bahwa ketiga kerajaan ini sudah dapat dikategorikan sebagai negara Adikuasa pada zaman itu. Karena kebesaran kerajaan tersebut sudah mampu menguasai perekonomian, politik serta militer dan mampu mengembangkan kebudayaan yang monumental. [3]

Diantara ketiga kerajaan tersebut mengatakan kerajaan Mugal adalah kerajaan yang termuda usia berdirinya. Kerajaan ini berdiri setelah dua puluh lima tahun setelah berdirinya kerajaan Safawi, dapat diperkiarakan sekitar seperempat abad jarak usia keduanya.[4] Namun kerajaan ini cukup lama berkuasa, lebih kurang selama tiga abad. Kerajaan ini berdiri sejak awal abad ke-16 sampai abad ke 19 sehingga mampu membawa pengaruh besar bagi perkembangan Islam, mulai dari bidang sastra hingga arsitektur.

B. Rumusan Masalah

Pada makalah ini, penulis akan mengungkapkan tentang pembentukan kerajaan mugal, kemajuan-kemajuan yang dicapai serta kemundurannya dan sebab-sebab dari kemunduran tersebut.

II. PEMBAHASAN

A. Pembentukan Kerajaan Mughal

Ada sebuah prestasi yang sukses dalam sejarah sebelum terwujudnya kerajaan mugal di India. Ketika dinasti Ghaznawi di bawah pimpinan Mahmud Ghaznawi (1020.M), ia berhasil menaklukkan hampir semua kerajaan Hindu di India, sekaligus juga mengislamkan sebagian masyarakatnya, karena sebelumnya mayoritas masyarakat India beragama Budha dan Hindu.[5] 8 Tekad Mahmud ini memamg sangat kuat untuk merubah keyakinan oarang India, sehingga ia berhasil mewujudkan cita-citanya. Akhirnya ketika Mahmud berhasil menaklukan daerah Punjab yang ibu kotanya Lahore. Dia mendirikan sekolah tinggi Universitas Islam) beserta sebuah taman pustaka yang besar. Fakta ini juga memperlihatkan ada bekas jejak Islam pernah jaya di India.

Setelah dinasti Ghaznawi ini hancur,maka muncul dinasti-dinasti kecil menguasai India, seperti Mamluk (1206 M -1290 M), Khalji (1296 M – 1316 M) dan Tulug (1230 M – 1412 M), serta dinasti-dinsti lainnya.[6] Dan terakhir dinasti Lodi tidak sanggup lagi mempertahankan kekuasannya dari kekacauan kondisi politik pada aktu itu. Maka pada saat itu muncul Zahiruddin Babur memamfaatkan situasi politik ini, dan ia berhasil menegakkan Kerajaan Mugal di India. Sejak saat itulah berdiri kerajaan Mugal di India di bawah kekuasaan Babur dengan ibukotanya Delhi.
Zahiruddin Babur (1482 M-1530 M) adalah generasi Timur Lenk yang ke-5 dari pihak bapaknya Umar Syeik Mirza dari etnis mongol (penguasa fergana di Turkistan),memulai kekuasaanya di India.[7] Ia mewarisi kekuasaan bapaknya ketika usianya masih sangat muda, sehingga Ia tidak bisa mempertahankan kekuasaanya di Ferghana. Kemudian Ia mengalihkan perhatiannya ke India, sampai akhirnya Ia behasil menancapakan kerajaan Mugal di sana.

Setelah Babur meninggal kerajaan ini diwariskan kepada anaknya Humayyun. Pada masa Humayyun kerajaan ini mengalami kemunduran, karena Humayyun tidak sanggup mengatasi tantangan dan pergolakan politik yan terjadi pada waktu itu. Selain dari serangan Afganistan,termasuk juga serangan dari saudara-saudaranya yang berambisi merebut kekuasaan, sehingga akhirnya Ia terusir dari Delhi dan menetap di Umarkot (1542).[8] Untung penguasa Safawi waktu itu memberi dukungan dan Kabul dapat dikuasai oleh Humayyun kembali.

Sepeninggal Humayyun, tahta kerajaan jatuh pada anaknya Akbar yang saat itu berusia empat belas tahun. Karena usianya masih sangat muda dan pengalamannya pun masih kurang, maka urusan kerajaan diserahkan kepada Bairam Khan. Pada awal pemerintahan Akbar ini banyak tantangan dan beberapa pemberontakan yang nyaris mengancam kerajaan Mugal. Kemudian di Agra juga muncul kekuatan Hindu yang dipimpin oleh Himu mengancam kekuasannya. Pada wilayah Barat Laut juga muncul kekuatan dibawah pimpinan Mirza Muhammad Hakim, saudara seayah dengan Akbar. Sementara itu Kasmir juga berusaha melepaskan diri dari kerajaan Mugal yang dipimpin oleh Muslim setempat.[9] Akirnya pada saat itu terjadilah suatu peperangan yang sangat dasyat yang dikenal dengan Panipat II tahun 1556, namun semua itu dapat dipatahkan oleh Bairam Khan.[10] Himu akhirnya ditangkap, dan Agra dapat dikuasai, maka kemenangan ada dipihak Bairam Khan. Cukup besar jasa Bairam Khan dalam mengokohkan kembali kerajaan Mugal.

Setelah Akbar dewasa, Bairam Khan disingkirkan oleh Akbar, Karena menurut Akbar Bairam Khan ini terlalu keras memaksakan paham Syi’ahnya. Bairam Khan mengetahui gelagat tersebut mencoba mengadakan perlawanan. Tetapi perlawanan itu dapat dipatahkan oleh Akbar dalam peperangan di Julandur pada tahun 1591.

Setelah semua komplit itu berakhir, Akbar dapat menguasai Mugal secara penuh. Kekuasaan Mugal dapat direbutnya kembali secara pemerintahan Militerisme. Akbar dapat mewujudkan Mugal ini menjadi suatu kerajaan besar, dan mencapai pada puncak keajayaanya. Sehingga pada masa Akbar inilah merupakan masa keemasan kerajaan Mugal di India.

Disamping itu Akbar membentuk landasan georafis bagi kekuasaan imperiumnya. Pemerintahan Akbar dijalankan oleh sebuah elit milite dan politik yang umumnya terdiri dari pembesar-pembesar Afghan, Irak, dan Turki sert muslim asli di India. Meskipun secara resmi elit pemerintahan mereka adalah warga muslim, namun terdapat 20 % penduduknya beragama Hindu sebagai aristokrasi Mugal.[11]

Dengan demikian, pembentukan kerajaan Mughal di India menjadi kerajaan Islam terjadi pada masa kekuasaan dinasti Bani Umayyah yaitu pada masa khalifah al Walid yang di pimpin oleh panglima Muhammad Ibnu Qasim. Dalam penaklukan wilayah India ini, kemudian pasukan Ghaznawiyyah dibawah pimpinan Sultan al Makmun mengembangkan kedudukan Islam di wilayah ini, dan berhasil menaklukkan kekuasaan Hindu, dan mengIslamkan sebagian masyarakt India pada tahun 1020 M . Setelah dinasti Ghaznawiyyah hancur, muncul dinasti-dinasti kecil seperti Mamluk (1026-1290 M), Halji (296-1316 M), Tuglug (1320-1412 M), dan dinasti-dinasti lain.

Kerajaan ini didirikan oleh Zahiruddin Babur (1482-1530 M), seorang keturunan timur Lenk. Dia adalah Shekh Kumar yang menjadi Amir di negeri Farghanah, keturunan langsung dari Miransah, putra ke-3 timur Lenk dan ibunya keturunan Jengis Khan.[12]

Dia mewarisi tahta kekuasaan wilayah farghana sejak usia 11 tahun, ia bercita-cita menguasai samarKhan yang merupakan kota terpenting di Asia Tengah. Pertama kali ia mengalami kekalahan dalam ekspansi itu kemudian pada tahun 1494 M berkat bantuan ismail I raja Syafawi, Babur menaklukkan SamarKhan, dan pada tahun 1504 M dia menaklukkan Kabul ibu kota Afganistan.[13]

Dia taklukkan daerah yang luas di daerah utara anak benua yang kaya (India), dan meletakkan dasar untuk pemerintahan Mughal di India. Para penakluk, bangsa turki dan Persia merupakan kasta berkuasa, sementera Islam adalah agama yang disenangi dibandingkan dengan agama Hindu dan agama Budha. Bahasa hukum dan kesusastraan ialah bahasa Persia baru.[14]

Kemudian Babur melanjutkan ekspansinya keIndia yang pada saat itu diperintah oleh Ibrahim Lodi. Dalam upaya menaklukkan India Babur berhasil menaklukkan India. Dalam upaya menguasai India Babur berhasil menaklukkan Punjap pada tahun 1525 M. Kemudian pada tahun 1526 M dia mendapat kemenangan dalam pertempuran dipunjep sehingga pasukaannya dapat memasuki kota Delhi untuk menegakkan pemerintahan Babur dikota Delhi, maka berdirilah raja Mughal di India pada tahun 1526 M.[15]

Tapi Dari pihak-pihak musuh, terutama dari pihak ibu yang tidak menyukai berdirinya kerajaan Mughal ini segera menyusun kekuatan gabungan, namun Babur berhasil mengalahkan mereka dalam suatu pertempuran, sementara itu dinasti Lodi bersaha bangkit kembali untuk menentang pemerintanhan Babur. Kejadian tiu terjadi didekat gorgh, pada tahun 1529 M dan Babur dapat menumpas mereka, dan setelah itu setahun kemudian Babur wafat .

B. Masa Keemasan

Masa keemasan kerajaan Mughal terlihat pada kemajuan yang dicapai, Kerajaan Mughal di antaranya adalah:

1. Di bidang Keilmuan yang sangat menunjul pada saat itu antara lain adalah pada masa Aurangzib, yaitu munculnya seorang sejarawan yang bernama abu fadzel dengan karyanya Akbar nama dan aini Akbar yang memaparkan sejarah kerajaan Mughal berdasarkan figur pemimpinnya.[16]

Kemudian, dibidang kedokteran di antranya adalah Dara Sukhuh yang mengarang kedokteran dara sukhuh, yang merupakan engkiklopedi medis besar akhir dalam Islam. Ia juga di kenal sebagai seorang sufi pengikut Vedanta.

Ilmu medis Islam terus berkembang di India sepanjang abad 12 H atau 18 M seperti sekala dedokteran yang dibuat oleh muhammad akbar syah al zani dari Shiraz. Dengan kehadirannya, medis India atau Islam yang merupakan ilmu medis yang berbentuk filosofi ilmu medis (memakai pendekatan kepada Allah) hidup bersaing dengan ilmu medis modern Eropa.[17]

Dan jasa yang tidak dapat dilupakan dari hasil karya putra Syah Jehan, namanya Auranzeb ialah membukukan hukum Islam mengenai soal Mu’amalat. Usaha kodifikasi ini dinamakan “Ahkam Alam Giriyah” menurut gelaran yang dipakinya.

2. Ekonomi, raja Mughal dapat mengembangkan program pertanian, pertambangan, dan perdagangan. Akan tetapi sumber keuangan negara lebih banyak bertumpu pada sektor pertanian.

Di sektor pertanian ini komunikasi antara pemerintah dan petani diatur dangan baik. Kerajaan berhak atas sepertiga dari hasil pertanian di negeri itu, hasil pertanian kerajaan Mughal yang terpenting ketika itu adalah biji-bijan, padi, kacang, sayur-sayuran, tebu, rempah-rempah, tembakau, kapas, nila, dan bahan-bahan celupan.[18]

3. Seni. Bersamaan dengan majunya bidang ekonomi, bidans seni dan budaya juga berkembang. Karya seni yang menunjol adalah karya sastra gubahan penyair istana, baik yang berbahasa persia maupun yang berbahasa India. Penyair India yang terkenala adalah Malik Muhammad Jayazi, seorang sastrawan sufi yang menghasilkan karya besar patmafat, sebuah karya alegoris yang mengandung pesan kebajikan jiwa manusia.[19]

Karya seni yang masih dapat dinikmati sekarang dan merupakan karya seni terbesar yang sicapai kerajaan Mughal adalah karya-karya arsitektur yang indah dan mengagumkan. Pada masa akbar dibangun istana Fapkur Sikri di Sikri, vila dan masjid-masjid yang indah.

Pada masa Syah Jehan dibangun masjid yang berlapiskan mutiara dan Tajmahal di Agra, mejid raya Delhi dan istana indah dilghare.

4. Dibidang politik. Sultan akbar mengrahkan apa yang dinamakan politik sulakhul (toleransi universal). Dengan politik ini semua rakyat India dipandang sama. Mereka tidak dibedakan karena perbedaan etnis dan agama.[20]

Pada masa pemerintahan Sultan Akbar, Mughal memiliki politik yang stabil, maju dibidang pertanian, pertambangan dan perdagangan. Mughal memiliki system pertanian antara pemerintah dan petani yang mengolah. Mughal di India terkenal penghasil biji-bijian. Hasil pertanian sebagian di ekspor ke Eropa, Afriaka, Jazirah Arab, dan Asia Tenggara.

Mughal juaga berhasil mengembangkan industri tekstil. Untuk meningkatkan produksi Jehangir mengizinkan Inggris (1661 M) dan belanda (1617 M) mendirikan pengolahan hasil pertanian di Surat.

Bidang seni dan budaya juga berkembang, karya seni yang menonjol adalah karya sastra penyair istana, bahasa yang dipakai adalah bahasa Persia dan India. Penyair yang terkenal adalah malik Muhammad Jayazi seorang sastrawan yang sekaligus seorang sufi, salah satu karya besarnya adalah Padmauat. Pada masa pemerintahan Aurangzab, lahir seorang sejarawan bernama abu fald dengan karyanya “akbar nama dan ami akbari” karya ini merupakan sejarah mughal serta figure para pemimpinnya.

Pada masa pemerintahan Akbar dibangun istana Fatpur Sikri, Vilia, dan Mesjid berlapis mutiara. Salah satu banguanan monumental yang dibangun Syah Jehan (Sultan Akbar) adalah tajamahl di Aqra Delhi, ini merupakan kompleks makam istrinya bernama Muntazmahal.

C. Masa Kemunduran

Mughal sudah mengalami masa keemasan selama setengah abad, para pelanjut Hindu tidak sanggup mempertahankan kebesaran yang telah dibangun oleh sultan-sultan sebelmnya.

Kekuasaan politiknya menjadi merosot akibat tahta kepemimpinannya dijadikan rebutan, sehinnga terjadi separatis Hindu, konflik-konflik yang berkepanjangan ini mengakibatkan pengawasan daerah-daerah menjadi lemah dan satu persatu melepaskan loyalitasnya dari pemerintah pusat.

Setelah satu setengah abad dinasti Mughal berada dipuncak kejayaannya para pelanjut Aurangzeb tidak sanggup mempertahankan kebesarannya yang telah dibina oleh sultan-sultan sebelumnya, pada abad ke-18 M kerajaan ini memasuki masa-masa kemunduran, kekuasaan politiknya mulai merosot, suksesi kepemimpinan di pusat menjadi ajang perebutan, gerakan separatis Hindu di India Tengah, Sikh di belahan utara dan Islam di bagian timur semakin lama semakin mengancam. Sementara itu para pedagang Inggris yang diijinkan oleh Jehangir menanamkan modal di India, dengan didukung oleh kekuatan bersenjata semakin kuat menguasai wilayah pantai. [21]

Pada masa Aurangzeb, pemberontakan terhadap pemerintahan pusat memang sudah muncul, tetapi dapat diatasi. Pemberontakan itu bermula dari tindakan-tindakan Aurangzeb yang dengan keras menerapkan pemikiran puritanismenya. Setelah ia wafat, penerusnya rata-rata lemah dan tidak mampu menghadapi problema yang ditinggalkannya. Sepeninggal Aurangzeb (1707 M), tahta kerajaan dipegang oleh Muazzam, putra tertua Aurangzeb yang sebelumnya menjadi penguasa di Kabul. Putra Aurangzeb ini kemudian bergelar Bahadur Syah (1707-1712 M). Ia menganut aliran Syi’ah. Pada masa pemerintahannya yang berjalan selama lima tahun, ia dihadapkan pada perlawanan penduduk Lahore karena sikapnya yang terlampau memaksakan ajaran Syi’ah kepada mereka.[22]

Setelah Bahadur Syah meninggal, dalam jangka waktu yang cukup lama, terjadi perebutan kekuasaan di kalangan keluarga istana, Bahadur Syah diganti oleh anaknya, Azimus Syah. Akan tetapi, pemerintahannya ditantang oleh Zulfiqar Khan, putra Azad Khan, Wazir Aurangzeb. Azimur Syah meninggal tahun 1712 M, dan diganti oleh putranya, Jihandar Syah, yang mendapat tantangan dari Farukh Siyar, adiknya sendiri. Jihandar Syah dapat disingkirkan oleh Farukh Siyar tahun 1713 M.

Farukh Siyar berkuasa sampai tahun 1719 M dengan dukungan kelompok sayyid, tapi ia tewas di tangan para pendukungnya sendiri (1719M). Sebagai penggantinya diangkat Muhammad Syah (1719-1748 M). Namun ia dan pendukungnya terusir oleh suku Asyfar di bawah pimpinan Nadir Syah yang sebelumnya telah berhasil melenyapkan kekuasaan Safawi di Persia. Keinginan Nadir Syah untuk menundukkan kerajaan Mughal terutama karena menurutnya, kerajaan ini banyak sekali memberikan bantuan kepada pemberontak Afghan di daerah Persia.[23]

Oleh karena itu, pada tahun 1739 M, dua tahun setelah menguasai Persia, ia menyerang kerajaan Mughal. Muhammad Syah tidak dapat bertahan dan mengaku tunduk kepada Nadir Syah. Muhammad Syah kembali berkuasa di Delhi, setelah ia bersedia memberi hadiah yang sangat banyak kepada Nadir Syah. Kerajaan Mughal baru dapat melakukan restorasi kembali, terutama setelah jabatan wazir dipegang oleh Chin Qilich Khan yang bergelar Nizam al-Mulk (1722-1732 M) karena mendapat dukungan dari Marathas. Akan tetapi tahun 1732 M, Nizam al-Mulk meninggalkan Delhi menuju Hiderabad dan menetap disana. Konflik-konflik yang berkepanjangan mengakibatkan pengawasan terhadap daerah lemah.[24]

Setelah Muhamamd Syah meninggal, tahta kerajaan dipegang oleh Ahmad Syah (1748-1754 M) kemudian diteruskan oleh Alamghir II (1754-1759 M), dan kemudian diteruskan oleh Syah Alam (1761-1806 M). Pada tahun 1761 M, kerajaan Mughal diserang oleh Ahmad Khan Durrani dari Afghan. Kerajaan Mughal tidak dapat bertahan dan sejak itu Mughal berada di bawah kekuasaan Afghan. Meskipun Syah Alam tetap diijinkan memakai gelar sultan.

Ketika kerajaan Mughal memasuki keadaan yang lemah seperti ni, pada tahun itu juga, perusahaan Inggris (EIC) yang sudah semakin kuat mengangkat senjata melawan pemerintah kerajaan Mughal. Peperangan berlangsung berlarut-larut. Akhirnya, Syah Alam membuat perjanjian damai dengan menyerahkan Qudh, Bengal dan Orisa kepada Inggris.[25] Sementara itu, Najib al-Daula, wazir Mughal dikalahkan oleh aliansi Sikh-Hindu, sehingga Delhi di kuasai oleh Sindhia dari Marathas. Akan tetapi Sindhia dapat dihalau kembali oleh Syah Alam dengan bantuan Inggris (1803 M).[26]

Syah Alam meninggal tahun 1806 M. Tahta kerajaan selanjutnya dipegang oleh Akbar II (1806-1837 M). Pada masa pemerintahannya Akbar memberi konsesi kepada EIC untuk mengembangkan usahanya di anak benua India sebagaimana yang diinginkan Inggris, tapi pihak perusahaan harus menjamin kehidupan raja dan keluarga istana. Dengan demikian, kekuasaan sudah berada di tangan Inggris, meskipun kedudukan dan gelar sultan dipertahankan. Bahadur Syah (1837-1858 M), penerus Akbar, tidak menerima isi perjanjian antara EIC dengan ayahnya itu, sehingga terjadi konflik antara kedua kekuatan tersebut.

Pada waktu yang sama, pihak EIC mengalami kerugian, karena penyelenggaraan administrasi perusahaan yang kurang efisien, padahal mereka harus tetap menjamin kehidupan istana. Untuk menutupi kerugian dan sekaligus memenuhi kebutuhan istana, EIC mengadakan pungutan yang tinggi terhadap rakyat secara ketat dan cenderung kasar. Karena rakyat merasa ditekan, maka mereka, baik yang beragama Hindu maupun Islam bangkit mengadakan pemberontakan. Mereka meminta kepada Bahadur Syah untuk menjadi lambang perlawanan itu dalam rangka mengembalikan kekuasaan kerajaan Mughal di India. Dengan demikian, terjadilah perlawanan rakyat India terhadap kekuatan Inggris pada bulan Mei 1857 M.

Perlawanan mereka dapat dipatahkan dengan mudah, karena Inggris mendapat dukungan dari beberapa penguasa lokal Hindu dan Muslim. Inggris kemudian menjatuhkan hukuman yang kejam terhadap para pemberontak. Mereka diusir dari kota Delhi. Rumah-rumah ibadah banyak yang dihancurkan, dan Bahadur Syah, raja Mughal terakhir, diusir dari istana (1858M). Dengan demikian berakhirlah sejarah kekuasaan Dinasti Mughal di daratan India dan tinggallah disana umat Islam yang harus berjuang mempertahankan eksistensi mereka.

III. PENUTUP/KESIMPULAN

Pembentukan kerajaan Mughal di India menjadi kerajaan Islam terjadi pada masa kekuasaan dinasti Bani Umayyah yaitu pada masa khalifah al Walid yang di pimpin oleh panglima Muhammad Ibnu Qasim. Dalam penaklukan wilayah India ini, kemudian pasukan Ghaznawiyyah dibawah pimpinan Sultan al Makmun mengembangkan kedudukan Islam di wilayah ini, dan berhasil menaklukkan kekuasaan Hindu, dan mengIslamkan sebagian masyarakt India pada tahun 1020 M . Setelah dinasti Ghaznawiyyah hancur, muncul dinasti-dinasti kecil seperti Mamluk (1026-1290 M), Halji (296-1316 M), Tuglug (1320-1412 M), dan dinasti-dinasti lain.

DAFTAR PUSTAKA


Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

RISQA


SKRIPSI

MENGEMBANGKAN PERILAKU SOSIAL MELALUI METODE BERMAIN PERAN DI TAMAN KANAK-KANAK PERTIWI PINRANG

RISQA

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU ANAK USIA DINI

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR

2010

MENGEMBANGKAN PERILAKU SOSIAL MELALUI METODE BERMAIN PERAN DI TAMAN KANAK-KANAK PERTIWI PINRANG

SKRIPSI

Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Pendidikan

Universitas Negeri Makassar untuk Memenuhi

Sebagian Persyaratan Memperoleh Gelar

Sarjana Pendidikan (S.Pd)

Oleh:

RISQA

NIM. 074 924 411

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU ANAK USIA DINI

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR

2010

PERSETUJUAN PEMBIMBINA


Skripsi dengan judul “Mengembangkan Perilaku Sosial Melalui Bermain Peran di Taman Kanak-Kanak Pertiwi Pinrang”

Atas Nama :

Nma : Risqa

Nomor Induk Mahasiswa : 074 924 411

Jurusan / Prodi : PGAUD

Fakultas : Ilmu Pendidikan

Setelah diperiksa dan diteliti, telah memenuhi syarat untuk diujikan

Makassar, …………………2010

Pembimbing I, Pembimbing II,

Dra. Sumartini, M.Pd Muhammad Akil Musi, S.Pd., M.Pd.

Nip. 19491228 197803 2 002 Nip. 19752404 200604 1 001

Disahkan :

Ketua Jurusan/Prodi PGAUD,

Dra. Hj. Bulkis Said, M.Si

Nip. 19500911 197903 2 001

PENGESAHAN UJIAN SKRIPSI

Skripsi diterima oleh Panitia Ujian Skripsi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Makassar dengan SK Dekan No. …/J38.I.3.1/PP/2010 Tanggal ………….2010 untuk memenuhi sebagian persyaratan memperoleh gelar Sarjana Pendidikan pada Jurusan Pendidikan Anak Usia Dini pada hari ………. Tanggal……..2010.

Disahkan Oleh

Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan

Drs. Ismail Tolla, M.Pd.

Nip. 19531230 198003 1 005

Panitia Ujian:

1. Ketua : (…………………………)

2. Sekertaris : (…………………………)

3. Pembimbing I : Dra. Sumartini, M.Pd. (…………………………)

4. Pembimbing II : Muhammad Akil Musi, S.Pd, M.Pd (…………………………)

5. Penguji I : (…………………………)

6. Penguji II : (…………………………)

PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI

Saya yang bertanda tangan di bawah ini :

Nama : RISQA

Nomor Induk Mahasiswa : 074 924 411

Jurusan / Prodi : Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)

Judul Skripsi : ”Mengembangkan Perilaku Sosial Melalui Merode Bermain Peran di Taman Kanak-Kanak Pertiwi Pinrang”

Menyatakan dengan sebenarnya bahwa skripsi yang saya tulis ini benar merupakan hasil karya saya sendiri dan bukan merupakan pengambilan tulisan atau pikiran orang lain yang saya akui sebagai hasil tulisan atau pikiran sendiri.

Apabila dikemudian hari terbukti atau dapat dibuktikan bahwa skripsi ini hasil jiplakan, maka saya bersedia menerima sanksi atas perbuatan tersebut sesuai ketentuan yang berlaku.

Parepare, 01 September 2010

Yang Membuat Pernyataan

RISQA

NIM. 074 924 411

MOTTO

Hidup adalah sebuah tantangan, maka hadapilah

Hidup adalah sebuah lagu, maka nyanyikanlah

Hidup adalah sebuah mimpi, maka sadarilah

Hidup adalah sebuah permainan, maka permainkanlah

Hidup adalah cinta, maka nikmatilah

Tidak ada rahasia iuntuk menggapai sukses

Sukses itu dapat terjadi karena persiapan, kerja keras dan mau belajar dari Kegagalan (Hukuman)

PERSEMBAHAN :

Kupersembahkan skripsi ini untuk :

1. Keluarga tercinta Bapak, Ibu, Suami, dan Adik yang selalu memberi dukungan dan semangat.

2. Teman-temanku seangkatan tahun 2007 yang telah memberi dukungan moril maupun spiritual

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelasaikan susunan skripsi dengan judul “Mengembangkan Perilaku Sosial Melalui Metode Bermain Peran di Taman Kanak-Kanak Pertiwi Pinrang”

Skripsi ini diajukan untuk memenuhi sebagai syarat dalam menyelesaikan program Studi Strata 1 Jurusan Pendidikan Guru Anak Usia Dini pada Fakultas Ilmu Pendidikan Unifersitas Negeri Makassar

Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada yang terhormat :

1. Ibu Dra. Hj. Bulkis Said, M. Si selaku Ketua Jurusan/Prodi PGAUD Unuversitas Negeri Makassar

2. Ibu Dra. Sumartini, M.Pd. selaku pembimbing I yang telah memberikan bimbingan dan petunjuk serta saran dalam penyusunan skripsi ini.

3. Bapak Muhammad Akil Musi, S.Pd., M.Pd. selaku pembimbing II yang telah memberikan bimbingan dan petunjuk serta saran dalam penyusunan skripsi ini.

4. Bapak Dan Ibu Dosen Jurusan/Prodi Jurusan PGAUD yang telah membari bekal kepada peneliti dalam penyusunan skripsi

5. Kepala Taman Kanak-Kanak Pertiwi Pinrang yang telah memberi dorongan dan semangat serta mengijinkan peneliti mengadakan penelitian di TK Petiwi Pinrang.

6. Bapak dan Ibu serta keluarga tercinta yang telah memberikan bimbingan, dorongan serta do’a restu sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

7. Teman-teman PGAUD angkatan 2007 dan saudara seperjuanganku yang telah memberi semangat, motivasi dan bantuan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini

Kami menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh sebab itu dengan senang hati penulis menerima kritik dan saran yang bersifat membangun dari kemajuan bersama.

Akhir kata penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi kita semua khususnya pembaca.

Penulis,

RISQA

NIM. 074 924 411

DAFTAR ISI

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING………………………………………………… ii

HALAMAN JUDUL………………………………………………………………………………………. i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING…………………………………………. ii

HALAMAN PENGESAHAN………………………………………………………………………… iii

PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI…………………………………………………………. iv

KATA PENGANTAR……………………………………………………………………………………. v

DAFTAR ISI……………………………………………………………………………………………….. vii

ABSTRAK ……… ix

BAB I. PENDAHULUAN…………………………………………………………………………….. 1

A. Latar Belaang Masalah…………………………………………………………………… 1

B. Fokus Masalah………………………………………………………………………………. 4

C. Tujuan Penelitian…………………………………………………………………………… 4

D. Manfaat Penelitian…………………………………………………………………………. 5

BAB II. KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR………………………………… 6

A. Kajian Pustaka………………………………………………………………………………. 6

1. Perilaku Sosial……………………………………………………………………………. 6

2. Bermain Peran………………………………………………………………………….. 11

B. Kerangka Pikir…………………………………………………………………………….. 16

BAB III. METODE PENELITIAN……………………………………………………………….. 18

A. Pendekatan dan Jenis Penelitian………………………………………………….. 18

B. Fokus Penelitian………………………………………………………………………… 18

C. Deskripswi Lokasi Penelitian………………………………………………………. 19

D. Unit Analisis……………………………………………………………………………… 19

E. Teknik Pengumpulan Data…………………………………………………………… 20

F. Anilisis dan Validasi Data…………………………………………………………… 21

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN…………………………………. 22

A. Hasil Penelitian………………………………………………………………………….. 22

1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian………………………………………….. 22

2. Mengembangkan perilaku Sosial Melalui Metode Bermain Peran

di Taman Kanak-Kanak Pertiwi Pinrang…………………………………… 24

B. Pembahasan………………………………………………………………………………. 32

BAB V. PENUTUP……………………………………………………………………………….. ….. 35

A. Kesimpulan……………………………………………………………………………….. 35

B. Saran-Saran………………………………………………………………………….. ….. 36

DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………………………………… 37

LAMPIRAN……………………………………………………………………………………………………. 38

ABSTRAK

Risqa, 2010. Mengembangkan Perilaku Sosial Melalui Metode Bermain Peran di Taman Kanak-Kanak Pertiwi Pinrang. Skripsi. Dibimbing oleh Sumarti dan Muhammad Akil Musi. Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Makassar.

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan peningkatan perilaku sosial anak melalui metode bermain peran di Taman Kanak-Kanak Pertiwi Pinrang

Jenis penelitian ini adalah kualitatif yang menjadikan 9 orang guru Taman Kanak-Kanak Pertiwi Pinrang sebagai unit analisis. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik observasi terhadap aktivitas belajar anak dalam kaitannya dengan penerapan metode bermain peran, serta teknik wawancara terhadap 9 orang guru.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan perilaku sosial melalui metode bermain peran di Taman Kanak-Kanak Pertiwi Pinrang adalah bahwa peningkatan perilaku sosial anak di Taman Kanak-Kanak Pertiwi Pinrang adalahbahwa setiap anak senantiasa memberikan pujian terhadap keberhasilan orang lain dan kepada orang yang telah memberi pertolongan dan bantuan kepadanya. Anak dapat mengemukakan keluhannya pada teman curhatnya, serta menyatakan penolakan terhadap sesuatu yang tidak disetujuinya. Selain itu, anak saling bertukar pengalaman dan memberi tahu kepada teman apa yang diketahuinya, serta anak senantiasa memberi saran untuk kepentingan bersama dan anak senantiasa memelihara pertemanan dan persahabatan antara satu dengan yang lainnya.

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

H. Abdullah Botma

MENUJU MASYARAKAT MADANI MELALUI
DEMOKRATISASI PENDIDIKAN

Oleh :

Drs. H. Abdullah Botma, M.Ag

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM

STAI DDI PINRANG

2008

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Ungkapan lisan dan tulisan tentang masyarakat madani semakin marak akhir-akhir ini seiring dengan bergulirnya proses reformasi di Indonesia. Proses ini ditandai dengan munculnya tuntutan kaum reformis untuk mengganti Orde Baru yang berusaha mempertahankan tatanan masyarakat yang status quo menjadi tatanan masyarakat yang madani. Untuk mewujudkan masyarakat madani tidaklah semudah membalikan telapak tangan. Namun, memerlukan proses panjang dan waktu serta menuntut komitmen masing-masing warga bangsa ini untuk mereformasi diri secara total dan konsisten dalam suatu perjuangan yang gigih.

Berbagai upaya perlu dilakukan dalam mewujudkan masyarakat madani, baik yang berjangka pendek maupun yang berjangka panjang. Untuk yang berjangka pendek dilaksanakan dengan memilih dan menempatkan pemimpin-pemimpin yang dapat dipercaya (credible), dapat diterima (acceptable), dan dapat memimpin (capable). Untuk jangka panjang antara lain adalah dengan menyiapkan sumber daya manusia yang berwawasan dan berperilaku madani melalui perspektif pendidikan. Perspektif pendidikan penting untuk dikaji mengingat konsep masyarakat madani sebenarnya merupakan bagian dari tujuan pendidikan nasional. Jadi, pendidikan menjadi soko guru dalam mewujudkan masyarakat madani.

Artikel ini membatasi pembahasannya pada pencapaian tujuan jangka panjang masyarakat madani melalui demokratisasi pendidikan.

Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional ditegaskan bahwa, “pendidikan nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia yang beriman dan bertakwa terhadap

Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.” Melihat kelengkapan tujuan pendidikan nasional tersebut seharusnya proses pendidikan dapat mencapai tujuan tersebut sepenuhnya. Namun, dalam praktiknya ternyata tujuan pendidikan nasional tersebut belum sepenuhnya tercapai. Hal itu mengakibatkan lulusan yang dihasilkan belum sepenuhnya mencerminkan perilaku-perilaku yang diharapkan oleh tujuan nasional tersebut sehingga timbullah gagasan untuk membentuk masyarakat madani termasuk di masyarakat kampus.

Sejak digulirkannya istilah masyarakat madani pada tahun 1995 oleh Datuk Anwar Ibrahim, yang kemudian diikuti oleh Nurcholis Madjid (Mahasin, 1995: ix), sejak itu pula upaya untuk mewujudkan masyarakat madani telah “menggoda” dan memotivasi para pakar pendidikan untuk menata dan mencari masukan guna mewujudkan masyarakat madani yang dimaksud. Namun, pihak-pihak yang skeptis meragukan keberhasilan bangsa Indonesia mewujudkan masyarakat madani. Dalam hal ini, Hefner (1998: 1) menyatakan bahwa masyarakat madani adalah sebuah impian (dream) suatu komunitas tertentu. Oleh karena itu, Hefner meragukan upaya bangsa Indonesia dalam mewujudkan masyarakat madani yang diharapkannya, karena formatnya pun belum jelas. Senada dengan pendapat Hefner tersebut, Mulder (1999) memberikan dugaan bahwa Indonesia masih akan jauh dari pembentukan masyarakat madani karena demokratisasi pendidikan belum berjalan lancar, sistem pendidikannya masih menerapkan faham kekuasaan, masih terlalu berbau feodal, dan belum memperhatikan aspirasi kemajemukan peserta didik secara memadai.

B. Rumusan Masalah

Jika reformasi dan inovasi pendidikan memang mendesak untuk dilakukan dan agar kita memiliki andil dalam membentuk dan menghadapi masyarakat madani, maka permasalahannya antara lain adalah, “sampai sejauh mana pemahaman kita tentang makna masyarakat madani (ontologinya)?, nilai-nilai manfaat apa yang diperoleh dengan terbentuknya masyarakat madani (aksiologinya)?, dan bagaimana pemecahan masalahnya atau bagaimana cara melaksanakan demokratisasi pendidikan untuk mewujudkan masyarakat madani (epistemologinya)?, bagaimanakah arah reformasi dan inovasi pendidikan harus dilakukan?, bagaimanakah agar demokratisasi pendidikan itu berjalan mulus tanpa hambatan dan penyimpangan?, bagaimana kekuasaan dan kepentingan pribadi atau golongan tidak menggoda untuk menunda demokratisasi pendidikan?. Mengingat banyaknya masalah yang dihadapi dalam mewujudkan masyarakat madani, maka pada kesempatan ini pembahasan dibatasi pada apakah makna masyarakat madani itu, apakah manfaat mewujudkan masyarakat madani itu?, dan bagaimana cara mewujudkan masyarakat madani melalui pendidikan demokratisasi pendidikan?

BAB II

PEMBAHASAN

A. Landasan Teori

Seligman seperti yang dikutip Mun’im (1994: 6) mendefinisikan istilah civil society sebagai seperangkat gagasan etis yang mengejawantah dalam berbagai tatanan sosial, dan yang paling penting dari gagasan ini adalah usahanya untuk menyelaraskan berbagai konflik kepentingan antarindividu, masyarakat, dan negara. Sedangkan civil society menurut Havel seperti yang dikutip Hikam (1994: 6) ialah rakyat sebagai warga negara yang mampu belajar tentang aturan-aturan main melalui dialog demokratis dan penciptaan bersama batang tubuh politik partisipatoris yang murni. Gerakan penguatan civil society merupakan gerakan untuk merekonstruksi ikatan solidaritas dalam masyarakat yang telah hancur akibat kekuasaan yang monolitik. Secara normatif-politis, inti strategi ini adalah usaha untuk memulihkan kembali pemahaman asasi bahwa rakyat sebagai warga negara memiliki hak untuk meminta pertanggungjawaban kepada para penguasa atas segala yang mereka lakukan atas nama pemerintah.

Gellner (1995:2) menyatakan bahwa masyarakat madani akan terwujud manakala terjadi tatanan masyarakat yang harmonis, yang bebas dari eksploitasi dan penindasan. Pendek kata, masyarakat madani ialah kondisi suatu komunitas yang jauh dari monopoli kebenaran dan kekuasaan. Kebenaran dan kekuasaan adalah milik bersama. Setiap anggota masyarakat madani tidak bisa ditekan, ditakut-takuti, dicecal, diganggu kebebasannya, semakin dijauhkan dari demokrasi, dan sejenisnya. Oleh karena itu, perjuangan menuju masyarakat madani pada hakikatnya merupakan proses panjang dan produk sejarah yang abadi dan perjuangan melawan kezaliman dan dominasi para penguasa menjadi ciri utama masyarakat madani.

Perjuangan masyarakat madani di Indonesia pada awal pergerakan kebangsaan dipelopori oleh Syarikat Islam (1912) dan dilanjutkan oleh Soeltan Syahrir pada awal kemerdekaan (Norlholt, 1999: 15-16). Jiwa demokrasi Soeltan Syahrir ternyata harus menghadapi kekuatan represif baik dari rezim Orde Lama di bawah pimpinan Soekarno maupun rezim Orde Baru di bawah pimpinan Soeharto, tuntutan perjuangan transformasi menuju masyarakat madani pada era reformasi ini tampaknya sudah tak terbendungkan lagi dengan tokoh utamanya adalah Amien Rais dari Yogyakarta.

Gellner seperti yang dikutip Mahasin (1995: ix) menyatakan bahwa masyarakat madani sebagai terjemahan bahasa Inggris, civil society. Kata civil society sebenarnya berasal dari bahasa Latin yaitu civitas dei yang artinya kota Illahi dan society yang berarti masyarakat. Dari kata civil akhirnya membentuk kata civilization yang berarti peradaban. Oleh sebab itu, kata civil society dapat diartikan sebagai komunitas masyarakat kota yakni masyarakat yang telah berperadaban maju. Konsepsi seperti ini menurut Madjid seperti yang dikutip Mahasin (1995: x) pada awalnya lebih merujuk pada dunia Islam yang ditunjukan oleh masyarakat kota Arab. Sebaliknya, lawan dari kata atau istilah masyarakat nonmadani adalah kaum pengembara, badawah, yang masih membawa citranya yang kasar, berwawasan pengetahuan yang sempit, masyarakat puritan, tradisional penuh mitos dan takhayul, banyak memainkan kekuasaan dan kekuatan, sering dan suka menindas, dan sifat-sifat negatif lainnya. Keadaan masyarakat nonmadani ini menurut Suwardi (1999:67) seperti yang ditunjukan oleh perilaku manusia Orde Baru yakni pada saat itu ada mitos bahwa hanya Soeharto saja yang mampu memimpin bangsa dengan menggunakan kekuatan ABRI untuk mempertahankan staus quo. Lebih lanjut ditambahkan oleh Suwardi (1999:67) bahwa ada satu hal yang perlu dipahami yaitu masyarakat madani bukanlah masyarakat yang bebas dari senjata atau ABRI (sekarang TNI); civil society tidak berkebalikan dengan masyarakat pimpinan TNI seperti yang banyak diasumsikan orang awam.

Rahardjo (1997: 17-24) menyatakan bahwa masyarakat madani merupakan terjemahan dari bahasa Inggris, civil society. Istilah civil society sudah ada sejak Sebelum Masehi. Orang yang pertama kali mencetuskan istilah civil society ialah Cicero (106-43 SM), sebagai orator Yunani Kuno. Civil society menurut Cicero ialah suatu komunitas politik yang beradab seperti yang dicontohkan oleh masyarakat kota yang memiliki kode hukum sendiri. Dengan konsep civility (kewargaan) dan urbanity (budaya kota), maka kota difahami bukan hanya sekedar konsentrasi penduduk, melainkan juga sebagai pusat peradaban dan kebudayaan

Istilah madani menurut Munawir (1997: 1320) sebenarnya berasal dari bahasa Arab, madaniy. Kata madaniy berakar dari kata kerja madana yang berarti mendiami, tinggal, atau membangun. Kemudian berubah istilah menjadi madaniy yang artinya beradab, orang kota, orang sipil, dan yang bersifat sipil atau perdata. Dengan demikian, istilah madaniy dalam bahasa Arabnya mempunyai banyak arti. Konsep masyarakat madani menurut Madjid (1997: 294) kerapkali dipandang telah berjasa dalam menghadapi rancangan kekuasaan otoriter dan menentang pemerintahan yang sewenang-wenang di Amerika Latin, Eropa Selatan, dan Eropa Timur.

Hall (1998: 1) menyatakan bahwa masyarakat madani identik dengan civil society, artinya suatu gagasan, angan-angan, bayangan, cita-cita suatu komunitas yang dapat terejawantahkan ke dalam kehidupan sosial. Dalam masyarakat madani, pelaku sosial akan berpegang teguh pada peradaban dan kemanusiaan. Hefner (1998: 16-20) menyatakan bahwa masyarakat madani merupakan masyarakat modern yang bercirikan kebebasan dan demokratisasi dalam berinteraksi di masyarakat yang semakin plural dan heterogen. Dalam keadaan seperti ini, masyarakat diharapkan mampu mengorganisasikan dirinya dan tumbuh kesadaran diri dalam mewujudkan peradaban. Mereka akhirnya mampu mengatasi dan berpartisipasi dalam kondisi global, kompleks, penuh persaingan dan perbedaan.

Masyarakat madani menurut Rahardjo seperti yang dikutip Nurhadi (1999: 9) ialah masyarakat yang beradab. Istilah masyarakat madani selain mengacu pada konsep civil society juga berdasarkan pada konsep negara-kota Madinah yang dibangun Nabi Muhammad SAW pada tahun 622M. Masyarakat madani juga mengacu pada konsep tamadhun (masyarakat yang berperadaban) yang diperkenalkan oleh Ibn Khaldun dan konsep Al Madinah al fadhilah (Madinah sebagai Negara Utama) yang diungkapkan oleh filsuf Al Farabi pada abad pertengahan.

Dalam memasuki milenium III, tuntutan masyarakat madani di dalam negeri oleh kaum reformis yang anti status quo menjadi semakin besar. Masyarakat madani yang mereka harapkan adalah masyarakat yang lebih terbuka, pluralistik, dan desentralistik dengan partisipasi politik yang lebih besar (Nordholt, 1999: 16), jujur, adil, mandiri, harmonis, memihak yang lemah, menjamin kebebasan beragama, berbicara, berserikat dan berekspresi, menjamin hak kepemilikan dan menghormati hak-hak asasi manusia (Farkan, 1999: 4).

Berdasarkan pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa masyarakat madani pada prinsipnya memiliki makna ganda yaitu: demokrasi, transparansi, toleransi, potensi, aspirasi, motivasi, partisipasi, konsistensi, komparasi, koordinasi, simplifikasi, sinkronisasi, integrasi, emansipasi, dan hak asasi, namun yang paling dominan adalah masyarakat yang demokratis. Perbedaan yang tampak jelas adalah civil society tidak mengaitkan prinsip tatanannya pada agama tertentu, sedangkan masyarakat madani (al-madaniy) jelas mengacu pada agama Islam. Konsep masyarakat madani menurut Islam adalah bangunan politik yang: demokratis, partisipatoris, menghormati dan menghargai publik seperti: kebebasan hak asasi, partisipasi, keadilan sosial, menjunjung tinggi etika dan moralitas, dan lain sebagainya. Dengan mengetahui makna madani, maka istilah masyarakat madani secara mudah dapat difahami sebagai masyarakat yang beradab, masyarakat sipil, dan masyarakat yang tinggal di suatu kota atau berfaham masyarakat kota yang pluralistik.

Manfaat yang diperoleh dengan terwujudnya masyarakat madani ialah terciptanya masyarakat Indonesia yang demokratis sebagai salah satu tuntutan reformasi di dalam negeri dan tekanan-tekanan politik dan ekonomi dari luar negeri. Di samping itu, menurut Suwardi (1999: 66) melalui masyarakat madani akan mendorong munculnya inovasi-inovasi baru di bidang pendidikan. Selanjutnya, ditambahkan oleh Daliman (1999: 78-79) bahwa dengan terwujudnya masyarakat madani, maka persoalan-persoalan besar bangsa Indonesia seperti: konflik-konflik suku, agama, ras, etnik, golongan, kesenjangan sosial, kemiskinan, kebodohan, ketidakadilan pembagian “kue bangsa” antara pusat dan daerah, saling curiga serta ketidakharmonisan pergaulan antarwarga dan lain-lain yang selama Orde Baru lebih banyak ditutup-tutupi, direkayasa dan dicarikan kambing hitamnya; diharapkan dapat diselesaikan secara arif, terbuka, tuntas, dan melegakan semua pihak, suatu prakondisi untuk dapat mewujudkan kesejahteraan lahir batin bagi seluruh rakyat. Dengan demikian, kekhawatiran akan terjadinya disintegrasi bangsa dapat dicegah.

Guna mewujudkan masyarakat madani dibutuhkan motivasi yang tinggi dan partisipasi nyata dari individu sebagai anggota masyarakat. Hal ini mendukung pendapat Suryadi (1999: 23) dan Daliman (1999: 78) yang intinya menyatakan bahwa untuk mewujudkan masyarakat madani diperlukan proses dan waktu serta dituntut komitmen masing-masing warganya untuk mereformasi diri secara total dan selalu konsisten dan penuh kearifan dalam menyikapi konflik yang tak terelakan. Tuntutan terhadap aspek ini sama pentingnya dengan kebutuhan akan toleransi sebagai instrumen dasar lahirnya sebuah konsensus atau kompromi.

Ciri utama masyarakat madani adalah demokrasi. Demokrasi memiliki konsekuensi luas di antaranya menuntut kemampuan partisipasi masyarakat dalam sistem politik dengan organisasi-organisasi politik yang independen sehingga memungkinkan kontrol aktif dan efektif dari masyarakat terhadap pemerintah dan pembangunan, dan sekaligus masyarakat sebagai pelaku ekonomi pasar. Bila masyarakat Indonesia tidak demokratis, maka Indonesia akan mendapat tekanan-tekanan politik dari kaum reformis di dalam negeri. Di lain pihak, dari luar negeri, Indonesia akan mendapat tekanan-tekanan politik dan ekonomi dari PBB, Bank Dunia, IMF, dan negara-negara penganut faham demokratis. Sementara ini, ekonomi kita masih sangat bergantung pada pinjaman Bank Dunia dan IMF. Jika Bank Dunia dan IMF tidak memberikan bantuannya, maka ekonomi kita akan semakin terpuruk di mata internasional. Jika ekonomi kita semakin terpuruk, maka kerusuhan sosial akan semakin meningkat yang pada gilirannya membahayakan stabilitas nasional dan dikhawatirkan akan terjadi disintegrasi bangsa. Di samping itu, mengingat kondisi masyarakat Indonesia yang khas sebagai unity dan diversity, maka karakteristik masyarakat madani cocok diterapkan di Indonesia sehingga persatuan dan kesatuan, toleransi umat beragama, persaudaraan, saling mengasihi sesama umat, dan persamaan hak akan menjadi lebih terjamin. Secara ringkas dapat dikatakan bahwa ciri utama masyarakat madani Indonesia adalah demokrasi yang menjunjung tingi nilai-nilai kemanusiaan, masyarakat yang mempunyai faham keagamaan yang berbeda-beda, penuh toleransi, menegakkan hukum dan peraturan yang berlaku secara konsisten dan berbudaya (Hartono, 1999: 55).

B. Pemecahan Masalah

Salah satu cara untuk mewujudkan masyarakat madani adalah dengan melakukan demokratisasi pendidikan. Demokrasi sendiri berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari kata demos (rakyat) dan kratos (pemerintahan). Jadi, demokrasi adalah suatu bentuk pemerintahan dengan kekuasaan di tangan rakyat. Dalam perkembangannya, demokrasi bermakna semakin spesifik lagi yaitu fungsi-fungsi kekuasaan politik merupakan sarana dan prasarana untuk memenuhi kepentingan rakyat. Konsep demokrasi memberi keyakinan bahwa unsur-unsur rakyat senantiasa menjadi faktor utama yang dilibatkan dalam pemerintahan. Oleh karena itu, demokrasi mendapat sambutan yang luar biasa di dalam hati sanubari rakyat karena demokrasi lebih berpihak kepada rakyat. Dengan demokrasi, rakyat boleh berharap bahwa masa depannya ditentukan oleh dan untuk rakyat, sedangkan demokratisasi ialah proses menuju demokrasi. Tujuan demokratisasi pendidikan ialah menghasilkan lulusan yang merdeka, berpikir kritis dan sangat toleran dengan pandangan dan praktik-praktik demokrasi (Suryadi, 1999: 23).

Generasi penerus sebagai anggota masyarakat harus benar-benar disiapkan untuk membangun masyarakat madani yang dicita-citakan. Masyarakat dan generasi muda yang mampu membangun masyarakat madani dapat dipersiapkan melalui pendidikan (Hartono, 1999: 55). Senada dengan pendapat Hartono tersebut, Marzuki (1999: 50) menyatakan bahwa salah satu cara untuk mewujudkan masyarakat madani adalah melalui jalur pendidikan, baik di sekolah maupun di luar sekolah.

Generasi penerus merupakan anggota masyarakat madani di masa mendatang. Oleh karena itu, mereka perlu dibekali cara-cara berdemokrasi melalui demokratisasi pendidikan. Dengan demikian, demokratisasi pendidikan berguna untuk menyiapkan peserta didik agar terbiasa bebas berbicara dan mengeluarkan pendapat secara bertanggung jawab, turut bertanggung jawab (melu angrungkebi), terbiasa mendengar dengan baik dan menghargai pendapat orang lain, menumbuhkan keberanian moral yang tinggi, terbiasa bergaul dengan rakyat, ikut merasa memiliki (melu handarbeni), sama-sama merasakan suka dan duka dengan masyarakatnya (padhasarasa), dan mempelajari kehidupan masyarakat. Kelak jika generasi penerus ini menjadi pemimpin bangsa, maka demokratisasi pendidikan yang telah dialaminya akan mengajarkan kepadanya bahwa seseorang penguasa tidak boleh terserabut dari budaya dan rakyatnya, pemimpin harus senantiasa mengadakan kontak dengan rakyatnya, mengenal dan peka terhadap tuntutan hati nurani rakyatnya, suka dan duka bersama, menghilangkan kesedihan dan penderitaan-penderitaan atas kerugian-kerugian yang dialami rakyatnya. Pernyataan ini mendukung pendapat Suwardi (1999: 66) yang menyatakan bahwa sistem pendidikan yang selalu mengandalkan kekuasaan pendidik, tanpa memperhatikan pluralisme subjek didik, sudah saatnya harus diinovasi agar tercipta masyarakat madani. Upaya ke arah ini dapat ditempuh melalui demokratisasi pendidikan.

Demokratisasi pendidikan tidak harus dimulai dari sistem pendidikan berskala nasional. Bahkan akan lebih efektif kalau dimulai dari sistem pendidikan berskala lokal berupa pendidikan di dalam kelas. Dalam proses PBM di kelas, demokrasi pendidikan dapat diarahkan pada pembaharuan kultur dan norma keberadaban, sebab menurut Zamroni (1997: 1) hal ini merupakan inti dari proses pendidikan.

Pelaksanaan demokratisasi pendidikan di kelas harus mampu membawa peserta didik untuk menghargai kemampuan teman dan guru, kemampuan sosial-ekonomi teman dan guru, kebudayaan teman dan guru, dan sejumlah kemajemukan lainnya (Vaizey, 1976: 115). Di samping itu, menurut Battle seperti yang dikutip Shannon (1978: 32) demokratisasi pendidikan dalam PBM juga dapat ditempuh dengan mengajarkan hal-hal yang berhubungan dengan dunia sekarang yang sangat dibutuhkan oleh peserta didik dan masyarakatnya (pragmatisme), tanpa harus melupakan hari kemarin.

Sebagai contoh jika peserta didik kebanyakan berlatar belakang masyarakat petani, maka orang tua atau keluarganya cenderung menuntut hasil nyata dari pendidikan anaknya agar mampu meningkatkan produktivitas hasil pertanian. Jika peserta didik kebanyakan berlatar belakang masyarakat nelayan, maka orang tua atau keluarganya cenderung menuntut hasil nyata dari pendidikan anaknya agar mampu meningkatkan produktivitas hasil perikanannya. Jika peserta didik kebanyakan berlatar belakang masyarakat bisnis, maka orang tua atau keluarganya cenderung menuntut hasil nyata dari pendidikan anaknya agar mampu meningkatkan produktivitas usaha bisnisnya, dan seterusnya.

Contoh-contoh tersebut di atas menggambarkan bahwa dalam melakukan inovasi pendidikan yang berkonteks demokratisasi pendidikan perlu diperhatikan masalah-masalah pragmatik yakni mulai dari pemilihan materi ajar, penentuan tujuan, pemilihan metode, pemilihan evaluasi hasil belajar, output lulusan, sampai kebutuhan yang diharapkan dunia kerja. Hal ini cukup beralasan karena pengajaran yang kurang menekankan pada konteks pragmatik pada gilirannya akan menyebabkan peserta didik akan terlepas dari akar budaya dan masyarakatnya. Hal ini juga dinyatakan oleh Barnadib (1997: 1) bahwa pendidikan memang sebagai upaya mengembangkan kemanusiaan dan pengalihan kebudayaan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Itulah sebabnya pengajaran pragmatik yaitu pengajaran yang menekankan pada aspek fungsi akan menjadi salah satu alternatif pencapaian pengajaran yang berwawasan kemanusiaan dan peradaban. Oleh sebab itu, di dalam PBM yang pragmatik akan tercipta suasana kondusif bagi demokratisasi pendidikan.

Asumsi pendidikan pragmatik diturunkan dari pemeo klasik yang dikemukakan Rodrigues dan Badaczewski (1978: 278) yang menyatakan, “Kita boleh membawa kuda masuk ke sungai, namun kita tidak mampu menyuruh kuda itu meminum air.” Maknanya adalah pengajar (kita) hanya bisa memberikan dorongan (tut wuri handayani) kepada peserta didik (kuda), namun biarkan peserta didik itu sendiri yang memanfaatkan informasi (air) itu. Biarlah peserta didik itu sendiri yang melakukan SITR (seleksi, interpretasi, tranformasi, dan revisi) terhadap semua informasi yang telah diterimanya. Seleksi berarti memilih informasi yang lengkap, objektif, dan relevan. Interpretasi berarti pemberian makna. Tranformasi berarti mampu mengemasnya kembali dengan bahasanya sendiri dan menawarkan gagasan-gagasan baru ke pihak lain. Revisi berarti terbuka untuk memperbaiki gagasan-gagasannya setelah mendapat masukan yang konstruktif dari pihak lain.

Dalam proses pengajaran pragmatik, pendidik tidak monopoli dalam memberi dan mencari informasi. Intervensi pendidik adalah sebagai fasilitator, dinamisator, mediator, dan motivator. Sebagai fasilitator, pendidik harus memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mencoba menemukan sendiri makna informasi yang diterimanya. Sebagai dinamisator, pendidik harus berusaha menciptakan iklim PMB yang dialogis dan berorientasi pada proses. Sebagai mediator, pendidik harus memberikan rambu-rambu atau arahan agar peserta didik bebas belajar. Sebagai motivator, pendidik harus selalu memberikan dorongan agar peserta didiknya bersemangat dalam menuntut ilmu.

Dalam pendidikan pragmatik yang bersifat profesional diakui bahwa kelemahan pendidikan semata-mata hanya untuk menyiapkan tenaga kerja yang sifatnya praktis. Kalau demikian halnya, pendidikan hanya akan menciptakan bangsa tukang dan bukan bangsa pemikir. Namun, pendidik tidak hanya menerapkan pendidikan pragmatik melainkan juga pendidikan yang bersifat akademik yang bertugas menciptakan pemikir-pemikir bangsa yang sifatnya teoritis. Di samping tidak hanya teoritis, melainkan harus ada tindakan nyata dari hasil pemikirannya. Oleh sebab itu, perlu ada keseimbangan antara keterampilan operasional dengan kemampuan konseptual sehingga tercipta sumber daya manusia Indonesia yang berwawasan global dan sekaligus bertindak lokal.

Freire (1984: 24) menyarankan upaya untuk mencapai demokratisasi pendidikan yang berwawasan adalah dengan menciptakan kebebasan interaksi antara pendidik dengan peserta didiknya dalam PBM di kelas. Oleh sebab itu, PBM harus terbuka dan penuh dialog yang sehat dan bertanggung jawab antara pendidik dengan peserta didik. Interaksi antara peserta didik dan pendidik dalam bentuk egaliter dan kesetaraan (equity). Dengan adanya kesetaraan ini, kebebasan berinisiatif, berbeda aspirasi dan pendapat, dan keadilan dalam pendidikan akan terakomodasi. Bahkan Wahid seperti yang dikutip Freire (1994: xv) telah meyakinkan kita bahwa pendidikan memang merupakan wahana terpenting untuk mencapai kemerdekaan (kebebasan). Dengan kebebasan ini menurut Russel (1998: 63) akan mewujudkan demokratisasi pendidikan.

Komunikasi dalam demokratisasi pendidikan harus terjadi ke segala arah dan bukan hanya bersifat satu arah yaitu dari pendidik ke peserta (top down) melainkan juga ada keseimbangannya yaitu dari peserta didik dengan pendidik dan antarpeserta didik sendiri (network). Dengan model komunikasi top down timbul kecenderungan pendidik akan merasa capek sementara peserta didik tidak mengerti, pasif, bosan, mengantuk, dan lebih parah lagi peserta didik tidak mendapatkan informasi baru. Pendidik merupakan satu-satunya sumber belajar dengan otoritas yang sangat tinggi dan menganggap otak peserta didik bagaikan tong kosong yang siap diisi penuh dengan berbagai informasi darinya. Sebaliknya, dengan model komunikasi network, sumber belajar bukan hanya terletak pada pendidik melainkan juga pada peserta didik. Guru cenderung tidak merasa capek, peserta didik mengerti dengan belajar dari pengalamannya sendiri, aktif, senang, dan kaya dengan informasi baru.

Namun, selama ini terkesan bahwa pendidikan menganut asas subject matter oriented yang membebani peserta didik dengan informasi-informasi kognitif dan motorik yang kadang-kadang kurang relevan dengan kebutuhan dan tingkat perkembangan psikologis mereka. Pendidikan yang menyangkut ranah kognitif sudah dijalankan dengan perhatian yang besar. Pengelolaan pengajaran yang ada memberi kesan terlalu berorientasi pada ipteks termasuk juga keterampilan motorik terlalu berorientasi pada teknis (Moeldjanto, 1998: 63). Dengan asas ini dapat dihasilkan lulusan yang pandai, cerdas, dan terampil; tetapi kepandaian dan kecerdasan intelektual tersebut kurang diimbangi dengan kecerdasan emosional. Keadaan demikian terjadi karena kurangnya perhatian terhadap ranah afektif. Padahal ranah afektif sama penting peranannya dalam membentuk perilaku peserta didik. Sekarang, dalam mendukung pelaksanaan demokratisasi pendidikan, tibalah saatnya mengubah asas subject matter oriented ke student oriented. Orientasi pendidikan yang bersifat student oriented lebih menekankan pada pertumbuhan, perkembangan, dan kebutuhan peserta didik secara utuh baik lahir maupun batin. Dalam hal ini kecerdasan otak memang penting, tetapi kecerdasan emosional juga tidak kalah pentingnya.

Dalam suasana PBM yang demokratis terjadi egalitarian (kesetaraan atau sederajat dalam kebersamaan) antara pendidik dengan peserta didik. Pengajaran tidak harus top down namun diimbangi dengan bottom up sehingga tidak ada lagi pemaksaan kehendak pendidik tetapi akan terjadi tawar-menawar kedua belah pihak dalam menentukan tujuan, materi, media, PBM, dan evaluasi hasil belajarnya.

Hal serupa juga diakui Martadiatmadja (1986: 70-71) yang menyatakan bahwa jika pengajaran kurang pragmatik dan lebih menekankan pada pengajaran menghafal, maka hal ini jelas kurang bermanfaat. Teknik menghafal mendikte peserta didik untuk menggunakan sistem drill dan hanya akan menjejali materi dalam waktu singkat yang mungkin tidak sesuai dengan minat dan bakatnya. Bahkan menurut Suryadi dan Tilaar (1993: 196) akan menyuap peserta didik dengan berbagai informasi yang tinggal ditelan saja. Peserta didik tidak memiliki kesempatan untuk mencari dan mencerna sendiri informasi sesuai dengan bakat dan minatnya. Menurut Taroepratjeka (1996: 3) pendidikan yang berkonteks pragmatik sedapat mungkin harus mampu menghargai bakat, minat, dan tujuan peserta didik. Bila hal ini dilupakan, akibatnya peserta didik akan menjadi pembebek-pembebek dan bukan menjadi manusia yang lebih beradab dan berbudaya melalui proses pendidikan tersebut.

Sejalan dengan pendapat tersebut di atas, dalam pandangan Acarya (1991: 147-148) menyatakan bahwa demokratisasi pendidikan merupakan pendidikan hati nurani yang lebih humanistis dan beradab sesuai dengan cita-cita masyarakat madani. Dengan komunikasi struktural dan kultural antara pendidik dan peserta didik, maka akan terjadi interaksi yang sehat, wajar, dan bertanggung jawab. Peserta didik boleh saja berpendapat, berperasaan, dan bertindak sesuai dengan langkahnya sendiri dan mungkin saja berbeda dengan pendidiknya asalkan ada argumentasi yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Peserta didik bukan saja memahami demokrasi tetapi juga menjalani latihan seperti berdebat, menghargai pandangan dan harga diri orang lain, serta mematuhi aturan hukum yang diaplikasikan dalam setting diskusi. Peserta didik ditantang menguji validitas pikirannya dengan argumentasi-argumentasi yang rasional dan jika mungkin berdasarkan hasil penelitian yang seksama. Dalam iklim PBM yang demokratis, pendidik tidak harus merasa paling pandai di dalam kelasnya, tidak merasa paling benar di kelasnya, merasa telah menang belajar satu malam dibandingkan dengan peserta didiknya; tetapi akan terjadi saling tukar informasi dan pengalaman dengan peserta didiknya. Kondisi ini dimungkinkan akan terjadi dalam demokratisasi pendidikan.

BAB III PENUTUP/ KESIMPULAN

Secara ontologis, masyarakat madani bermakna ganda yaitu suatu tatanan masyarakat yang menekankan pada nilai-nilai: demokrasi, transparansi, toleransi, potensi, aspirasi, motivasi, partisipasi, konsistensi, komparasi, koordinasi, simplifikasi, sinkronisasi, integrasi, emansipasi, dan hak asasi. Namun, yang paling dominan adalah masyarakat yang demokratis. Secara aksiologis, masyarakat madani perlu segera diwujudkan karena bermanfaat untuk meredam berbagai tuntutan reformasi dari dalam negeri maupun tekanan-tekanan politik dan ekonomi dari luar negeri. Di samping itu, melalui masyarakat madani akan muncul inovasi-inovasi pendidikan dan menghindari terjadinya disintegrasi bangsa. Secara epistemologis, untuk mewujudkan masyarakat madani dalam jangka panjang adalah dengan cara melakukan demokratisasi pendidikan. Demokratisasi pendidikan ialah pendidikan hati nurani yang lebih humanistis dan beradab sesuai dengan cita-cita masyarakat madani. Melalui demokratisasi pendidikan akan terjadi proses kesetaraan antara pendidik dan peserta didik di dalam proses belajar mengajarnya. Inovasi pendidikan yang berkonteks demokratisasi pendidikan perlu memperhatikan masalah-masalah pragmatik. Pengajaran yang kurang menekankan pada konteks pragmatik pada gilirannya akan menyebabkan peserta didik akan terlepas dari akar budaya dan masyarakatnya.

DAFTAR PUSTAKA

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

Badruzzaman

الإستحسان

AL ISTIHSAN

 

 

 

 

 

 

 

 

Oleh :

 

BADRUZZAMAN NAWAWI, S.Ag

 

 

 

 

 

 

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI

(STAIN) PAREPARE

AL ISTIHSAN

الإستحسان

 

I. PENDAHULUAN

 

 

A. Latarbelakang Masalah

Islam sebagai agama yang sempurna dibawah oleh rasulullah saw. Yang intinya adalah qidah dan syariat serta seluruh kandungannya merupakan pedopman pokok ummat Islam dalam kehidupannya berdasarkan al Quran dan sunnah Rasulullah saw. Untuk memahami syariat diperlukan pendekatan-pendekatan yaitu pendekatan kaedah kebahasaan masalah untuk mengetahui dalil-dalil yang ‘am dan khas, mutlaq dan muqayyad, mujmal, mufassr, mutasyabih, zhahir, nasikh, mansukh, amar, nahy dan sebagainya. Melalui pendekatan kebahasaan ini maka dapat dikemukakan cara-cara menyelesaikan dalil-dalil yang bertentangan secara zhahir sehingga seluruh dalil yang ada dalam al Quran dan sunnah dapat dipahami dan dapat diamalkan.

Pendekatan yang kedua adalah pendekatan maqashid al syariah yang penekanannya adalah menyingkap dan menjelaskan hokum dri suatu kasus yang terjadi melalui pewrtimbangan maksud syara’ dalam menetapkan hokum. Dalam hal ini dipergunakan teori metode ijma’, qiyas, istihsan, istislah, urf dan lain-lain dimana intinya adalah untuk kemaslahatan manusia di dunia dan di akhirat. Oleh karena itu berbgai metode yang digunakan untuk menyingkap dan menyelesaikan hokum pada setiap kasus yang tidak jelas nashnya baik dalam al Quran maupun as Sunnah.

Perinsipnya adalah berorientasi pada kemaslahatan umat manusia baik di dunia maupun di akhirat.[1]

 

II. PEMBAHASAN

A. Pengertian

Secara etimologi Istihsan, berarti “menyatakan dan meyakini baiknya sesuatu”[2]

Tidak terdapat perbedaan pendapat ulama ushul fiqih dalam mempergunakan lafal istihsan dalam pengertian etimologi.[3] Karen lafal yang digunakan dalam istihsan ini banyak di dapat dalam al Quran dan sunnah Rasulullah saw. Misalnya dalam surat al Zumar ayat 39 Allah berfirman :

قُلْ يَاقَوْمِ اعْمَلُوا عَلَى مَكَانَتِكُمْ إِنِّي عَامِلٌ فَسَوْفَ تَعْلَمُونَ

Terjemahnya :

Katakanlah: “Hai kaumku, bekerjalah sesuai dengan keadaanmu, sesungguhnya aku akan bekerja (pula), maka kelak kamu akan mengetahui,[4]

 

  1. Al Hilwani dan Al Hanafi mengatakan istihsan ialah menukar perkara yang berasal dari Qias kepada Qias yang lebih kuat. Hal ini disebut Qias khafi yang tersembunyi illat nya.

b.  Menurut Imam Abu Hasan Al Karkhi Al Hanafi pula, ia merupakan penetapan hukum oleh mujtahid terhadap sesuatu masalah yang menyimpang daripada ketetapan hukum yang diterapkan pada masalah-masalah yng sama disebabkan alasan yang lebih kukuh.

c. Jumhur ulama’ Usul menyatakan istihsan adalah menukarkan sesuatu hukum kulli kepada huklum juziyy (pengecualian)[5]

Istihsan dari segi istilah menurut ahli hukum dibahagikan kepada dua makna iaitu:

1.  Menggunakan ijtihad dan segala buah fikiran dalam menentukan sesuatu hukum berdasarkan syara’. Contohnya hukum mut’ah yang terdapat dalam firman Allah taala (Al-Baqarah:236).

لَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِنْ طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ مَا لَمْ تَمَسُّوهُنَّ أَوْ تَفْرِضُوا لَهُنَّ فَرِيضَةً وَمَتِّعُوهُنَّ عَلَى الْمُوسِعِ قَدَرُهُ وَعَلَى الْمُقْتِرِ قَدَرُهُ مَتَاعًا بِالْمَعْرُوفِ حَقًّا عَلَى الْمُحْسِنِينَ

Terjemahnya :

Tidak ada kewajiban membayar (mahar) atas kamu, jika kamu menceraikan isteri-isterimu sebelum kamu bercampur dengan mereka dan sebelum kamu menentukan maharnya. Dan hendaklah kamu berikan suatu mut`ah (pemberian) kepada mereka. Orang yang mampu menurut kemampuannya dan orang yang miskin menurut kemampuannya (pula), yaitu pemberian menurut yang patut. Yang demikian itu merupakan ketentuan bagi orang-orang yang berbuat kebajikan.[6]

 

Mut’ah dalam ayat ini diukur mengikut keadaan suami, kaya atau miskin menurut makruf.[7]

2.  Dalil yang menyaingi qias atau meninggalkan qias dan menetapkan apa yang lebih manfaat bagi manusia

Para ulama hukum sependapat pada makna istihsan yang pertama. Imam Syafie menolak sumber istihsan telah berkata: “ saya memandang sebaiknya mut’ah itu tiga puluh dirham”.[8]

Mengenai istihsan pada pengertian yang kedua, ulama hukum berselisih pendapat tentang boleh atau tidak menggunakannya kerana wujud pelbagai pendapat dalam mendefinisikannya. Perselisihan pendapat dalam mendefinisi istihsan wujud kerana pentakrifan ini muncul sesudah terjadi perdebatan yang hangat antara yang menggunakan istihsan dan yang menolaknya. Mereka yang menolak istihsan mengatakan bahawa istihsan itu ialah menetapkan suatu hukum berdasarkan hawa nafsu (syari’u bil hawa). Pihak yang menggunakan istihsan tidak langsung mengemukakan dalil-dalil yang membuktikan bahawasanya istihsan itu adalah suatu hujjah, tetapi mereka berusaha menerangkan hakikat istihsan yang sebenar, menyebabkan golongan yang menolaknya mengakui bahawa tidak ada istihsan yang diperselisihkan kecuali dalam beberapa masalah.

 

B. Istihsan Sebagai Sumber Tasyri Yang Disepakati

Dengan pengertian yang terakhir ini istihsan menjadi suatu sumber yang disepakati kerana istihsan adalah suatu pengecualian dari suatu dalil dan pertentangan dua qias lalu, diambil yang terkuat daripadanya walaupun dia khafi. Hal ini dibenarkan al-quran, assunnah dan amal fuqaha sahabat.

Para ulama malikiah dengan tegas mentakrifkan istihsan dengan maksud pengecualian

Ibnu Arabi berpendapat “Istihsan ialah meninggalkan sesuatu yang dikehendaki dalil dengan jaan pengecualian, kerana ada sesuatu yang mengetahui di sebahagian juziyyahnya”[9]

Ibnu Rusyd berpendapat: “Dan menggunakan qias mengakibatkan berlebih-lebihan dalam hukum, maka dia berpaling pada sebahagian tempat tertentu kerana ada sesuatu pengertian yang memberi bebas kepada hukum yang tertentu dari tempat itu sahaja.”[10]

As Syatibi berpendapat: “ Kaedah istihsan menurut Imam Malik ialah menggunakan maslahat juziyyah dalammenghadapi dalil yang kulli.”[11]

Para sahabat banyak menggunakan prinsip ini dan merekalah menjadi ikutan kita sesudah Rasulullah s.a.w, iaitu mengecualikan sesuatu dari nas yang umum kerana ada kemaslahatannya.

Golongan syariah sendiri mengakui adanya pengecualian dari kaedah-kaedah syariyyah dan mereka menggunakan pengecualian itu walaupun Imam Syafie menentang istihsan.

Di antara masalah itu, ialah membolehkan kita mengambil tumbuhan di tanah haram untuk mengumpan binatang untuk menhindarkan kesukaran bagi para haji. Ini merupakan suatu pengecualian dari umum nas padahal Rasulullah hanya membenarkan idzar sahaja, sebagaimana mereka membenarkan ayah ataupun abang menggadaikan harta mereka kepada mauli mereka apabila wali itu memberi hutang kepada mereka. Demikian pula sebaliknya. Dan mereka membenarkan abang mereka mengahwinkan cucu perempuannya dengan cucu lelakinya apabila dipandang ada maslahat. Inipun merupakan suatu pengecualian dari dasar yang mereka gunakan iaitu akad itu dilakukan oleh dua orang.

“Tak dapat tidak sesuatu akad dari dua ibarat dari dua orang ( penjual dan pembeli.”[12]

Izuddin Ibnu Abdis Salam berkata: “Apabila seseorang menjual buah kurma yang telah nyata baiknya maka wajiblah dibiarkan buah itu tinggal di batang sehingga datang waktu memetiknya dan memungkinkan si pembeli menyirami batang kurma itu dengan airnya, kerana kedua syarat itu telah menjadi syarat pada uruf masyarakat. Maka menjadilah dia sebagai yang telah disyaratkan oleh kedua belah pihak. Dan hanyanya berlaku syarat ini di sini adalah kerana adanya keperluan masyarakat dan keadaan itu mendorong masyarakat kepada syarat ini, maka menjadilah dia hal-hal dikecualikan dari kaedah untuk memperbolehkan kemaslahatan akad.”[13]

Sesungguhnya perbezaan pendaat antara Imam As Syafie dengan pihak yang menerima istihsan bukanlah dari segi penggunaan istilah istihsan. Kerana As Syafie sendiri menggunakan istilah-istilah itu seperti yang diterangkan oleh Al-Amidi dalam kitabnya Al-Ihkam.[14]

Kalau demikian, perbezaan itu adalah kerana menurut pendapat As-Syafie bahawa istihsan yang dikehendaki golongan Hanafiah ialah menetapkan sesuatu berdasarkan akal biasa tanpa dalil, sebagai yang sering beliau dengar di masanya dari pengikut-pengikut Abu hanifah seperti Basyar Al- Miribi. Jika As-Syafie menolak istihsan dalam erti memendang baik sesuatu tanpa dalil, maka Imam Ahmad pun menolak suatu pernyataan ijmak tanpa ada dalil.

 

C. Jenis Istihsan Umum

Istihsan umum ada beberapa jenis menurut dalil yang menetapkannya:

1. Istihsan dengan nas: iaitu pada tiap-tipa masalah yang ada nas sendiri yang menimbulkan suatu hukum yang berlainan dengan hukum umum yang diterapkan oleh suatu nas yang umum atau kaedah yang umum. Dan ia melengkapi segala bentuk masalah yang dikecualikan oleh syarak sendiri dari hukum-hukum yang sebandingnya iaitu seperti khiar syarak. Imam Abu Hanifah mengatakan terhadap orang yang berkuasa makan atau minum kerana lupa: “Andaikata tiada nas yang tidak membatalkan puasa lantaran makan dan minum kerana lupa, tentulah saya memandang bata puasa itu kerana sudah rosak satu rukun iaitu menahan diri dari segala yang merosakkan puasa”.[15]

2. Istihsan berdasarkan ijmak: iaitu apabila para mujtahid berfatwa terhadap suatu masalah yang berlawanan dengan Qiyas atau dengan kehendak dari sesuatu dalil yang umum, atau mereka berdiam diri tidak membantah sesutau uruf masyarakat yang berlawanan dengan hukum qiyas. [16]

3. Istihsan dalam hal darurat dan untuk menghindari kesulitan: apabila kita mnggunakan dalil yang umum menimbulkan kesulitan, maka dari dalil yang umum itu dikcualikan. Seperti apabila saksi-saksi yang telah meninggal atau yang jauh dari tempat atau kerana tidak sanggup menghadiri sidang majlis, padahal menurut asal hukum kesaksian itu harus yang melihat dengan mata kepala sendiri, dibolehkan menggunakan kesaksian orang lain.[17]

4. Istihsan berdasarkan kemaslahatan yang belum sampai ke batas darurat: sesuatu hukum yang dicakup oleh sesuatu nas yang umum tetapi jika dilaksanakan hukum itu, timbul kerosakan atau terhapus kemaslahatan, maka ditetapkan hukum berdasarkan kemaslahatan, seperti memberikan pusaka kepada suami yang isterinya murtad dalam keadaan sakit yang membawa kepada kematian. Ini juga merupakan suatu pengecualian dari kaedah umum, iaitu tidak ada lagi hak pusaka kerana hubungan mereka suami isteri putus di waktu isteri murtad. Jalan istihsan di sini ialah melayani si wanita yang murtad itu dengan yang bertentangan dengan maksudnya. Dia memurtadkan dirinya dalam keadaan sakit yang membawa maut supaya suaminya tidak dapat menerima pusaka daripadanya.[18]

5. Istihsan dengan dasar uruf: Muhammad ibn Al Hasan membolehkan kita mewakafkan barang bergerak. Menurut kaedah, wakaf itu harus benda yang tidak bergerak kerana benda yang bergerak mudah hilang dan rosak. Seperti boleh kita menjual buah-buahan dengan syarat tetap di batangnya sampai matang padahal syarat itu tidak dikehendaki oleh akad, bahkan berlawanan dengan sabda Rasulullah yang melarang penjualan dengan memakai syarat. Tetapi kerana uruf telah berlaku demikian, maka dibolehkan untuk menghindari prtengkaran. Sebab itulah Hanafiyah membenarkan segala syarat yang diterima uruf asal saja tidak membatalkan sesuatu nas syara.

 

 

 

 

 

 

III. KESIMPULAN

Walaupun istihsan bukan suatu dalil yang berdiri sendiri, namun ia menyingkapkan jalan yang ditempuh sebahagian ulama mujtahidin dalam menetapkan dalil-dalil syara dan kaedah-kaedahnya ketika dalil-dalil itu bertentangan dengan kenyataan yang berkembang dalam masyarakat. Hal ini untuk mengelakkan kesulitan dan kemudaratan serta menghasilkan kemanfaatan dengan cara menetapkan dasar-dasar syariat dan sunber-sumbernya.

Istihsan adalah suatu dalil yang terkuat menunjukkan bahawa hukum-hukum Islam adalah suatu hukum yang berkembang dalam masyarakat yang diistilahkan sebagai fiqh waq’i bukan suatu fiqh khayali yang merupakan fiqh bayangan sebagai yang digambarkan oleh sebahagian oarang yang tidak mengetahui hakikat fiqh Islam atau ingin menjauhkan manusia daripadanya.

Dengan menggunakan dasar istihsan, kita dapat menghadapi masalah perbankan yang telah menjadi masalah yang sangat penting dalam masalah ekonomi.

Oleh kerana dalam kebanyakan bentuknya merupakan pengecualian dari umum, maka bolehlah kita qiaskan kepadanya sesuatu yang lain apabila cukup syarat-syarat qias.

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

Nurhawaisah

PERANAN ORGANISASI REMAJA MASJID DALAM MENGANTISIPASI KENAKALAN REMAJA DI DESA UJUNGE KECAMATAN
TANASITOLO KABUPATEN WAJO

Draf Skripsi diajukan untuk memenuhi kewajiban dan melengkapi
syarat guna memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Islam
Jurusan Pendidikan Agama Islam Sekolah Tinggi
Agama Islam As’adiyah (STAI) Sengkang

Oleh :

NURHAWAISAH
NIM.06.22.0046

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM
(STAI) AS’ADIYAH
SENGKANG
2010
DRAF SKRIPSI

I. IDENTITAS MAHASISWA :
N a m a : NURHAWAISAH
N P M : 06220046

ST/Jurusan : STAI As’adiyah Sengkang/Pendidikan Agama Islam

II. JUDUL : “Peranan organisasi remaja masjid dalam Mengantisipasi Kenakalan Remaja di Desa Ujunge Kecamatan Tanasitolo Kabupaten Wajo”

III. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Semakin meluasnya peredaran narkoba yang melibatkan generasi muda dalam masyarakat, semakin seringnya terjadi tawuran massal antar sekolah di berbagai kota, dan berbagai kasus pelanggaran serta kejahatan lain yang dilakukan oleh anak usia sekolah, merupakan indikator semakin meningkatnya kenakalan remaja, baik dilihat dari segi kualitas maupun kuantitas. Fenomena sosial ini telah mengundang keprihatinan berbagai pihak dan menyuarakan pentingnya peningkatan Pendidikan Agama Islam di sekolah.
Dengan demikian, diketahui bahwa menghadapi hidup mengalami perubahan multi dimensi seperti sekarang ini, diperlukan adanya kepribadian mapan dan mantap sehingga manusia tidak mudah terpengaruh oleh kondisi dan situasi yang bagaimanpun bentuknya. Kepribadian yang dimaksud penulis adalah kepribadian yang mencerminkan nilai-nilai keIslaman. Dengan kata lain, kepribadian tersebut dibentuk dan didorong oleh kekuatan keimanan.
Untuk menilai baik buruknya kepribadian seseorang atau mantap tidaknya kepribadian seseorang, akan tergambar dari sikap dan tingkah lakunya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain, kepribadian itu akan terbaca lewat sikap dan cara hidup seseorang dalam berinteraksi dengan sesama manusia dan lingkungan serta cara berhubungan dengan Allah swt,.
Sehubungan dengan hal tersebut, untuk mengatur tatanan kehidupan manusia dalam mencapai tujuan hidup yang mencerminkan nilai kepribadian yang Islami, Islam datang dengan ajaran yang dapat dijadikan sebagai pandangan hidup yang sempurna, khususnya dalam mengatur hubungan manusia dengan Allah swt, dengan sesamanya dan dengan lingkungannya, yang diperoleh melalui suatu usaha yang disebut dengan pendidikan agama Islam.
Dengan dasar itulah, penulis menganggap bahwa pendidikan agama Islam mempunyai peranan yang sangat penting dalam membentuk kepribadian muslim. Pembangunan pendidikan Islam adalah wajib dilaksanakan secara dini dan kontinyu sejak dalam lingkungan rumah tangga, karena diketahui bahwa ibadah sholat sebagai salah satu sasaran pendidikan Islam dan merupakan ibadah mahdah yang tidak boleh ditinggalkan apapun dan bagaimanapun keadaan seorang muslim yang mukallaf, kemudian dikatakan sah apabila dibacakan al Quran atau surat al Fatihah, sedangkan belajar membaca Al Quran dituntut ketekunan untuk mempelajarinya.
Untuk itu, Nabi Muhammad saw, bersabda dalam hadits yang diriwayatkan Imam Muslim dari Abu Hurairah RA, yang berbunyi :
عن أبي هريرة : لاَصَلاَةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأُ بِفَاتِحَةِاْلقُرْآن (رواه مسلم)
Artinya : Tidak sah salat seseorang yang tidak dibacakan padanya fatihatul kitab (al Fatihah).
Dengan demikian, pembangunan pendidikan Islam adalah wajib dilaksanakan dan diarahkan kepada anak-anak sekaligus merupakan kewajiban yang harus dilakukan oleh orangtua, karena kedua orangtua akan mempertanggung jawabkan dihadapan Allah swt, mengenai pemeliharan dan pengawasan serta bimbingan yang diberikan kepada anak atau anggota keluarganya, sebagaimana hadits Nabi Muhammad saw. yang diriwayatkan Imam Muslim dari Ibnu ‘Umar RA, yang berbunyi :
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَالأََمِيْرُ الَّذِي عَلَى النَّا سِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُوْلٌ عَنْهُمْ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتَ زَوْجِهَا وَوَا لِدِهِ وَهِيَ مَسْئُوْلَةٌ عَنْهُمْ
Artinya : Semua kamu adalah pemimpin dan kamu akan ditanya tentang kepimimpinanmu. Pemimpin itu adalah pengembala dan ia akan ditanya tentang gembalaannya, laki-laki itu adalah pengembala terhadap keluarganya dan ia akan ditanya tentang gembalaannya, perempuan atau ibu adalah pengembala dalam rumah tangga suaminya, dan ia akan ditanya tentang gembalaannya . . .
Oleh karena itu, jelas bahwa orang tua dan masyarakat pada umumnya adalah peletak dasar pertama pendidikan Islam bagi setiap anak, yaitu mengenai pembangunan pendidikan Islam yang kelak sebagai bekal menuju/menghadapi lingkungan sekolah dan masyarakat.
Undang-Undang Sispenas Nomor 20 Tahun 2003, disebutkan bahwa :
Pasal 8. Masyarakat berhak berperan serta dalam perencanaan, pelaksanaan, pengawasan dan evaluasi program pendidikan.
Pasal 9. Masyarakat berkewajiban memberikan dukungan sumber daya dalam penyelenggaraan pendidikan.

Oleh karena itu BKPRMI sebagai wadah remaja masjid sangat berperan dalam mengembangkan pendidikan Islam dalam kaitannya dengan upaya mengantisipasi kenakalan remaja.
Bertolak dari fenomena tersebut, penulis membahas skripsi yang berjudul “Peranan organisasi remaja masjid dalam mengantisipasi kenakalan remaja di Desa Ujunge Kecamatan Tanasitolo Kab. Wajo”
.
B. Rumusan Masalah

Bertitik tolak dari latar belakang masalah yang diuraikan di atas, maka penulis akan mengajukan problematika sebagai berikut:
1. Bagaimana gambaran kenakalan remaja di Desa Ujunge Kecamatan Tanasitolo Kabupaten Wajo ?
2. Bagaimana Peranan organisasi remaja masjid dalam mengantisipasi kenakalan remaja di Desa Ujunge Kecamatan Tanasitolo Kabupaten Wajo ?

C. Hipotesis
Adapun sebagai jawaban sementara terhadap permasalahan yang diajukan di atas, adalah:
1. Kenakalan remaja yang tampak di Desa Ujunge Kecamatan Tanasitolo Kabupaten Wajo adalah remaja selalu membuat kegaduhan, pencurian, dan minum khamr.
2. Peranan organisasi remaja masjid dalam mengantisipasi kenakalan remaja di Desa Ujunge Kecamatan Tanasitolo Wajo adalah sebagai pembaharu dalam arti bahwa remaja dapat mentransfer dan menjabarkan sikap mental yang terpuji termasuk sikap kreatif dalam kehidupannya, baik sebagai makhluk yang sosio individual maupun sebagai makhluk yang kulturil relegius.

D. Pengertian Judul
1. Pengertian Judul
Peranan, berarti “daya, kekuatan, andil dalam suatu kegiatan” . Peranan menunjukan adanya bagian yang diperankan dalam suatu kegiatan.
Organisasi, berarti “kelompok kerja sama antara orang-orang yang diadakan untuk mencapai tujuan bersama”
Remaja berarti “masa peralihan yang penuh kegoncangan, yang sangat membutuhkan bimbingan dari orangtua”. sedangkan masjid adalah “tempat sujud”
Remaja masjid adalah orang muda atau generasi muda yang secara psikologis mereka berada pada pertumbuhan dan perkembangan jiwa yang sedang menanjak menuju kedewasaannya. Remaja tersebut beraktivitas dalam kegiatan remaja masjid atau melibatkan diri dalam satu wadah berkomunikasi dengan rekan-rekan sebaya dan sekeyakinannya.
BKPRMI sebagai satu-satunya organisasi remaja masjid di Indonesia. BKPRMI, akronim dari “Badan Komunikasi Pemuda Remaja Mesjid Indonesia, yaitu wadah generasi muda Islam untuk menyalurkan bakat keagamaan dan memperluas wawasan keagamaan dalam satu ikatan iman dan taqwa kepada Allah swt”
Dengan demikian, Peranan organisasi remaja masjid adalah tugas yang diemban oleh suatu wadah atau kelompok dalam kegiatan dan proses bantuan kepada remaja yang dapat membentuk watak atau sikap dan prilaku hidup yang sesuai dengan ajaran agama Islam.
Mengantisipasi, berarti “membuat perhitungan (ramalan, dugaan) tentang hal-hal yang akan terjadi; memperhitungkan sebelum terjadi”
Kenakalan, berarti “tingkah laku secara ringan yang menyalahi norma yang berlaku di suatu masyarakat”
Jadi, mengantisipasi kenakalan remaja berarti upaya membentengi diri guna mangatasi dan menghalangi terjadinya kerusakan mental berupa perilaku yang menyalahi ajaran agama Islam.
Dengan gambaran istilah yang diuraikan tersebut, jelas bahwa secara operasional, penulis membahas dalam skripsi ini tentang eksistensi organisasi remaja masjid dalam mengemban tugas sebagai wadah pembinaan dan pembentukan anak usia remaja, sebagaimana pada masa tersebut, anak mengalami perubahan psikologi dan jasmani, sehingga dengan perubahan tersebut, remaja sangat mengharapkan bantuan pendidikan untuk mengarahkannya menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Allah swt., sehingga dapat mengatasi terjadi kondisi mental yang berlawanan dengan ajaran Islam.
Desa Ujunge merupakan lokasi penelitian, yaitu salah satu wilayah pemerintahan desa di antara beberapa desa/kelurahan dalam wilayah pemerintahan Kecamatan Tanasitolo Kabupaten Wajo

E. Tinjauan Pustaka
Sebagaimana diketahui bahwa masyarakat sekarang sedang menghadapi persoalan yang cukup mencemaskan, yaitu masalah moral, karena menyebabkan ketentraman batin terganggu, kecemasan dan kegelisahan terasa, terutama bagi mareka yang mempunyai anak/siswa dengan sikapnya yang menampakkan gejala kenakalan dan kekurang acuhan terhadap nilai moral yang dianjurkan oleh ajaran Islam, dekadensi moral tersebut, bukan saja terjadi di kota-kota besar, namun juga sudah terjadi di kota-kota kecil bahkan siswa di desapun sudah terkontaminasi dengan sikap tersebut.
Kenakalan remaja sebagai akibat dekadensi, atau “keruntuhan akhlak” maksudnya sikap mental yang tidak berkesusaian dengan ajaran Islam dan dijabarkan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga mendatangkan kerisauan dan kekacauan dalam masyarakat. Jadi, dapat dipahami bahwa pada hakikatnya kenakalan remaja sebagai akibat kerusakan atau dekadensi moral yaitu suatu situasai dan kondisi atau keadaan di dalam bermasyarakat, dimana tidak nampak lagi adanya kepentingan umum sebagai yang utama, melainkan kepentingan pribadi yang menonjol di tengah kehidupan masyarakat, sehingga dengan sendirinya, kejujuran, kebenaran, keadilan dan keberanian telah tertutup oleh penyelewengan-penyelewengan baik yang terlihat ringan maupun yang berat, dimana-mana terjadi adu domba, hasud, fitnah, menjilat, menipu, berdusta, mengambil hak orang lain, serta perbuatan-perbuatan maksiat lainnya. Sikap mental tersebut adalah sangat tercelah dan dilarang oleh Agama Islam. Untuk itu, salah satu di antara beberapa ayat al Quran yang melarang perbuatan tersebut, adalah firman Allah dalam surat al Hujurat ayat 12, yang berbunyi :
يآ أ يُّهَا ا لَّذِ يْنَ آ مَنُو ا ا جْتَنِبُو ا كَثِيْرً ا مِّنَ ا لظَّنِّ اِ نَّ بَعْدَ ا لظَّنِّ اِ ثْمٌ وَّ لاَ يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَ يُحِبُّ اَحَدَ كُمْ اَ نْ يَاْ كُلَ لَحْمَ اَ خِيْهِ مَيْتًا فَكَرِ هْتُمُوْهُ وَا لتَّقُو ا ا للَّهَ اِ نَّ ا لله تَوَّا بٌ رَّحِيْمِ
Terjemahnya :
Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah maha penerima taubat lagi maha penyayang.

Ayat tersebut menunjukkan adanya larangan untuk mengekspresikan sikap mental yang tercelah seperti buruk sangka, mencari kejelekan orang lain, serta menggunjing atau mengumpat, karena hal tersebut merupakan salah satu pelanggaran yang mengakibatkan rusaknya hubungan antara sesama manusia, sehingga menimbulkan kerisauan dan kekacauan dalam kehidupan bermasyarakat.
Zakiah Darajat mengemukakan faktor-faktor penyebab dari kenakalan remaja, yang terpenting adalah :
1. Kurang tertanamnya jiwa agama pada tiap-tiap orang dalam masyarakat.
2. Keadaan masyarakat yang kurang stabil, baik dari segi ekonomi, sosial, dan politik.
3. Pendidikan moral tidak terlaksana menurut mestinya, baik di rumah tangga, sekolah maupun mjasyarakat.
4. Suasana rumah tangga yang kurang baik.
F. Metode Penelitian
1. Variabel dan Desain Penelitian
Variabel penelitian ini terdiri dari (1) peranan pendidikan Islam dalam mengantisipasi kenakalan remaja, dan (2) gambaran kenakalan remaja di Desa Ujunge Kecamatan Tanasitolo Kabupaten Wajo.
Peranan pendidikan Islam adalah sebagai peletak dasar kepercayaan diri bagi setiap remaja sehingga mereka beraktivitas sesuai dengan ketentuan ajaran Islam, Artinya bahwa aktivitas mereka tidak bertentangan dan tidak melanggar aturan agama dan aturan masyarakat. Dengan kata lain bahwa remaja senantiasa mendapat bimbingan untuk melakukan suatu perbuatan yang mempunyai nilai ibadah. Dengan demikian, pendidikan Islam menangkal terjadinya prilaku kejahatan atau pelanggaran yang mengganggu ketenangan masyarakat
Selanjutnya dalam penelitian digunakan desain penelitian deskriptif kualitatif, yaitu rencana dan struktur penyelidikan untuk memperoleh jawaban atas pertanyaan penelitian berupa data deskriptif yang diperoleh dari hasil interview dan kuesioner. Studi ini dilaksanakan guna mempelajari secara mendalam mengenai peranan pendidikan Islam dalam mengantisipasi kenakalan remaja di Desa Ujunge Kecamatan Tanasitolo Kabupaten Wajo.
2. Populasi dan Sampel
1. Populasi.
Populasi berarti obyek penelitian mencakup semua elemen yang terdapat dalam wilayah penelitian atau meliputi “semua individu yang menjadi sumber pengambilan sampel” Sudjana memberikan pengertian tentang populasi, Populasi adalah totalitas semua nilai yang mungkin hasil menghitung atau pengurangan, kuantitatif daripada karakteristik tertentu mengenai sekumpulan objek yang lengkap dan jelas yang ingin dipelajari sifat-sifatnya.
Pengertian lain yang dikemukakan oleh Sutrisno Hadi, bahwa populasi adalah: Seluruh penduduk yang dimaksud untuk diselidiki disebut populasi atau universum. Populasi dibatasi sebagai sejumlah penduduk atau individu yang paling sedikit mempunyai satu sifat yang sama.
Dengan demikian dapat dikemukakan suatu simpulan, bahwa yang dimaksud populasi adalah sekumpulan objek yang mempunyai karakteristik yang sama.
Sehubungan dengan hal tersebut, maka yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah seluruh warga masyarakat Desa Ujunge Kecamatan Tanasitolo Kabupaten Wajo, yang berjumlah 2733 orang, tersebar pada 2 dusun.
2. Sampel.
Sebagaimana lazimnya dalam suatu penelitian ilmiah tidak semua populasi harus diteliti tetapi dapat dilakukan terhadap sebagian saja dari populasi tersebut. Hal ini didasarkan atas pertimbangan keterbatasan kemampuan, biaya, tenaga, dan sebagainya sehingga penelitian ini dilakukan bukan terhadap populasi tetapi dilakukan terhadap sampel. Sampel yang diambil harus mencerminkan keadaan umum populasi, atau dengan kata lain sampel itu harus representatif dalam arti segala karakteristik populasi hendaknya tercermin pula dalam sampel yang diambil.
Sumanto mengemukakan bahwa sampel adalah “proses pemilihan individu, sehingga merupakan perwakilan kelompok yang lebih besar” Sedangkan Nana Sudjana mengemukakan tentang jumlah sampel penelitian bahwa: Mengenai besarnya sampel tidak ada ketentuan yang baku atau rujukan yang pasti. Sebab keabsahan dari populasi terletak dari sifat dan karakteristiknya mendekati populasi atau tidak, bukan besar atau banyaknya . . . Artinya bahwa sampel yang dipilih mencerminkan karakteristik populasi.
Berdasarkan pertimbangan waktu dan tenaga serta biaya, maka sampel yang diambil untuk penelitian ini, yaitu sebanyak 90 orang, yang dilakukan dengan terlebih dahulu menggunakan teknik cluster sampling, yaitu Desa Ujunge Kecamatan Tanasitolo Kabupaten Wajo dibagi tiga wilayah, yaitu wilayah Selatan, wilayah Tengah, dan wilayah Utara, kemudian masing-masing wilayah diwakili 30 orang melalui teknik random sampling.

3. Teknik Pengumpulan Data
Dalam mengumpulkan data yang dibutuhkan untuk menyusun skripsi ini, penulis telah menggunakan beberapa metode, seperti:

1. Penelitian Kepustakaan
Suatu metode penelitian dengan cara membaca dan menelaah buku-buku perpustakaan serta majalah yang ada dan erat hubungannya dengan permasalahan yang dibahas dalam skripsi ini.
Dalam penelitian kepustakaan tersebut, penulis menempu dua cara, yaitu:
a. Kutipan langsung.
Penulis mengutip isi buku dan majalah yang dibaca tersebut dengan tidak merubah sifat dan redaksi aslinya sedikitpun.
b. Kutipan tidak langsung.
Penulis mengutip isi buku dan majalah yang dibaca tersebut, dengan membuat catatan yang jauh lebih pendek dari tulisan aslinya, namun tidak merubah tujuan dan sifat bahan aslinya.
2. Penelitian Lapangan
Penulis terjun dilapangan untuk mengadakan penelitian dan penyelidikan terhadap suatu pokok masalah yang ada dan erat hubungannya dengan problematika yang dibahas dalam skripsi ini.
Adapun metode yang dipergunakan untuk memperoleh data di lapangan adalah:
a. Interview.
Penulis mengadakan wawancara dengan Kepala Kantor Urusan Agama dan Kepala Dikpora Kecamatan Tanasitolo Kabupaten Wajo, serta mewawancarai beberapa orang tokoh agama, tokoh pendidik, dan tokoh masyarakat untuk memperoleh data tentang manfaat dan pengaruh pendidikan Islam dalam pembentukan kreatifitas remaja.
b. Observasi.
Metode penelitian dengan cara mengamati sejauhmana peranan dan pembentukan kreatifitas remaja di Desa Ujunge Kecamatan Tanasitolo Kabupaten Wajo .
c. Dokumentasi.
Penulis mengumpulkan data dari dokumen atau catatan-catatan yang ada dilokasi penelitian kemudian dikutip dalam bentuk tabel.
4. Teknik Pengolahan dan Analisis Data
Dalam mengolah data yang terkumpul, penulis menempuh cara kualitatif, yaitu penulis hanya menitik beratkan pembahasan skripsi pada segi-segi nilai kemudian disusun atau dikumpul secara baik dan teratur lalu dianalisa.
Adapun metode yang digunakan dalam menganalisa data yang terkumpul tersebut, adalah:
1. Induktif.
Suatu cara berfikir dengan memecahkan persoalan yang bertitik tolak dari pengalaman atau pengetahuan yang khusus dan fakta-fakta tertentu, yang kemudian penulis mengemukakan suatu kesimpulan yang bersifat umum.
2. Deduktif.
Suatu cara berfikir dengan memecahkan persoalan yang bertolak dari hal dasar serta kaedah-kaedah umum, kemudian menganalisis atau menjabarkannya ke hal-hal yang khusus.
3. Komparatif.
Suatu cara berfikir dengan menganalisis data dan mengambil kesimpulan dengan terlebih dahulu membandingkan antara beberapa pendapat atau beberapa data yang ada.

G. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
Untuk menguraikan masalah tersebut, penulis terlebih dahulu membahas tujuan penelitian kemudian kegunaannya.
1. Tujuan Penelitian.
Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini, adalah untuk:
a. Untuk mengetahui Peranan organisasi remaja masjid dalam mengantisipasi kenakalan remaja di Desa Ujunge Kecamatan Tanasitolo Wajo.
b. Untuk mendeskripsikan bentuk kenakalan remaja di Desa Ujunge Kecamatan Tanasitolo Kabupaten Wajo.
2. Kegunaan Penelitian.
Kegunaan penelitian yang dilakukan oleh penulis tersebut, adalah :
a. Kegunaan ilmiah yang berkaitan dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Perkembangan ilmu pengetahuan di era sekarang ini, menuntut adanya usaha mengatasi kenakalan remaja melalui pemberdayaan pendidikan Islam.
b. Kegunaan praktis yang berkaitan dengan pembangunan masyarakat, bangsa dan negara serta agama. Bahwa dengan pembahasan tentang upaya mengantisipasi kenakalan remaja, maka diharapkan setiap anak memiliki sikap mental yang terpuji sebagaimana yang dikehendaki ajaran Islam.
H. Sistematika Pembahasan
Sebelum penulis lebh jauh membahas judul skripsi ini, terebih dahulu diuraikan sistematika pembahasan sebagai berikut:
Bab pertama, pendahuluan meliputi subbahasan latar belakang masalah sebagai alasan memilih judul yang melahirkan rumusan masalah, lalu diajukan hipotesis sebagai jawaban sementara terhadap permasalahan yang telah diajukan. Pengertian judul, tinjauan pustaka serta metode yang dipergunakan dalam meneliti dan tujuan maupun kegunaan penelitian serta sistematika pembahasan.
Bab kedua, deskripsi lokasi lokasi penelitian meliputi subbahasan gambaran umum Desa Ujunge Kecamatan Tanasitolo, keadaan demografis, serta keadaan agama, ekonomi, sosial dan budaya masyarakat Desa Ujunge Kecamatan Tanasitolo.
Bab ketiga, adalah tinjauan pustaka tentang eksistensi BKPRMI sebagai wadah pemuda remaja masjid, yang meliputi pengertian dan eksistensi BKPRMI, dasar yang melatar belakangi eksistensi BKPRMI dalam pembangunan pendidikan, urgensi eksistensi BKPRMI dalam pembangunan pendidikan. Masalah kenakalan remaja meliputi sub bahasan pengertian kenakalan remaja dan aspek-aspek yang menyebabkan kenakalan remaja.
Bab keempat, adalah hasil penelitian dan pembahasan meliputi sub bahasan bentuk-bentuk kenakalan remaja di Desa Ujunge Kecamatan Tanasitolo Wajo, Manfaat dan pengaruh pendidikan Islam dalam mengantisipasi kenakalan remaja di Desa Ujunge Kecamatan Tanasitolo dan peranan organisasi remaja masjid dalam mengantisipasi kenakalan remaja di Desa Ujunge Kecamatan Tanasitolo Kab.Wajo.
Bab kelima adalah bab penutup yang terdiri dari simpulan dan saran-saran.
DAFTAR PUSTAKA
Alquranul Kariem

Ahmadi, Abu. Metodik Khusus Pendidikan Agama, Bandunga: Armico, 2006

Anshari, Endang Saifullah. Kuliah Islam, Bandung: Pustaka, 2007

Arifin, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 2004

Attas, S.Muhammad al Naquib al Attas, Konsep Pendidikan dalam Islam, Bandung: Mizan, 2004

Darajat, Zakiah. Ilmu Jiwa Agama, Jakarta: Bulan Bintang, 2009

_______. Pembinaan Remaja, Jakarta: Bulan Bintang, 2002

_______. Peranan Agama dalam Kesehatan Mental, Jakarta: Gunung Agung, 2000

Departemen Agama RI, al Quran dan Terjemahnya, Jakarta: Proyek Pengadaan Kitab suci al Quran, 2003

_______. Psikologi Jilid I B, Cet. I Jakarta: Proyek Peningkatan Mutu Pendidikan Guru Agama, 2006

Depdikbud RI, Ki Hajar Dewantara, Jakarta: Proyek Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa, 2005

Idris, Zahara. Dasar-Dasar Kependidikan, Padang: Angkasa Raya, t.th

Indrakusuma, Amir Daien. Pengantar Ilmu Pendidikan, Surabaya: Usaha Nasional, t.th

Ja’far, M. Beberapa Aspek Pendidikan Islam, Surabaya, Al-Ikhlas, 2001

Marimba, Ahmad D. Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, Bandung: al Ma’arif, 2000

Natsir, M. Kapita Selekta Pendidikan, Jakarta: Bulan Bintang, 2003

Qasyimi, Jamaluddin al. Muidzat al Mukminien, diterjemahkan oleh: Mohd Abdai Ratomy, dengan judul: “Bimbingan Untuk Mencapai Tingkat Mukmin”, Bandung: Deponegoro, 2005

Saifullah, Ali. Antara Filsafat dan Pendidikan, Surabaya: Usaha Nasional, t.th

Shiddieqy, Hasbi as. Sejarah dan Pengantar Ilmu hadits, Jakarta: Bulan Bintang, 2007

_______. al Islam, Jilid II, Jakarta: Bulan Bintang, 2007

Sidi Gazalba, Azas agama Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 2005

Soekarno, Sejarah dan Filsafat Pendidikan Islam, Bandung: Angkasa, 2000

Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, Cet. XVIII Jakarta: PT. Grafindo Persada, 2004

Suryabrata, Sumadi. Psikologi Kepribadian, Jakarta: CV Rajawali, 2005

Syaibani, Omar Mohammad al Toumi al. Falsafatut Tarbiyyah al Islamiyyah, diterjemahkan oleh: Hasan Langgulung, dengan judul: “Falsafah Pendidikan Islam” Jakarta: Bulan Bintang, 2009

Syalabi, Ahmad. Tarikh at Tarbiyyah Al Islamiyyah, diterjemahkan oleh: Muchtar yahya, dengan judul: “Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 2003

Undang-Undang Republik Indonesia, Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, Jakarta: Tp, t.th

Urgensi Pelaksanaan Pendidikan Agama Dalam Penanggulangaan kenakalan Remaja, “Warta Alauddin”, No. 62/XI, Maret, 2002

Witherington, H.Carl. Educational Psychologi, diterjemahkan oleh: M. Buchary, dengan judul: “Psikologi Pendidikan”, Jilid I, Bandung: Jemmars, 2006

Wulyo, Kamus Psikologi, Surabaya: Bintang Pelajar, t.th

Zahrimini, H. Metodikm Khusus Pendidikan Agama, Cet. VIII Surabaya: Usaha Nasional, 2003
Muhammad bin Ismail Abu Abdullah al Bukhary al Ju’fy, Shohih Bukhary, Juz 1 Beirut : Dar Ibn Katsir al Yamamah, 2007
Muslim bin al Hujjaj Abu al Husain al Qusyairy al Naisabury, Shihih Muslim, Juz 1 Beirut : Dar Ihya al Turats al Araby, t.th

KOMPOSISI BAB
BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
B. Rumusan Masalah
C. Hipotesis
D. Pengertian Judul
E. Tinjauan Pustaka
F. Metode Penelitian
G. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
H. Sistematika Pembahasan.
BAB II. DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN
A. Selayang Pandang Desa Ujunge Kecamatan Tanasitolo Kecamatan Tanasitolo Kab. Wajo
B. Keadaan demografis, pendidikan, ekonomi, sosial dan budaya

BAB III. TINJAUAN TEORITIS TENTANG BKPRMI SEBAGAI WADAH PEMUDA REMAJA MASJID, PENDIDIKAN ISLAM DAN KENAKALAN REMAJA
A. Eksistensi BKPRMI
1. Eksistensi BKPRMI
2. Dasar yang melatar belakangi eksistensi BKPRMI dalam pembangunan pendidikan Islam
3. Urgensi eksistensi BKPRMI dalam pembangunan pendidikan Islam.
B. Tinjauan tentang Pendidikan Islam
1. Pengertian Pendidikan Islam
2. Dasar Pendidikan Islam
3. Tujuan Pendidikan Islam
C. Masalah Kenakalan Remaja
1. Pengertian Kenakalan Remaja
2. Aspek-aspek yang menyebabkan kenakalan remaja

BAB IV. HASIL PENELITIAN
B. Bentuk-bentuk Kenakalan Remaja di Desa Ujunge Kecamatan Tanasitolo Wajo
C. Manfaat dan Pengaruh Pendidikan Islam dalam mengantisipasi kenakalan remaja di Desa Ujunge Kecamatan Tanasitolo Wajo
D. Peranan organisasi remaja masjid dalam mengantisipasi kenakalan remaja di Desa Ujunge Kecamatan Tanasitolo Wajo

BAB V. PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Saran

DAFTAR PUSTAKA

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

Nurhawaisah

PERANAN ORGANISASI REMAJA MASJID DALAM MENGANTISIPASI KENAKALAN REMAJA DI DESA UJUNGE KECAMATAN
TANASITOLO KABUPATEN WAJO

Draf Skripsi diajukan untuk memenuhi kewajiban dan melengkapi
syarat guna memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Islam
Jurusan Pendidikan Agama Islam Sekolah Tinggi
Agama Islam As’adiyah (STAI) Sengkang

Oleh :

NURHAWAISAH
NIM.06.22.0046

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM
(STAI) AS’ADIYAH
SENGKANG
2010
DRAF SKRIPSI

I. IDENTITAS MAHASISWA :
N a m a : NURHAWAISAH
N P M : 06220046

ST/Jurusan : STAI As’adiyah Sengkang/Pendidikan Agama Islam

II. JUDUL : “Peranan organisasi remaja masjid dalam Mengantisipasi Kenakalan Remaja di Desa Ujunge Kecamatan Tanasitolo Kabupaten Wajo”

III. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Semakin meluasnya peredaran narkoba yang melibatkan generasi muda dalam masyarakat, semakin seringnya terjadi tawuran massal antar sekolah di berbagai kota, dan berbagai kasus pelanggaran serta kejahatan lain yang dilakukan oleh anak usia sekolah, merupakan indikator semakin meningkatnya kenakalan remaja, baik dilihat dari segi kualitas maupun kuantitas. Fenomena sosial ini telah mengundang keprihatinan berbagai pihak dan menyuarakan pentingnya peningkatan Pendidikan Agama Islam di sekolah.
Dengan demikian, diketahui bahwa menghadapi hidup mengalami perubahan multi dimensi seperti sekarang ini, diperlukan adanya kepribadian mapan dan mantap sehingga manusia tidak mudah terpengaruh oleh kondisi dan situasi yang bagaimanpun bentuknya. Kepribadian yang dimaksud penulis adalah kepribadian yang mencerminkan nilai-nilai keIslaman. Dengan kata lain, kepribadian tersebut dibentuk dan didorong oleh kekuatan keimanan.
Untuk menilai baik buruknya kepribadian seseorang atau mantap tidaknya kepribadian seseorang, akan tergambar dari sikap dan tingkah lakunya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain, kepribadian itu akan terbaca lewat sikap dan cara hidup seseorang dalam berinteraksi dengan sesama manusia dan lingkungan serta cara berhubungan dengan Allah swt,.
Sehubungan dengan hal tersebut, untuk mengatur tatanan kehidupan manusia dalam mencapai tujuan hidup yang mencerminkan nilai kepribadian yang Islami, Islam datang dengan ajaran yang dapat dijadikan sebagai pandangan hidup yang sempurna, khususnya dalam mengatur hubungan manusia dengan Allah swt, dengan sesamanya dan dengan lingkungannya, yang diperoleh melalui suatu usaha yang disebut dengan pendidikan agama Islam.
Dengan dasar itulah, penulis menganggap bahwa pendidikan agama Islam mempunyai peranan yang sangat penting dalam membentuk kepribadian muslim. Pembangunan pendidikan Islam adalah wajib dilaksanakan secara dini dan kontinyu sejak dalam lingkungan rumah tangga, karena diketahui bahwa ibadah sholat sebagai salah satu sasaran pendidikan Islam dan merupakan ibadah mahdah yang tidak boleh ditinggalkan apapun dan bagaimanapun keadaan seorang muslim yang mukallaf, kemudian dikatakan sah apabila dibacakan al Quran atau surat al Fatihah, sedangkan belajar membaca Al Quran dituntut ketekunan untuk mempelajarinya.
Untuk itu, Nabi Muhammad saw, bersabda dalam hadits yang diriwayatkan Imam Muslim dari Abu Hurairah RA, yang berbunyi :
عن أبي هريرة : لاَصَلاَةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأُ بِفَاتِحَةِاْلقُرْآن (رواه مسلم)
Artinya : Tidak sah salat seseorang yang tidak dibacakan padanya fatihatul kitab (al Fatihah).
Dengan demikian, pembangunan pendidikan Islam adalah wajib dilaksanakan dan diarahkan kepada anak-anak sekaligus merupakan kewajiban yang harus dilakukan oleh orangtua, karena kedua orangtua akan mempertanggung jawabkan dihadapan Allah swt, mengenai pemeliharan dan pengawasan serta bimbingan yang diberikan kepada anak atau anggota keluarganya, sebagaimana hadits Nabi Muhammad saw. yang diriwayatkan Imam Muslim dari Ibnu ‘Umar RA, yang berbunyi :
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَالأََمِيْرُ الَّذِي عَلَى النَّا سِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُوْلٌ عَنْهُمْ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتَ زَوْجِهَا وَوَا لِدِهِ وَهِيَ مَسْئُوْلَةٌ عَنْهُمْ
Artinya : Semua kamu adalah pemimpin dan kamu akan ditanya tentang kepimimpinanmu. Pemimpin itu adalah pengembala dan ia akan ditanya tentang gembalaannya, laki-laki itu adalah pengembala terhadap keluarganya dan ia akan ditanya tentang gembalaannya, perempuan atau ibu adalah pengembala dalam rumah tangga suaminya, dan ia akan ditanya tentang gembalaannya . . .
Oleh karena itu, jelas bahwa orang tua dan masyarakat pada umumnya adalah peletak dasar pertama pendidikan Islam bagi setiap anak, yaitu mengenai pembangunan pendidikan Islam yang kelak sebagai bekal menuju/menghadapi lingkungan sekolah dan masyarakat.
Undang-Undang Sispenas Nomor 20 Tahun 2003, disebutkan bahwa :
Pasal 8. Masyarakat berhak berperan serta dalam perencanaan, pelaksanaan, pengawasan dan evaluasi program pendidikan.
Pasal 9. Masyarakat berkewajiban memberikan dukungan sumber daya dalam penyelenggaraan pendidikan.

Oleh karena itu BKPRMI sebagai wadah remaja masjid sangat berperan dalam mengembangkan pendidikan Islam dalam kaitannya dengan upaya mengantisipasi kenakalan remaja.
Bertolak dari fenomena tersebut, penulis membahas skripsi yang berjudul “Peranan organisasi remaja masjid dalam mengantisipasi kenakalan remaja di Desa Ujunge Kecamatan Tanasitolo Kab. Wajo”
.
B. Rumusan Masalah

Bertitik tolak dari latar belakang masalah yang diuraikan di atas, maka penulis akan mengajukan problematika sebagai berikut:
1. Bagaimana gambaran kenakalan remaja di Desa Ujunge Kecamatan Tanasitolo Kabupaten Wajo ?
2. Bagaimana Peranan organisasi remaja masjid dalam mengantisipasi kenakalan remaja di Desa Ujunge Kecamatan Tanasitolo Kabupaten Wajo ?

C. Hipotesis
Adapun sebagai jawaban sementara terhadap permasalahan yang diajukan di atas, adalah:
1. Kenakalan remaja yang tampak di Desa Ujunge Kecamatan Tanasitolo Kabupaten Wajo adalah remaja selalu membuat kegaduhan, pencurian, dan minum khamr.
2. Peranan organisasi remaja masjid dalam mengantisipasi kenakalan remaja di Desa Ujunge Kecamatan Tanasitolo Wajo adalah sebagai pembaharu dalam arti bahwa remaja dapat mentransfer dan menjabarkan sikap mental yang terpuji termasuk sikap kreatif dalam kehidupannya, baik sebagai makhluk yang sosio individual maupun sebagai makhluk yang kulturil relegius.

D. Pengertian Judul
1. Pengertian Judul
Peranan, berarti “daya, kekuatan, andil dalam suatu kegiatan” . Peranan menunjukan adanya bagian yang diperankan dalam suatu kegiatan.
Organisasi, berarti “kelompok kerja sama antara orang-orang yang diadakan untuk mencapai tujuan bersama”
Remaja berarti “masa peralihan yang penuh kegoncangan, yang sangat membutuhkan bimbingan dari orangtua”. sedangkan masjid adalah “tempat sujud”
Remaja masjid adalah orang muda atau generasi muda yang secara psikologis mereka berada pada pertumbuhan dan perkembangan jiwa yang sedang menanjak menuju kedewasaannya. Remaja tersebut beraktivitas dalam kegiatan remaja masjid atau melibatkan diri dalam satu wadah berkomunikasi dengan rekan-rekan sebaya dan sekeyakinannya.
BKPRMI sebagai satu-satunya organisasi remaja masjid di Indonesia. BKPRMI, akronim dari “Badan Komunikasi Pemuda Remaja Mesjid Indonesia, yaitu wadah generasi muda Islam untuk menyalurkan bakat keagamaan dan memperluas wawasan keagamaan dalam satu ikatan iman dan taqwa kepada Allah swt”
Dengan demikian, Peranan organisasi remaja masjid adalah tugas yang diemban oleh suatu wadah atau kelompok dalam kegiatan dan proses bantuan kepada remaja yang dapat membentuk watak atau sikap dan prilaku hidup yang sesuai dengan ajaran agama Islam.
Mengantisipasi, berarti “membuat perhitungan (ramalan, dugaan) tentang hal-hal yang akan terjadi; memperhitungkan sebelum terjadi”
Kenakalan, berarti “tingkah laku secara ringan yang menyalahi norma yang berlaku di suatu masyarakat”
Jadi, mengantisipasi kenakalan remaja berarti upaya membentengi diri guna mangatasi dan menghalangi terjadinya kerusakan mental berupa perilaku yang menyalahi ajaran agama Islam.
Dengan gambaran istilah yang diuraikan tersebut, jelas bahwa secara operasional, penulis membahas dalam skripsi ini tentang eksistensi organisasi remaja masjid dalam mengemban tugas sebagai wadah pembinaan dan pembentukan anak usia remaja, sebagaimana pada masa tersebut, anak mengalami perubahan psikologi dan jasmani, sehingga dengan perubahan tersebut, remaja sangat mengharapkan bantuan pendidikan untuk mengarahkannya menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Allah swt., sehingga dapat mengatasi terjadi kondisi mental yang berlawanan dengan ajaran Islam.
Desa Ujunge merupakan lokasi penelitian, yaitu salah satu wilayah pemerintahan desa di antara beberapa desa/kelurahan dalam wilayah pemerintahan Kecamatan Tanasitolo Kabupaten Wajo

E. Tinjauan Pustaka
Sebagaimana diketahui bahwa masyarakat sekarang sedang menghadapi persoalan yang cukup mencemaskan, yaitu masalah moral, karena menyebabkan ketentraman batin terganggu, kecemasan dan kegelisahan terasa, terutama bagi mareka yang mempunyai anak/siswa dengan sikapnya yang menampakkan gejala kenakalan dan kekurang acuhan terhadap nilai moral yang dianjurkan oleh ajaran Islam, dekadensi moral tersebut, bukan saja terjadi di kota-kota besar, namun juga sudah terjadi di kota-kota kecil bahkan siswa di desapun sudah terkontaminasi dengan sikap tersebut.
Kenakalan remaja sebagai akibat dekadensi, atau “keruntuhan akhlak” maksudnya sikap mental yang tidak berkesusaian dengan ajaran Islam dan dijabarkan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga mendatangkan kerisauan dan kekacauan dalam masyarakat. Jadi, dapat dipahami bahwa pada hakikatnya kenakalan remaja sebagai akibat kerusakan atau dekadensi moral yaitu suatu situasai dan kondisi atau keadaan di dalam bermasyarakat, dimana tidak nampak lagi adanya kepentingan umum sebagai yang utama, melainkan kepentingan pribadi yang menonjol di tengah kehidupan masyarakat, sehingga dengan sendirinya, kejujuran, kebenaran, keadilan dan keberanian telah tertutup oleh penyelewengan-penyelewengan baik yang terlihat ringan maupun yang berat, dimana-mana terjadi adu domba, hasud, fitnah, menjilat, menipu, berdusta, mengambil hak orang lain, serta perbuatan-perbuatan maksiat lainnya. Sikap mental tersebut adalah sangat tercelah dan dilarang oleh Agama Islam. Untuk itu, salah satu di antara beberapa ayat al Quran yang melarang perbuatan tersebut, adalah firman Allah dalam surat al Hujurat ayat 12, yang berbunyi :
يآ أ يُّهَا ا لَّذِ يْنَ آ مَنُو ا ا جْتَنِبُو ا كَثِيْرً ا مِّنَ ا لظَّنِّ اِ نَّ بَعْدَ ا لظَّنِّ اِ ثْمٌ وَّ لاَ يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَ يُحِبُّ اَحَدَ كُمْ اَ نْ يَاْ كُلَ لَحْمَ اَ خِيْهِ مَيْتًا فَكَرِ هْتُمُوْهُ وَا لتَّقُو ا ا للَّهَ اِ نَّ ا لله تَوَّا بٌ رَّحِيْمِ
Terjemahnya :
Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah maha penerima taubat lagi maha penyayang.

Ayat tersebut menunjukkan adanya larangan untuk mengekspresikan sikap mental yang tercelah seperti buruk sangka, mencari kejelekan orang lain, serta menggunjing atau mengumpat, karena hal tersebut merupakan salah satu pelanggaran yang mengakibatkan rusaknya hubungan antara sesama manusia, sehingga menimbulkan kerisauan dan kekacauan dalam kehidupan bermasyarakat.
Zakiah Darajat mengemukakan faktor-faktor penyebab dari kenakalan remaja, yang terpenting adalah :
1. Kurang tertanamnya jiwa agama pada tiap-tiap orang dalam masyarakat.
2. Keadaan masyarakat yang kurang stabil, baik dari segi ekonomi, sosial, dan politik.
3. Pendidikan moral tidak terlaksana menurut mestinya, baik di rumah tangga, sekolah maupun mjasyarakat.
4. Suasana rumah tangga yang kurang baik.
F. Metode Penelitian
1. Variabel dan Desain Penelitian
Variabel penelitian ini terdiri dari (1) peranan pendidikan Islam dalam mengantisipasi kenakalan remaja, dan (2) gambaran kenakalan remaja di Desa Ujunge Kecamatan Tanasitolo Kabupaten Wajo.
Peranan pendidikan Islam adalah sebagai peletak dasar kepercayaan diri bagi setiap remaja sehingga mereka beraktivitas sesuai dengan ketentuan ajaran Islam, Artinya bahwa aktivitas mereka tidak bertentangan dan tidak melanggar aturan agama dan aturan masyarakat. Dengan kata lain bahwa remaja senantiasa mendapat bimbingan untuk melakukan suatu perbuatan yang mempunyai nilai ibadah. Dengan demikian, pendidikan Islam menangkal terjadinya prilaku kejahatan atau pelanggaran yang mengganggu ketenangan masyarakat
Selanjutnya dalam penelitian digunakan desain penelitian deskriptif kualitatif, yaitu rencana dan struktur penyelidikan untuk memperoleh jawaban atas pertanyaan penelitian berupa data deskriptif yang diperoleh dari hasil interview dan kuesioner. Studi ini dilaksanakan guna mempelajari secara mendalam mengenai peranan pendidikan Islam dalam mengantisipasi kenakalan remaja di Desa Ujunge Kecamatan Tanasitolo Kabupaten Wajo.
2. Populasi dan Sampel
1. Populasi.
Populasi berarti obyek penelitian mencakup semua elemen yang terdapat dalam wilayah penelitian atau meliputi “semua individu yang menjadi sumber pengambilan sampel” Sudjana memberikan pengertian tentang populasi, Populasi adalah totalitas semua nilai yang mungkin hasil menghitung atau pengurangan, kuantitatif daripada karakteristik tertentu mengenai sekumpulan objek yang lengkap dan jelas yang ingin dipelajari sifat-sifatnya.
Pengertian lain yang dikemukakan oleh Sutrisno Hadi, bahwa populasi adalah: Seluruh penduduk yang dimaksud untuk diselidiki disebut populasi atau universum. Populasi dibatasi sebagai sejumlah penduduk atau individu yang paling sedikit mempunyai satu sifat yang sama.
Dengan demikian dapat dikemukakan suatu simpulan, bahwa yang dimaksud populasi adalah sekumpulan objek yang mempunyai karakteristik yang sama.
Sehubungan dengan hal tersebut, maka yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah seluruh warga masyarakat Desa Ujunge Kecamatan Tanasitolo Kabupaten Wajo, yang berjumlah 2733 orang, tersebar pada 2 dusun.
2. Sampel.
Sebagaimana lazimnya dalam suatu penelitian ilmiah tidak semua populasi harus diteliti tetapi dapat dilakukan terhadap sebagian saja dari populasi tersebut. Hal ini didasarkan atas pertimbangan keterbatasan kemampuan, biaya, tenaga, dan sebagainya sehingga penelitian ini dilakukan bukan terhadap populasi tetapi dilakukan terhadap sampel. Sampel yang diambil harus mencerminkan keadaan umum populasi, atau dengan kata lain sampel itu harus representatif dalam arti segala karakteristik populasi hendaknya tercermin pula dalam sampel yang diambil.
Sumanto mengemukakan bahwa sampel adalah “proses pemilihan individu, sehingga merupakan perwakilan kelompok yang lebih besar” Sedangkan Nana Sudjana mengemukakan tentang jumlah sampel penelitian bahwa: Mengenai besarnya sampel tidak ada ketentuan yang baku atau rujukan yang pasti. Sebab keabsahan dari populasi terletak dari sifat dan karakteristiknya mendekati populasi atau tidak, bukan besar atau banyaknya . . . Artinya bahwa sampel yang dipilih mencerminkan karakteristik populasi.
Berdasarkan pertimbangan waktu dan tenaga serta biaya, maka sampel yang diambil untuk penelitian ini, yaitu sebanyak 90 orang, yang dilakukan dengan terlebih dahulu menggunakan teknik cluster sampling, yaitu Desa Ujunge Kecamatan Tanasitolo Kabupaten Wajo dibagi tiga wilayah, yaitu wilayah Selatan, wilayah Tengah, dan wilayah Utara, kemudian masing-masing wilayah diwakili 30 orang melalui teknik random sampling.

3. Teknik Pengumpulan Data
Dalam mengumpulkan data yang dibutuhkan untuk menyusun skripsi ini, penulis telah menggunakan beberapa metode, seperti:

1. Penelitian Kepustakaan
Suatu metode penelitian dengan cara membaca dan menelaah buku-buku perpustakaan serta majalah yang ada dan erat hubungannya dengan permasalahan yang dibahas dalam skripsi ini.
Dalam penelitian kepustakaan tersebut, penulis menempu dua cara, yaitu:
a. Kutipan langsung.
Penulis mengutip isi buku dan majalah yang dibaca tersebut dengan tidak merubah sifat dan redaksi aslinya sedikitpun.
b. Kutipan tidak langsung.
Penulis mengutip isi buku dan majalah yang dibaca tersebut, dengan membuat catatan yang jauh lebih pendek dari tulisan aslinya, namun tidak merubah tujuan dan sifat bahan aslinya.
2. Penelitian Lapangan
Penulis terjun dilapangan untuk mengadakan penelitian dan penyelidikan terhadap suatu pokok masalah yang ada dan erat hubungannya dengan problematika yang dibahas dalam skripsi ini.
Adapun metode yang dipergunakan untuk memperoleh data di lapangan adalah:
a. Interview.
Penulis mengadakan wawancara dengan Kepala Kantor Urusan Agama dan Kepala Dikpora Kecamatan Tanasitolo Kabupaten Wajo, serta mewawancarai beberapa orang tokoh agama, tokoh pendidik, dan tokoh masyarakat untuk memperoleh data tentang manfaat dan pengaruh pendidikan Islam dalam pembentukan kreatifitas remaja.
b. Observasi.
Metode penelitian dengan cara mengamati sejauhmana peranan dan pembentukan kreatifitas remaja di Desa Ujunge Kecamatan Tanasitolo Kabupaten Wajo .
c. Dokumentasi.
Penulis mengumpulkan data dari dokumen atau catatan-catatan yang ada dilokasi penelitian kemudian dikutip dalam bentuk tabel.
4. Teknik Pengolahan dan Analisis Data
Dalam mengolah data yang terkumpul, penulis menempuh cara kualitatif, yaitu penulis hanya menitik beratkan pembahasan skripsi pada segi-segi nilai kemudian disusun atau dikumpul secara baik dan teratur lalu dianalisa.
Adapun metode yang digunakan dalam menganalisa data yang terkumpul tersebut, adalah:
1. Induktif.
Suatu cara berfikir dengan memecahkan persoalan yang bertitik tolak dari pengalaman atau pengetahuan yang khusus dan fakta-fakta tertentu, yang kemudian penulis mengemukakan suatu kesimpulan yang bersifat umum.
2. Deduktif.
Suatu cara berfikir dengan memecahkan persoalan yang bertolak dari hal dasar serta kaedah-kaedah umum, kemudian menganalisis atau menjabarkannya ke hal-hal yang khusus.
3. Komparatif.
Suatu cara berfikir dengan menganalisis data dan mengambil kesimpulan dengan terlebih dahulu membandingkan antara beberapa pendapat atau beberapa data yang ada.

G. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
Untuk menguraikan masalah tersebut, penulis terlebih dahulu membahas tujuan penelitian kemudian kegunaannya.
1. Tujuan Penelitian.
Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini, adalah untuk:
a. Untuk mengetahui Peranan organisasi remaja masjid dalam mengantisipasi kenakalan remaja di Desa Ujunge Kecamatan Tanasitolo Wajo.
b. Untuk mendeskripsikan bentuk kenakalan remaja di Desa Ujunge Kecamatan Tanasitolo Kabupaten Wajo.
2. Kegunaan Penelitian.
Kegunaan penelitian yang dilakukan oleh penulis tersebut, adalah :
a. Kegunaan ilmiah yang berkaitan dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Perkembangan ilmu pengetahuan di era sekarang ini, menuntut adanya usaha mengatasi kenakalan remaja melalui pemberdayaan pendidikan Islam.
b. Kegunaan praktis yang berkaitan dengan pembangunan masyarakat, bangsa dan negara serta agama. Bahwa dengan pembahasan tentang upaya mengantisipasi kenakalan remaja, maka diharapkan setiap anak memiliki sikap mental yang terpuji sebagaimana yang dikehendaki ajaran Islam.
H. Sistematika Pembahasan
Sebelum penulis lebh jauh membahas judul skripsi ini, terebih dahulu diuraikan sistematika pembahasan sebagai berikut:
Bab pertama, pendahuluan meliputi subbahasan latar belakang masalah sebagai alasan memilih judul yang melahirkan rumusan masalah, lalu diajukan hipotesis sebagai jawaban sementara terhadap permasalahan yang telah diajukan. Pengertian judul, tinjauan pustaka serta metode yang dipergunakan dalam meneliti dan tujuan maupun kegunaan penelitian serta sistematika pembahasan.
Bab kedua, deskripsi lokasi lokasi penelitian meliputi subbahasan gambaran umum Desa Ujunge Kecamatan Tanasitolo, keadaan demografis, serta keadaan agama, ekonomi, sosial dan budaya masyarakat Desa Ujunge Kecamatan Tanasitolo.
Bab ketiga, adalah tinjauan pustaka tentang eksistensi BKPRMI sebagai wadah pemuda remaja masjid, yang meliputi pengertian dan eksistensi BKPRMI, dasar yang melatar belakangi eksistensi BKPRMI dalam pembangunan pendidikan, urgensi eksistensi BKPRMI dalam pembangunan pendidikan. Masalah kenakalan remaja meliputi sub bahasan pengertian kenakalan remaja dan aspek-aspek yang menyebabkan kenakalan remaja.
Bab keempat, adalah hasil penelitian dan pembahasan meliputi sub bahasan bentuk-bentuk kenakalan remaja di Desa Ujunge Kecamatan Tanasitolo Wajo, Manfaat dan pengaruh pendidikan Islam dalam mengantisipasi kenakalan remaja di Desa Ujunge Kecamatan Tanasitolo dan peranan organisasi remaja masjid dalam mengantisipasi kenakalan remaja di Desa Ujunge Kecamatan Tanasitolo Kab.Wajo.
Bab kelima adalah bab penutup yang terdiri dari simpulan dan saran-saran.
DAFTAR PUSTAKA
Alquranul Kariem

Ahmadi, Abu. Metodik Khusus Pendidikan Agama, Bandunga: Armico, 2006

Anshari, Endang Saifullah. Kuliah Islam, Bandung: Pustaka, 2007

Arifin, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 2004

Attas, S.Muhammad al Naquib al Attas, Konsep Pendidikan dalam Islam, Bandung: Mizan, 2004

Darajat, Zakiah. Ilmu Jiwa Agama, Jakarta: Bulan Bintang, 2009

_______. Pembinaan Remaja, Jakarta: Bulan Bintang, 2002

_______. Peranan Agama dalam Kesehatan Mental, Jakarta: Gunung Agung, 2000

Departemen Agama RI, al Quran dan Terjemahnya, Jakarta: Proyek Pengadaan Kitab suci al Quran, 2003

_______. Psikologi Jilid I B, Cet. I Jakarta: Proyek Peningkatan Mutu Pendidikan Guru Agama, 2006

Depdikbud RI, Ki Hajar Dewantara, Jakarta: Proyek Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa, 2005

Idris, Zahara. Dasar-Dasar Kependidikan, Padang: Angkasa Raya, t.th

Indrakusuma, Amir Daien. Pengantar Ilmu Pendidikan, Surabaya: Usaha Nasional, t.th

Ja’far, M. Beberapa Aspek Pendidikan Islam, Surabaya, Al-Ikhlas, 2001

Marimba, Ahmad D. Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, Bandung: al Ma’arif, 2000

Natsir, M. Kapita Selekta Pendidikan, Jakarta: Bulan Bintang, 2003

Qasyimi, Jamaluddin al. Muidzat al Mukminien, diterjemahkan oleh: Mohd Abdai Ratomy, dengan judul: “Bimbingan Untuk Mencapai Tingkat Mukmin”, Bandung: Deponegoro, 2005

Saifullah, Ali. Antara Filsafat dan Pendidikan, Surabaya: Usaha Nasional, t.th

Shiddieqy, Hasbi as. Sejarah dan Pengantar Ilmu hadits, Jakarta: Bulan Bintang, 2007

_______. al Islam, Jilid II, Jakarta: Bulan Bintang, 2007

Sidi Gazalba, Azas agama Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 2005

Soekarno, Sejarah dan Filsafat Pendidikan Islam, Bandung: Angkasa, 2000

Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, Cet. XVIII Jakarta: PT. Grafindo Persada, 2004

Suryabrata, Sumadi. Psikologi Kepribadian, Jakarta: CV Rajawali, 2005

Syaibani, Omar Mohammad al Toumi al. Falsafatut Tarbiyyah al Islamiyyah, diterjemahkan oleh: Hasan Langgulung, dengan judul: “Falsafah Pendidikan Islam” Jakarta: Bulan Bintang, 2009

Syalabi, Ahmad. Tarikh at Tarbiyyah Al Islamiyyah, diterjemahkan oleh: Muchtar yahya, dengan judul: “Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 2003

Undang-Undang Republik Indonesia, Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, Jakarta: Tp, t.th

Urgensi Pelaksanaan Pendidikan Agama Dalam Penanggulangaan kenakalan Remaja, “Warta Alauddin”, No. 62/XI, Maret, 2002

Witherington, H.Carl. Educational Psychologi, diterjemahkan oleh: M. Buchary, dengan judul: “Psikologi Pendidikan”, Jilid I, Bandung: Jemmars, 2006

Wulyo, Kamus Psikologi, Surabaya: Bintang Pelajar, t.th

Zahrimini, H. Metodikm Khusus Pendidikan Agama, Cet. VIII Surabaya: Usaha Nasional, 2003
Muhammad bin Ismail Abu Abdullah al Bukhary al Ju’fy, Shohih Bukhary, Juz 1 Beirut : Dar Ibn Katsir al Yamamah, 2007
Muslim bin al Hujjaj Abu al Husain al Qusyairy al Naisabury, Shihih Muslim, Juz 1 Beirut : Dar Ihya al Turats al Araby, t.th

KOMPOSISI BAB
BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
B. Rumusan Masalah
C. Hipotesis
D. Pengertian Judul
E. Tinjauan Pustaka
F. Metode Penelitian
G. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
H. Sistematika Pembahasan.
BAB II. DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN
A. Selayang Pandang Desa Ujunge Kecamatan Tanasitolo Kecamatan Tanasitolo Kab. Wajo
B. Keadaan demografis, pendidikan, ekonomi, sosial dan budaya

BAB III. TINJAUAN TEORITIS TENTANG BKPRMI SEBAGAI WADAH PEMUDA REMAJA MASJID, PENDIDIKAN ISLAM DAN KENAKALAN REMAJA
A. Eksistensi BKPRMI
1. Eksistensi BKPRMI
2. Dasar yang melatar belakangi eksistensi BKPRMI dalam pembangunan pendidikan Islam
3. Urgensi eksistensi BKPRMI dalam pembangunan pendidikan Islam.
B. Tinjauan tentang Pendidikan Islam
1. Pengertian Pendidikan Islam
2. Dasar Pendidikan Islam
3. Tujuan Pendidikan Islam
C. Masalah Kenakalan Remaja
1. Pengertian Kenakalan Remaja
2. Aspek-aspek yang menyebabkan kenakalan remaja

BAB IV. HASIL PENELITIAN
B. Bentuk-bentuk Kenakalan Remaja di Desa Ujunge Kecamatan Tanasitolo Wajo
C. Manfaat dan Pengaruh Pendidikan Islam dalam mengantisipasi kenakalan remaja di Desa Ujunge Kecamatan Tanasitolo Wajo
D. Peranan organisasi remaja masjid dalam mengantisipasi kenakalan remaja di Desa Ujunge Kecamatan Tanasitolo Wajo

BAB V. PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Saran

DAFTAR PUSTAKA

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

Darmawati Lahirnya Filsafat Islam

LAHIRNYA FILSAFAT ISLAM

Disampaikan dalam Seminar Kelas Mata Kuliah Sejarah

Perkembangan Pemikiran dalam Islam Semester 2

Oleh :

DARMAWATI

NIM. : ……03.24.2009

Dosen Pembimbing:

Dr. H. M. Arfah Shiddiq, MA

Dr. H. M. Arif Halim, MA

PROGRAM PASCASARJANA

UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

MAKASSAR

2010

LAHIRNYA FILSAFAT ISLAM

Oleh: Darmawati

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Dalam sejarah pemikiran Islam, filsafat digunakan dalam berbagai kepentingan. Para teolog rasional (mutakallimûn) menggunakan filsafat untuk membela iman khususnya dari para cendekiawan Yahudi dan Kristiani, yang saat itu sudah lebih maju secara intelektual. Sedangkan para filosof mencoba membuktikan bahwa kesimpulan-kesimpul an filsafat yang diambil dari gagasan filsafat Yunani tidak bertentangan dengan iman.[1] Para filosof berusaha memadukan ketegangan antara dasar-dasar keagamaan Islam (Syari’ah) dengan filsafat, atau antara akal dengan wahyu.

Sebagaimana tertera pada berbagai literatur bahwa filsafat yang berkembang dalam dunia Islam merupakan warisan dari filsafat Yunani. Para filosof Muslim banyak mengambil pemikiran Aristoteles, Plato, maupun Plotinus, sehingga banyak teori-teori filosof Yunani diambil oleh filosof Muslim.[2]

Pengaruh filsafat Yunani inilah yang menjadi pangkal kontrafersi sekitar masalah filsafat dalam Islam. Sejauh mana Islam mengizinkan masukan dari luar, khususnya jika datang dari kalangan yang bukan saja Ahl al-kitab seperti Yahudi dan Kristen, tetapi juga dari orang-orang Yunani yang “pagan” atau musyrik (penyembah bintang). Inilah yang membuat Ibn Taymiyyah dan Jalal al-Din al-Suyuthi menunjuk kemusyrikan orang-orang Yahudi sebagai alasan keberatan mereka kepada filsafat.[3]

Harus ditegaskan bahwa para filosof Muslim secara umum hidup dalam suasana dan lingkungan yang berbeda dengan filosof-filosof lain, dengan demikian pengaruh lingkungan agama terhadap jalan pikiran filosof Muslim tidak bisa terabaikan, sehingga dunia Islam berhasil membentuk filsafat yang sesuai dengan prinsip-prinsip agama dan keadaan masyarakat Islam itu sendiri.[4]

Perkembangan filsafat dalam Islam juga merupakan buah dari dorongan ajaran al-Qur’an dan hadis, sehingga nuansa berfilsafat para filosof Muslim sangat bermuatan religius, namun tetap tidak mengabaikan masalah kefilsafatan. Kedudukan akal yang tinggi dalam kedua sumber ajaran Islam tersebut bertemu dengan peranan akal yang besar dan ilmu pengetahuan yang berkembang maju dalam peradaban umat lain.[5]

Dengan demikian filsafat Islam dalam perkembangannya menjadi lebih mandiri dalam berfikir tentang sesuatu, ia dapat berkembang dengan subur, memiliki ciri khas dan tidak bertentangan dengan ajaran-ajara pokok Islam, walaupun secara umum disadari pula bahwa kebanyakan obyek pembahasannya sama, yaitu soal Tuhan, manusia (mikro kosmos), dan alam (makro kosmos).

B. Rumusan Masalah

Dari latar belakang di atas, penulis membahas makalah ini dengan fokus utama adalah bagaimana latar belakang timbulnya pemikiran filosofis dalam Islam?

II. PEMBAHASAN/TIMBULNYA PEMIKIRAN FILOSOFIS DALAM ISLAM

Pembahasan tentang filsafat adalah pembahasan yang identik dengan polemik, debat dan kritik. Banyak kalangan yang menuduh kajian filsafat sebagai sesuatu yang tiada guna. Belajar filsafat pun sering diibaratkan seperti mencari kucing hitam di dalam ruangan yang gelap,[6] bahkan tidak sedikit yang menyebut kajian filsafat dalam Islam identik dengan kekufuran.

Memang kajian filsafat dalam Islam tidak lepas dari polemik, terutama jika pembahasannya terkait dengan masalah Ketuhanan, kenabian dan alam akhirat. Imam al-Ghazali misalnya, telah menulis sebuah buku yang berjudul Tahafut al Falasifah dan al Munqidh min al Dalal yang isinya adalah kritik terhadap pemikiran beberapa filosuf muslim atas beberapa masalah yang dianggap telah menyesatkan umat Islam.[7]

Tuduhan negatif yang diarahkan kepada filsafat juga dirasakan oleh Muhammad ‘Abduh, di mana ketika hendak melanjutkan studinya di Universitas al-Azhar Kairo pada jurusan filsafat, ia mendapat teguran dari orang tuanya dan menasehatinya agar mengurungkan niatnya belajar filsafat.[8] Padahal, sebagaimana dikemukakan oleh Abu Hayyan al-Tawhidi, berfilsafat adalah salah satu bentuk dari pemanfa’atan nikmat Allah yang berupa akal sesuai dengan fungsinya,[9] di mana akal oleh al-Tawhidi diibaratkan sebagai cahaya bagi kehidupan manusia, sehingga dengan menggunakan akal untuk berpikir, manusia menjadi lebih mulia dari binatang.[10]

Ahmad Amin dalam Mabadi’ al Falsafah mengatakan bahwa semua manusia di dunia ini tanpa terkecuali sedang berfilsafat. Alasannya, semua manusia di dunia ini pasti berpikir, dari mulai yang sederhana hingga pada masalah yang mendalam, karena berpikir adalah bagian dari kehidupan manusia. Berpikir adalah arti sederhana dari berfilsafat, sehingga seseorang yang menolak filsafat dengan berbagai macam argumentasinya, sesungguhnya tanpa disadari ia sendiri telah berfilsafat.[11]

Memang filsafat dalam Islam lahir dari spekulasi filosofis tentang warisan filsafat Yunani yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab pada sekitar abad ke-3 H atau abad ke-9 M ketika puncuk kekuasaan khilafah dalam Islam dipegang oleh al-Ma’mun.[12] Akan tetapi terdapat perbedaan di antara keduanya, di mana filsafat Islam menjadikan al-Qur’an dan hadith atau wahyu sebagai sumber sentral bagi spekulasi filosofisnya, sementara filsafat Yunani menjadikan akal sebagai sumber tunggal bagi spekulasi filosofisnya.[13] Maka inti daripada kajian filsafat dalam Islam sebenarnya adalah mengantarkan umat Islam untuk memahami keberadaan Tuhan, sehingga bisa menjadi semakin dekat dengan Allah bukan sebaliknya. Maka dalam filsafat Islam ditemukan sebuah kajian yang bertujuan untuk mengajak manusia agar selalu dekat dengan Allah. Kajian itu biasa disebut dengan tasawuf.

Bagi orang Arab, filsafat merupakan pengetahuan tentang kebenaran, selama bisa dipahami oleh pemikiran manusia. Nuansa filsafat mereka berakar dari tradisi filsafat Yunani yang dimodifikasi dan disesuaikan dengan nilai-nilai Islam.[14]

Harus ditegaskan bahwa sumber dan pangkal tolak filsafat dalam Islam adalah ajaran Islam sendiri sebagaimana terdapat dalam al-Qur’an dan Sunnah nabi. Meskipun filsafat memiliki dasar yang kokoh dalam sumber ajaran Islam, namun ia banyak mengandung unsur Hellenisme atau alam pemikiran Yunani.[15]

Filsafat dalam Islam lebih jauh muncul sebagai hasil interkasi intelektual antara bangsa Arab Muslim dengan bangsa-bangsa di sekitarnnya, terutama dengan bangsa-bangsa disebelah utara Jazirah Arab, yakni, Syria, Mesir dan Persia. Interkasi ini terjadi setelah adanya penaklukan (pembebasan/al-futuhat) terhadap daerah-daerah tersebut.[16] Persentuhan antara dunia Islam dengan budaya Yunani bermula ketika bangsa Arab Muslim bergerak menaklukan daerah Bulan Sabit Subur. Khazanah intelektual Yunani yang didapatkan merupakan harta yang tak ternilai harganya. Berkat politik keagamaan penguasa Mulsim berdasarkan konsep toleransi keIslamannya, umat Islam menyimpan rasa dekat atau afinitas tertentu terhadap daerah-daerah yang mereka kuasai, yang melahirkan sikap toleran, simpatik dan akomodatif terhadap mereka dan pikiran-pikiran mereka. Toleransi dan keterbukaan orang-orang Islam tersebut mendasari adanya interaksi intelektual yang positif diantara mereka.

Memang kenyataannya bahwa ketika melakukan penaklukan, orang-orang Arab Muslim ketika itu belum memiliki tradisi belajar yang dapat diwariskan kepada negeri-negeri setelah dikuasai, sehingga mereka lebih banyak menjadi murid dari orang-orang yang mereka kuasai sendiri. Bahkan menurut Philip Hitti, orang-orang Arab Muslim tersebut tercatat sebagai orang yang sangat rakus akan ilmu.[17] Motifasi mendapat ilmu tersebut merupakan bagian dari proses interaksi yang terjalin antara Muslim Arab dengan daerah-daerah taklukannya.

Gerakan Penerjemahan

Hasil dari interaksi antara bangsa Arab Muslim dengan daerah-daerah yang ditaklukan itu adalah seperti yang dikatakan Halkin berikut ini:

… Adalah jasa orang-orang Arab bahwa sekalipun mereka itu para pemenang secara militer dan politik, mereka tidak memandang peradaban negeri-negeri yang mereka taklukan dengan sikap menghina. Kekayaan budaya-budaya Syria, Persia, dan Hindu mereka salin ke bahasa Arab segera setelah diketemukan. Para khalifah, gubernur, dan tokoh-tokoh yang lain menyantuni para sarjana yang melakukan tugas penerjemahan, sehingga kumpulan ilmu yang bukan-Islam yang luas dapat diperoleh dalam bahasa Arab….[18]

Namun sebelum proses terjemahan berbagai literatur kedalam bahasa Arab dilakukan, diperbatasan Persia kajian ilmiah tentang tata bahasa Arab telah dimulai terutama oleh para muallaf[19], hal ini dapat dimaklumi untuk memenuhi kebutuhan bahasa para pemeluk Islam baru agar dapat berinterkasi dengan para penakluk dan penguasa Islam yang memang saat itu telah menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa Nasionalnya. Kajian tata bahasa Arab juga menjadi sebuah kenicayaan untuk mempelajari dan memahami al-Qur’an yang notabenenya berbahasa Arab.

Faktor lain yang sekaligus menjadi faktor utama bagi timbulnya gerakan pemikiran filsafat dalam Islam adalah membanjirnya proses terjemahan berbagai literatur kedalam bahasa Arab. Diantara literatur yang diterjemahkan tersebut adalah buku-buku India, Iran, dan buku Suriani-Ibrani, terutama sekali buku-buku Yunani.[20] Pada pusat-pusat kebudayaan seperti Syria, Mesir, Persia, juga Mesopotamia, pemikiran filsafat Yunani diketemukan oleh kaum Muslimin. Namun kota Baghdad yang menjadi pusat kekuasaan dinasti Abbasiyah menjadi jalur utama masuknya filsafat Yunani kedalam Islam, dan disinilah timbul gerakan penerjemahan buku-buku Yunani kedalam bahasa Arab.[21]

Penerjemahan literatur kedalam bahasa Arab sebenarnya telah dilakukan semenjak dinasti Umayyah yang disponsori oleh Khalid Ibn Yazid dan Umar Ibn Abd. Aziz, namun kegiatan itu hanya untuk kepentingan yang sangat terbatas, yakni yang berhubungan langsung dengan kehidupan praktis, seperti buku-buku kimia dan kedokteran.[22]

Barulah setelah kekhalifaan beralih ke dinasti Abbasiyyah, tepatnya pada khalifah kedua Abasiyyah al-Mansur (754-775 M), proses penerjemahan semakin berkembang dengan pesat. Kegiatan penerjemahan pada masa al-Mansur tersebut seperti ditulis Ahmad Daudy berikut ini:

Khalifah al-Mansur, khalifah Abbasiyyah kedua, adalah seorang khalifah yang sangat mencintai ilmu pengetahuan, terutama ilmu bintang, sehingga ia menyuruh Muhammad ibn Ibrahim al-Fazazi (ahli ilmu falak pertama dalam Islam) untuk menerjemahkan Sindahind, buku ilmu falak dari India, kedalam bahasa Arab. Juga beberapa buku lain tentang ilmu hitung dan angka-angka India disuruh salin ke dalam bahasa ini. Dari bahasa Persia diterjemahkan kitab Kalilah wa Dimnah yang terkenal itu, dan juga buku-buku yang berasal dari Yunani diterjemahkan kedalam bahasa Suryani….[23]

Pasca al-Mansur, aktifitas penerjemahan ini kemudian dilanjutkan oleh penerusnya yaitu Harun al-Rasyid (786-809 M) dan mencapai puncaknya pada masa khalifah al-Ma’mun (813-833 M). Bahkan dikatakan bahwa titik paling klimas dari pengaruh logika berfikir Yunani kedalam dunia pemikiran Islam terjadi pada masa khalifah al-Ma’mun. seperti di katakana Philip Hitti berikut ini;

Titik tertinggi pengaruh Yunani terjadi pada masa al-Ma’mun. kecederungan rasionalistik khalifah dan para pendukungnya dari kelompok Muktazilah, yang menyatakan bahwa teks-teks keagamaan harus bersesuaian dengan nalar manusia, mendorongnya untuk mencari pembenaran bagi pendapatnya itu dalam karya-karya filsafat Yunani…. Sejalan dengan kebijakan yang ia ambil, pada 830 di Baghdad al-Ma’mun membangun Bayt al-Hikmah (rumah kebijaksanaan), sebuah perpustakan, akademi, sekaligus biro penerjemahan, yang dalam berbagai hal merupakan lembaga pendidikan paling penting sejak berdirinya musium Iskandariyah pada paruh pertama abad ke-3 S.M. Dimulai pada masa al-Ma’mun, dan berlanjut pada masa penerusnya, aktivitas intelektual berpusat di akdemi yang baru didirikan itu….[24]

Demikianlah pada masa al-Ma’mun yang dikenal dengan masa keemasan bagi kegiatan penerjemahan, meskipun hal itu bersifat intrinsik berkaitan dengan kepribadiannya yang antusias kepada ilmu pengetahuan, namun membawa dampak positif yang sangat luas dalam pengembangan intelektual di dunia Islam secara umum. Akademi Bayt al-Hikmah yang dibangun tidak hanya menjadi pusat kegiatan penerjemahan, tetapi juga menjadi pusat pengembangan filsafat, sains dan ilmu-ilmu lainnya.

Setelah khalifah al-Ma’mun, kegiatan penerjemahan terus dilakukan, namun tidak lagi menjadi urusan khalifah, tetapi lebih menjadi usaha pribadi oleh orang-orang yang gemar dalam hal ilmu pengetahuan. Menjelang abad kesepuluh, kegiatan penerjemahan semakin matang, bahkan naskah-naskah yang diterjemahkan itu telah diberikan beberapa catatan dan komentar.[25]

Berkat adanya usaha-usaha penerjemahan tersebut, umat Islam telah mampu mewarisi tradisi intelektual dari tiga jenis kebudayaan yang sangat maju, yakni Yunani, Persia, dan India. Warisan intelektual tersebut dimanfaatkan dalam membangun suatu kebudayaan ilmu pengetahuan yang lebih maju, seperti yang kelihatan dalam berbagai bidang ilmu dan mazhab filsafat pemikiran Islam.

Membanjirnya berbagai kegiatan penerjemahan pada abad ke-9 tersebut, menunjukkan bahwa pada waktu itu sudah terdapat masyarakat pembaca Arab yang sangat aktif.[26] Fermentasi intelektual masyarakat Islam itu didorong oleh kebutuhan untuk melengkapi Islam dengan perangkat intelektual yang sudah dimiliki oleh agama-agama non-Muslim sebelumnya. Para intlektual Islam tidak hanya menguasai filsafat dan sains tapi juga mampu mengembangkan dan menambahkan hasil observasi mereka kedalam sains, dan lapangan filsafat.

Dengan semakin meluasnya kegiatan ilmiah, pengetahuan semakin maju dan berkembang, mentalitas ilmu semakin terbina dan metode pemikiran semakin terbentuk. Ini semua terecermin dalam kebudayaan intelektual yang lahir sebagai hasil usaha umat Islam dalam suatu kesatuan sinkritis yang dikemudian hari (baca; zaman sekarang) disebut dengan “falsafah atau filsafat Islam”.

III. PENUTUP/KESIMPULAN

Lahir dan berkembangnya pemikiran filosofis dalam Islam merupakan sebuah realitas historis yang niscaya karena adanya interaksi yang terbangun antar bangsa Arab Muslim dengan daerah-daerah yang ditaklukan (bangsa non-Muslim), yakni bangsa Persia, India dan terutama sekali adalah bangsa Yunani, sehingga filsafat Islam dikatakan banyak mengandung unsur Hellenisme. Hasil dari proses interaksi itulah kemudian melahirkan semangat intelektual untuk melakukan penerjemahan terhadap berbagai karya-karya; baik Yunani, Persia, maupun India kedalam bahasa Arab. Gerakan penerjemahan berkembang pesat karena mendapat dukungan penguasa (khalifah). Dari hasil penerjemahan tersebut, lahirlah pemikiran-pemikiran filosofis dalam Islam. Dalam pengembangan selanjutnya pemikiran-pemikiran para filosof non-Muslim itu dikembangkan sesuai dengan akidah dan ajaran-ajaran Islam, agar tidak bertentangan.

DAFTAR PUSTAKA

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar